Jumat, 20 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Hustle Culture vs. Quiet Quitting: Apakah Ambisi Sudah Tidak Keren Lagi di Mata Gen Z?

Admin WGM - Sunday, 08 February 2026 | 11:05 PM

Background
Hustle Culture vs. Quiet Quitting: Apakah Ambisi Sudah Tidak Keren Lagi di Mata Gen Z?
Ilustrasi

Dulu, pulang kantor paling malam atau bekerja di hari libur sering dianggap sebagai simbol kesuksesan dan dedikasi. Namun, coba kamu perhatikan tren di media sosial sekarang. Istilah seperti burnout, work-life balance, hingga quiet quitting lebih sering diperbincangkan daripada promosi jabatan.

Apakah benar generasi Millennial dan Gen Z sudah kehilangan ambisinya? Atau jangan-jangan, definisi "keren" dalam bekerja memang sudah bergeser, Winners?

Matinya Era "Hustle Culture"

Bagi generasi sebelumnya, ambisi sering kali diukur dengan pencapaian materi dan posisi di tangga korporat. Namun, Millennial dan Gen Z menyaksikan sendiri bagaimana orang tua atau senior mereka mengalami kelelahan mental demi perusahaan.

Kini, ada pergeseran paradigma:

  • Kesehatan Mental adalah Kemewahan Baru: Bagi kamu yang berada di generasi ini, kesuksesan tidak ada artinya jika harus dibayar dengan depresi atau kehilangan waktu untuk diri sendiri.
  • Bekerja untuk Hidup, Bukan Hidup untuk Bekerja: Pekerjaan kini dipandang sebagai sarana untuk mendanai gaya hidup dan hobi, bukan lagi identitas tunggal seseorang.

Bukan Tidak Ambisius, Hanya Lebih Selektif

Banyak yang salah paham dan menganggap generasi muda itu malas. Padahal, yang terjadi adalah perubahan fokus ambisi. Winners, ambisi itu masih ada, namun bentuknya berbeda:

  1. Ambisi pada Fleksibilitas: Generasi sekarang sangat ambisius dalam mencari cara kerja yang lebih efisien (seperti remote working) agar punya kendali penuh atas waktu mereka.
  2. Ambisi pada Purpose (Tujuan): Kamu mungkin lebih memilih gaji yang cukup asalkan bekerja di perusahaan yang punya dampak sosial, daripada gaji tinggi di perusahaan yang merusak lingkungan.
  3. Side Hustle yang Passionate: Alih-alih mengejar karier di satu kantor, banyak yang memilih membangun bisnis kecil-kecilan atau menjadi kreator konten di luar jam kantor.

Sisi Baik dan Buruknya

Pergeseran nilai ini punya dampak dua arah. Sisi baiknya, kita menjadi generasi yang lebih peduli pada kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Namun sisi buruknya, jika tidak dikelola dengan baik, semangat "santai" ini bisa terjebak menjadi sikap apatis yang menghambat pertumbuhan profesional.

Ambisi itu tetap keren, Winners. Hanya saja, "keren" versi sekarang bukan lagi soal seberapa keras kamu bekerja sampai sakit, melainkan seberapa cerdas kamu mengatur kerja agar tetap bisa menikmati hidup.

Dunia kerja bukan lagi tentang siapa yang paling lama duduk di kursi kantor, tapi siapa yang paling bisa memberikan dampak tanpa kehilangan jati dirinya.