Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Kenapa Kita Susah Mengaku Salah? Mengupas Rahasia Psikologi di Balik Ego Manusia

Admin WGM - Thursday, 19 February 2026 | 01:50 PM

Background
Kenapa Kita Susah Mengaku Salah? Mengupas Rahasia Psikologi di Balik Ego Manusia
Psikologi Ego Manusia (pexels.com/Elīna Arāja/)

Otak manusia adalah mesin pemroses informasi yang luar biasa, namun ia juga "pemalas" secara biologis. Untuk menghemat energi, otak sering kali mengambil jalan pintas dalam berpikir yang disebut heuristik. Sayangnya, jalan pintas ini sering kali berujung pada bias kognitif—sebuah kesalahan sistematis dalam berpikir yang memengaruhi keputusan dan penilaian kita terhadap realitas. Salah satu yang paling kuat dan merusak adalah Confirmation Bias (Bias Konfirmasi).

Mengapa Kita Hanya Mau Mendengar yang Kita Sukai?

Berikut adalah daftar alasan psikologis di balik anomali cara berpikir manusia yang cenderung memihak:

  • Menghindari Disonansi Kognitif Ketika kita menghadapi informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita, otak mengalami ketidaknyamanan mental yang disebut disonansi kognitif. Untuk menghilangkan rasa "sakit" atau tidak nyaman ini, otak secara otomatis menolak informasi baru tersebut dan mencari pembenaran atas keyakinan lama agar perasaan kita tetap tenang.
  • Efisiensi Energi Otak Memproses informasi baru yang kompleks dan berlawanan membutuhkan energi metabolisme yang besar. Sebaliknya, menerima informasi yang sudah selaras dengan pikiran kita jauh lebih mudah dan memberikan suntikan dopamin (hormon kesenangan). Otak cenderung memilih jalur dengan hambatan paling sedikit.
  • Kebutuhan akan Identitas dan Kelompok Keyakinan kita sering kali terikat dengan identitas sosial. Jika kita mengakui bahwa pendapat kita salah, secara tidak sadar kita merasa sedang mengkhianati kelompok atau komunitas yang memiliki pemikiran serupa. Oleh karena itu, kita memilih untuk tetap "buta" demi menjaga rasa memiliki dalam kelompok.
  • Efek Gelembung Filter (Filter Bubble) Di era digital, algoritma media sosial memperparah bias ini. Mereka menyuguhkan konten yang hanya Anda sukai, sehingga Anda merasa bahwa seluruh dunia setuju dengan Anda. Ini menciptakan ilusi kebenaran mutlak yang membuat Anda semakin sulit menerima perspektif luar.

Daftar Jenis Bias Kognitif Lain yang Sering Terjadi

Selain bias konfirmasi, terdapat beberapa "jebakan" pikiran lainnya yang sering kita alami:

  • Dunning-Kruger Effect: Kecenderungan seseorang yang memiliki kemampuan rendah untuk merasa sangat ahli, karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyadari kekurangan mereka.
  • Halo Effect: Menilai karakter seseorang secara keseluruhan hanya berdasarkan satu sifat yang kita sukai (misalnya, menganggap orang tampan pasti jujur).
  • Availability Heuristic: Kecenderungan untuk menilai risiko berdasarkan informasi yang paling mudah diingat (misalnya, takut naik pesawat karena baru saja menonton berita kecelakaan, padahal secara statistik lebih aman daripada mobil).

Cara Melatih Pikiran agar Lebih Terbuka

Menghilangkan bias secara total adalah hal yang mustahil, namun kita bisa meminimalisasi dampaknya dengan langkah-langkah berikut:

  1. Jadilah Pengacara Iblis (Devil's Advocate): Saat Anda yakin akan sesuatu, cobalah mencari alasan mengapa pendapat Anda mungkin salah. Carilah data dari sisi yang berlawanan.
  2. Diversifikasi Informasi: Bacalah berita dari sumber yang berbeda haluan politik atau perspektif budaya untuk memperluas cakrawala berpikir.
  3. Berhenti Sejenak Sebelum Bereaksi: Saat merasa marah atau tersinggung oleh pendapat orang lain, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya marah karena informasinya salah, atau karena informasi ini menyerang kenyamanan saya?".

Bias kognitif adalah bagian dari evolusi manusia, namun di dunia yang penuh disinformasi, ia bisa menjadi bumerang. Menyadari bahwa kita bisa salah adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan. Dengan berani mendengar apa yang tidak ingin kita dengar, kita sebenarnya sedang membebaskan otak kita dari penjara persepsi yang sempit dan mulai melihat dunia dengan lebih jernih serta objektif.