Dibalik Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang', Ada Peran Besar J.H. Abendanon yang Jarang Diketahui
Admin WGM - Tuesday, 21 April 2026 | 10:09 AM


Nama Raden Ajeng Kartini telah menjadi sinonim dengan semangat emansipasi di Indonesia. Namun, sejarah sering kali luput menyoroti sosok yang memastikan bahwa keluh kesah, harapan, dan pemikiran visioner gadis pingitan dari Jepara tersebut tidak ikut terkubur bersama jasadnya pada tahun 1904. Sosok tersebut adalah Jacques Henrij (J.H.) Abendanon. Sebagai seorang pejabat tinggi kolonial Belanda yang menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (1900–1905), Abendanon bukan sekadar birokrat biasa; ia adalah kawan intelektual, kurator, sekaligus promotor utama yang menyusun kepingan korespondensi menjadi sebuah buku legendaris berjudul Door Duisternis tot Licht yang kelak kita kenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Hubungan antara keluarga Abendanon dan Kartini bermula dari sebuah ketertarikan pada kemajuan pendidikan bagi pribumi. J.H. Abendanon bersama istrinya, Rosa Manuela Mandri, memiliki visi yang cukup progresif pada masanya terkait kebijakan Etis. Pertemuan fisik mereka memang terbatas, namun melalui pertukaran surat, Abendanon menyadari bahwa di balik dinding kadipaten Jepara, terdapat seorang pemikir kaliber dunia yang sedang terpenjara oleh adat. Kartini menuangkan segala keresahannya mengenai pendidikan, feodalisme, hingga posisi perempuan bumiputera kepada Abendanon dan istrinya. Surat-surat tersebut tidak hanya berisi curahan hati, tetapi juga analisis kritis mengenai ketimpangan sosial yang terjadi di bawah pemerintahan kolonial.
Guncangan hebat terjadi saat Kartini wafat di usia yang sangat muda, yakni 25 tahun, hanya beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya. Abendanon yang merasa sangat kehilangan sekaligus terinspirasi oleh pemikiran sahabat penanya tersebut, merasa memiliki kewajiban moral untuk membagikan isi pikiran Kartini kepada khalayak luas. Ia mulai menghubungi para sahabat pena Kartini lainnya di Belanda, seperti Estella Zeehandelaar, untuk mengumpulkan surat-surat asli yang pernah dikirimkan Kartini. Proses kurasi ini bukanlah perkara mudah; Abendanon harus memilah ribuan baris kalimat, menjaga objektivitas tanpa menghilangkan esensi emosional dan intelektual dari setiap kata yang ditulis oleh Kartini.
Pada tahun 1911, upaya Abendanon membuahkan hasil dengan terbitnya buku Door Duisternis tot Licht. Buku ini mengejutkan publik Belanda dan kaum intelektual di Hindia Belanda. Bagi masyarakat Eropa kala itu, surat-surat tersebut membuktikan bahwa seorang perempuan pribumi mampu memiliki pemikiran sedalam dan seluas cendekiawan Barat. J.H. Abendanon secara cerdik menggunakan jabatan dan koneksinya untuk memastikan pemikiran Kartini mendapatkan panggung. Meskipun beberapa sejarawan di masa depan sempat mengkritik adanya "sensor" atau penyuntingan tertentu yang dilakukan Abendanon untuk menjaga sensitivitas politik saat itu, kontribusinya tetap tak terbantahkan sebagai penyelamat literasi sejarah Indonesia.
Melalui buku yang disusun Abendanon inilah, dunia mengenal istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Judul tersebut sebenarnya diambil dari salah satu kalimat ikonik Kartini, "Door duisternis tot licht", yang kemudian diterjemahkan oleh sastrawan Armijn Pane pada tahun 1938 menjadi judul bahasa Indonesia yang sangat puitis dan menggetarkan sanubari. Tanpa inisiatif Abendanon untuk membukukan surat-surat tersebut, mungkin gagasan-gagasan Kartini hanya akan menjadi tumpukan kertas usang di laci meja para sahabatnya di Eropa, perlahan melapuk dan hilang ditelan zaman.
Sosok Abendanon juga memberikan cermin bagi kita bahwa dukungan terhadap sebuah gerakan besar sering kali datang dari pihak yang tidak terduga. Meskipun ia berada di dalam sistem kolonial, ia mampu melampaui batasan ras dan jabatan demi sebuah ideologi kemajuan manusia. J.H. Abendanon melihat potensi besar dalam diri Kartini, bukan sebagai objek studi, melainkan sebagai subjek penggerak perubahan. Keputusannya untuk mengabadikan tulisan Kartini secara tidak langsung telah meletakkan batu pertama bagi fondasi kesadaran nasionalisme dan hak-hak sipil bagi perempuan di tanah air yang kelak berdaulat.
Kini, saat kita memperingati Hari Kartini atau membaca bait-bait suratnya, patutlah kita mengenang J.H. Abendanon sebagai "arsitek" di balik ketersediaan informasi tersebut. Sejarah pengumpulan surat ini mengajarkan kita bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk melintasi batas maut. Melalui tangan dingin Abendanon, Kartini terus "berbicara" kepada generasi masa kini. Buku tersebut telah bertransformasi dari sekadar korespondensi pribadi menjadi manifesto perubahan sosial. Inilah bukti nyata bahwa kolaborasi intelektual yang tulus dapat menghasilkan warisan yang tidak akan pernah padam oleh waktu, membawa kita keluar dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan yang benderang.
Next News

Guru Wajib Tahu! 10 Kegiatan Hari Kartini Milenial yang Bikin Siswa Makin Cinta Literasi
in 4 hours

Jangan Salah Kaprah! Ini Perbedaan Mencolok Antara Kantuk Biasa dan Microsleep yang Mematikan
12 hours ago

Waspada! 5 Tanda Tubuh Sedang Microsleep, Ternyata Gak Cuma Menguap Saja
13 hours ago

Waspada Kondisi Microsleep! Rahasia Mengapa Tubuh Tiba-tiba Hilang Kendali Saat Lelah
14 hours ago

Anti Gagal! Trik Menumis Sambal Bawang Agar Aromanya Sedap dan Awet Tanpa Masuk Kulkas
9 hours ago

Rahasia Menit-menit Krusial Merebus Telur: Simak Tips Agar Kuning Telur Gak Berwarna Abu-abu!
11 hours ago

Gak Perlu Takut Luka! Ini 5 Teknik Dasar Memotong Sayur dengan Cepat dan Aman ala Chef Profesional
9 hours ago

Kue Sering Bantat? Ini 5 Kesalahan Umum Saat Baking yang Bikin Adonan Gagal Mengembang
a day ago

Anti Gagal! Ini Trik Melelehkan Cokelat yang Benar Agar Hasilnya Mengkilap dan Gak Menggumpal
a day ago

Tetap Manis Meski Tanpa Gula, Simak Tips Cerdas Ubah Kebiasaan Ngopi dan Ngetehmu Jadi Lebih Sehat
a day ago





