Sabtu, 11 Juli 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Gagal Tampil di Pesparawi Nasional, Kontingen Paduan Suara Wanita Kepri Nyanyikan Semangat di Bandara Soekarno-Hatta

Admin WGM - Monday, 29 June 2026 | 03:45 PM

Background
Gagal Tampil di Pesparawi Nasional, Kontingen Paduan Suara Wanita Kepri Nyanyikan Semangat di Bandara Soekarno-Hatta
(lintaskepri.com/)

Perjalanan panjang yang telah dipersiapkan selama hampir dua tahun harus berakhir dengan kekecewaan bagi Kontingen Paduan Suara Wanita (PSW) Provinsi Kepulauan Riau. Tim yang berasal dari Kota Tanjungpinang itu dipastikan gagal mengikuti ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional di Manokwari, Papua Barat, setelah mengalami persoalan administrasi penerbangan yang diduga berkaitan dengan pengelolaan tiket perjalanan.

Kegagalan tersebut bukan hanya membuat mereka kehilangan kesempatan tampil di panggung nasional, tetapi juga menghapus harapan untuk mempersembahkan hasil latihan panjang yang telah dijalani selama berbulan-bulan. Meski demikian, para anggota kontingen memilih menyalurkan rasa kecewa dengan cara berbeda. Di tengah hiruk-pikuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mereka justru mempersembahkan lagu-lagu paduan suara yang mengundang perhatian para penumpang dan petugas bandara.

Penampilan spontan tersebut menjadi simbol keteguhan hati para peserta yang tetap memilih bernyanyi meski mimpi mereka untuk tampil di ajang nasional harus kandas.

Perjalanan Terhenti di Meja Check-in

Permasalahan mulai muncul ketika rombongan hendak melakukan proses check-in sesuai jadwal keberangkatan pada 24 Juni 2026. Saat itu, seluruh anggota kontingen telah bersiap menuju Manokwari untuk mengikuti rangkaian kegiatan Pesparawi Nasional.

Namun, ketika data penerbangan diperiksa, petugas tidak menemukan nama maupun jadwal penerbangan seluruh anggota rombongan di dalam sistem maskapai.

Situasi tersebut membuat seluruh peserta dan pendamping terkejut. Mereka kemudian berupaya menghubungi pihak travel yang mengurus tiket perjalanan.

Menurut keterangan yang diterima kontingen, pihak travel menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan segera diselesaikan dan menjanjikan tiket akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Dengan harapan masalah dapat diatasi, rombongan tetap mengikuti arahan yang diberikan.

Menunggu Kepastian Selama Dua Hari

Selama dua hari berikutnya, para peserta terus menunggu kepastian mengenai keberangkatan mereka.

Dalam proses itu, rombongan bahkan sempat diberangkatkan dari Batam menuju Jakarta sebagai bagian dari perjalanan menuju Papua Barat.

Harapannya, tiket penerbangan lanjutan menuju Manokwari akan diterbitkan setelah mereka tiba di ibu kota.

Namun kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan.

Sesampainya di Jakarta, tiket penerbangan menuju Manokwari belum juga tersedia.

Pihak travel kembali memberikan arahan agar rombongan berpindah menggunakan maskapai lain dengan alasan proses penerbitan tiket sedang dilakukan.

Kontingen pun mengikuti instruksi tersebut sambil terus berharap persoalan segera selesai.

Kode Booking Belum Dibayar

Harapan tersebut kembali pupus ketika proses pemeriksaan dilakukan oleh maskapai yang akan melayani penerbangan berikutnya.

Berdasarkan hasil pengecekan, kode pemesanan atau booking code yang dibawa rombongan memang tercatat di sistem.

Namun statusnya belum lunas.

Pihak maskapai menyampaikan bahwa tiket belum dapat digunakan karena pembayaran atas pemesanan tersebut belum diselesaikan.

Akibatnya, seluruh peserta tidak dapat memperoleh boarding pass maupun melanjutkan perjalanan menuju Manokwari.

Kondisi itu sekaligus memastikan kontingen Paduan Suara Wanita Kepulauan Riau gagal mengikuti Pesparawi Nasional.

Persiapan Hampir Dua Tahun Berakhir Sia-sia

Kegagalan keberangkatan menjadi pukulan berat bagi seluruh anggota tim.

Pasalnya, mereka telah menjalani proses latihan yang panjang sebelum dipercaya mewakili Provinsi Kepulauan Riau pada ajang nasional tersebut.

Berbagai latihan vokal, penyelarasan harmoni, pembinaan teknik bernyanyi hingga penguatan penampilan panggung dilakukan secara intensif selama hampir dua tahun.

Seluruh persiapan tersebut dilakukan demi memberikan penampilan terbaik ketika membawa nama daerah di tingkat nasional.

Bagi sebagian anggota, kesempatan mengikuti Pesparawi Nasional merupakan pengalaman yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup.

Karena itu, gagalnya keberangkatan bukan sekadar kehilangan sebuah perjalanan, tetapi juga hilangnya kesempatan mempersembahkan hasil kerja keras yang telah dipersiapkan dalam waktu lama.

Tetap Bernyanyi di Tengah Kekecewaan

Di tengah rasa sedih dan kecewa, para anggota kontingen memilih untuk tidak larut dalam situasi.

Mereka kemudian memanfaatkan waktu di Bandara Soekarno-Hatta dengan menggelar penampilan paduan suara secara spontan.

Suara harmoni yang mereka tampilkan menggema di area bandara dan menarik perhatian para penumpang yang sedang menunggu penerbangan.

Banyak penumpang menghentikan langkah sejenak untuk menyaksikan penampilan tersebut.

Beberapa di antaranya bahkan mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.

Pihak pengelola Bandara Soekarno-Hatta juga memberikan dukungan dengan memfasilitasi penampilan para peserta sehingga dapat berlangsung dengan tertib.

Aksi tersebut kemudian menjadi bentuk pelampiasan semangat sekaligus pembuktian bahwa mereka tetap ingin mempersembahkan kemampuan terbaik meski tidak jadi tampil di panggung Pesparawi Nasional.

Penampilan itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang berada di lokasi.

Tepuk tangan mengiringi setiap lagu yang dibawakan, menciptakan suasana haru di tengah aktivitas bandara yang padat.

Simbol Keteguhan dan Dedikasi

Bagi para anggota kontingen, bernyanyi di bandara bukan sekadar menghibur penumpang.

Penampilan tersebut menjadi simbol bahwa dedikasi terhadap seni paduan suara tidak berhenti hanya karena kesempatan tampil di panggung nasional hilang.

Mereka tetap memilih menunjukkan hasil latihan yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun meskipun lokasi penampilannya berubah dari gedung pertunjukan menjadi terminal bandara.

Semangat tersebut mendapat apresiasi luas karena mencerminkan sikap profesional dan kecintaan terhadap dunia musik gerejawi.

Harap Ada Pertanggungjawaban

Di balik apresiasi yang mereka terima, para peserta tetap berharap persoalan yang menyebabkan gagalnya keberangkatan dapat diusut secara tuntas.

Mereka meminta adanya pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan perjalanan, khususnya terkait proses pemesanan dan pembayaran tiket.

Menurut mereka, kegagalan ini bukan hanya berdampak pada hilangnya kesempatan berlomba, tetapi juga menimbulkan kerugian moral bagi seluruh anggota kontingen yang telah berjuang mempersiapkan diri dalam waktu lama.

Mereka berharap permasalahan tersebut dapat diselesaikan secara transparan sehingga seluruh pihak mengetahui penyebab pasti gagalnya keberangkatan menuju Manokwari.

Dorong Evaluasi Sistem Perjalanan

Selain meminta pertanggungjawaban, kontingen juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan perjalanan peserta kegiatan berskala nasional.

Mereka menilai proses administrasi, koordinasi dengan biro perjalanan, hingga verifikasi tiket perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali dialami kontingen dari daerah lain.

Evaluasi tersebut dinilai penting mengingat peserta yang mengikuti ajang nasional telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit selama masa persiapan.

Dengan sistem pengelolaan perjalanan yang lebih baik, risiko terjadinya masalah administrasi menjelang keberangkatan diharapkan dapat diminimalkan.

Harapan yang Belum Padam

Meski gagal menginjak panggung Pesparawi Nasional tahun ini, semangat anggota Kontingen Paduan Suara Wanita Kepulauan Riau belum padam.

Penampilan mereka di Bandara Soekarno-Hatta menjadi bukti bahwa dedikasi terhadap musik dan pelayanan tetap dapat diwujudkan di mana saja, bahkan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi para anggota tim, perjalanan menuju Manokwari memang terhenti. Namun perjuangan mereka untuk terus berkarya melalui paduan suara diyakini belum berakhir.

Mereka berharap pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, sekaligus mendorong perbaikan tata kelola perjalanan peserta pada berbagai ajang nasional di masa mendatang. Dengan demikian, setiap kontingen yang telah berjuang membawa nama daerah dapat berangkat dan tampil sesuai kesempatan yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.