Hustle Culture vs. Quiet Quitting: Apakah Ambisi Sudah Tidak Keren Lagi di Mata Gen Z?
Admin WGM - Sunday, 08 February 2026 | 11:05 PM


Dulu, pulang kantor paling malam atau bekerja di hari libur sering dianggap sebagai simbol kesuksesan dan dedikasi. Namun, coba kamu perhatikan tren di media sosial sekarang. Istilah seperti burnout, work-life balance, hingga quiet quitting lebih sering diperbincangkan daripada promosi jabatan.
Apakah benar generasi Millennial dan Gen Z sudah kehilangan ambisinya? Atau jangan-jangan, definisi "keren" dalam bekerja memang sudah bergeser, Winners?
Matinya Era "Hustle Culture"
Bagi generasi sebelumnya, ambisi sering kali diukur dengan pencapaian materi dan posisi di tangga korporat. Namun, Millennial dan Gen Z menyaksikan sendiri bagaimana orang tua atau senior mereka mengalami kelelahan mental demi perusahaan.
Kini, ada pergeseran paradigma:
- Kesehatan Mental adalah Kemewahan Baru: Bagi kamu yang berada di generasi ini, kesuksesan tidak ada artinya jika harus dibayar dengan depresi atau kehilangan waktu untuk diri sendiri.
- Bekerja untuk Hidup, Bukan Hidup untuk Bekerja: Pekerjaan kini dipandang sebagai sarana untuk mendanai gaya hidup dan hobi, bukan lagi identitas tunggal seseorang.
Bukan Tidak Ambisius, Hanya Lebih Selektif
Banyak yang salah paham dan menganggap generasi muda itu malas. Padahal, yang terjadi adalah perubahan fokus ambisi. Winners, ambisi itu masih ada, namun bentuknya berbeda:
- Ambisi pada Fleksibilitas: Generasi sekarang sangat ambisius dalam mencari cara kerja yang lebih efisien (seperti remote working) agar punya kendali penuh atas waktu mereka.
- Ambisi pada Purpose (Tujuan): Kamu mungkin lebih memilih gaji yang cukup asalkan bekerja di perusahaan yang punya dampak sosial, daripada gaji tinggi di perusahaan yang merusak lingkungan.
- Side Hustle yang Passionate: Alih-alih mengejar karier di satu kantor, banyak yang memilih membangun bisnis kecil-kecilan atau menjadi kreator konten di luar jam kantor.
Sisi Baik dan Buruknya
Pergeseran nilai ini punya dampak dua arah. Sisi baiknya, kita menjadi generasi yang lebih peduli pada kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Namun sisi buruknya, jika tidak dikelola dengan baik, semangat "santai" ini bisa terjebak menjadi sikap apatis yang menghambat pertumbuhan profesional.
Ambisi itu tetap keren, Winners. Hanya saja, "keren" versi sekarang bukan lagi soal seberapa keras kamu bekerja sampai sakit, melainkan seberapa cerdas kamu mengatur kerja agar tetap bisa menikmati hidup.
Dunia kerja bukan lagi tentang siapa yang paling lama duduk di kursi kantor, tapi siapa yang paling bisa memberikan dampak tanpa kehilangan jati dirinya.
Next News

Kaki Tak Bisa Berbohong! Rahasia Membaca Kejujuran Lawan Bicara
5 hours ago

The Power of Silence, Mengapa Sosok Pendiam Sering Kali Menjadi yang Paling Karismatik
6 hours ago

Berhenti Mencatat secara Linier! Inilah Alasan Mind Mapping Bikin Belajar Jadi 10x Lebih Cepat
6 hours ago

Taktik Zero Waste, Cara Mudah Bikin Kompos di Pojok Dapur Tanpa Aroma Busuk
7 hours ago

Upcycling 101: Cara Mengubah Barang 'Rongsokan' Menjadi Furnitur Berkelas
11 hours ago

Kenapa Kita Susah Mengaku Salah? Mengupas Rahasia Psikologi di Balik Ego Manusia
11 hours ago

Gak Perlu Deterjen Mahal! Rahasia Lemon dan Garam untuk Kinclongkan Peralatan Masak
12 hours ago

Bukan Solusi yang Mereka Cari, Inilah Kekuatan Validasi dalam Komunikasi Emosional
12 hours ago

Kesehatan Mental Nomor Satu! Inilah Tanda Kamu Harus Mulai Menjauhi Teman Tertentu
13 hours ago

Bukan Cuma Soal Gaya: Gimana Warna Baju yang Kamu Pakai Bisa Ngubah Mood dan Produktivitas Kamu Seharian
a day ago





