Bikin Merinding! Menguak Mitos dan Urban Legend Misterius di Ujung Dermaga Terkenal
Admin WGM - Wednesday, 17 June 2026 | 06:30 PM


Laut selalu menyimpan dua sisi wajah yang berbeda bagi peradaban manusia: sumber kehidupan yang melimpah sekaligus misteri besar yang tidak terselami. Di sepanjang garis pantai dunia, dermaga hadir sebagai titik paling luar di mana manusia melangkah mendekati wilayah kekuasaan samudra. Karena posisinya yang menjorok langsung ke air dalam dan sering kali dilingkupi kesunyian malam, tidak heran jika berbagai dermaga terkenal di dunia, khususnya di Nusantara, menjadi tempat lahirnya berbagai mitos, pantangan, dan legenda urban yang diyakini kuat oleh masyarakat setempat.
Bagi masyarakat pesisir tradisional, ujung dermaga bukan sekadar tempat menanti kapal, melainkan sebuah batas suci antara dunia manusia dan dunia gaib penguasa lautan. Salah satu mitos paling universal yang dapat ditemukan di berbagai dermaga tua di Indonesia adalah larangan untuk bersiul atau membuat suara kegaduhan yang tidak perlu saat hari mulai beranjak malam. Menurut kepercayaan para tetua nelayan, bersiul di ujung dermaga diyakini dapat "memanggil" angin badai atau mengusik ketenangan roh-roh halus penjaga laut yang sedang melintas. Konon, siapa saja yang nekat melanggar pantangan ini akan dihadang oleh ombak besar secara tiba-tiba atau mengalami kesialan saat melaut pada keesokan harinya.
Selain pantangan suara, mitos mengenai warna pakaian juga melekat kuat pada beberapa dermaga wisata dan dermaga penyeberangan di pesisir selatan Jawa. Legenda mengenai penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul, membuat para pengunjung dermaga dilarang keras mengenakan pakaian berwarna hijau pupus atau hijau lumut. Mitos lokal menyebutkan bahwa warna hijau adalah warna kebesaran sang ratu ghaib. Seseorang yang nekat berdiri di ujung dermaga dengan pakaian hijau dipercaya akan menarik perhatian sang penjaga laut dan berisiko terseret arus ombak yang mendadak pasang untuk dijadikan pengikut di istana bawah laut. Meskipun secara ilmiah hal ini sering dikaitkan dengan faktor keselamatan di mana warna hijau menyatu dengan warna air laut sehingga menyulitkan proses evakuasi saat seseorang tenggelam masyarakat tetap menghormati narasi mistis ini demi menjaga keselamatan.
Beralih ke belahan dunia lain, dermaga-dermaga tua di Eropa dan Amerika Utara juga tidak luput dari legenda urban yang menyeramkan. Di beberapa dermaga pelabuhan kuno yang telah berusia ratusan tahun, sering kali berembus kisah tentang "kapal hantu" atau sosok pelaut penjelajah waktu yang menampakkan diri pada malam-malam berkabut tebal. Para pekerja pelabuhan kerap melaporkan penglihatan tentang bayangan hitam yang berdiri diam di ujung dermaga, menatap kosong ke arah laut lepas, lalu menghilang seketika saat didekati. Sosok-sosok ini kerap diidentifikasi sebagai manifestasi spiritual dari para pelaut masa lalu yang kapalnya karam di tengah samudra dan jiwanya tidak pernah bisa kembali pulang ke daratan.
Di samping itu, ada pula mitos yang sifatnya lebih humanis dan bertujuan untuk mendidik, seperti larangan meludah atau membuang sampah sisa makanan dari atas dermaga secara sembarangan. Di balik balutan cerita mistis bahwa tindakan tersebut dapat membuat marah gurita raksasa atau makhluk penjaga fondasi dermaga, terdapat nilai kearifan lokal yang sangat luhur. Pantangan ini sengaja diciptakan oleh para leluhur agar manusia tidak mengotori laut dan merusak ekosistem bawah dermaga yang menjadi tempat tinggal bagi ikan-ikan kecil.
Percaya atau tidak terhadap kebenaran mitos-mitos tersebut, keberadaan legenda urban di sekitar dermaga ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat maritim. Cerita-cerita mistis ini secara tidak langsung berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial yang efektif untuk memaksa manusia tetap bersikap sopan, waspada, dan menghormati kekuatan alam yang besar. Saat Anda berdiri di ujung dermaga mana pun di dunia pada kunjungan berikutnya, tidak ada salahnya untuk tetap menjaga sikap dan mematuhi kearifan lokal yang berlaku, sebab menghormati tradisi adalah bentuk penghargaan tertinggi kita terhadap ruang hidup bersama.
Next News

Menelusuri Sejarah Surfing, Tradisi Spiritual Kuno Hawaii yang Kini Jadi Olahraga Populer
in 6 hours

Bukan Mistis, Ini Sejarah Asal-usul Lahirnya Sistem Hari Pasaran dalam Kalender Jawa
in 4 hours

Dikenal Kepala Dingin, 5 Weton Ini Konon Punya Sifat Paling Penyabar Menurut Primbon Jawa
in 3 hours

Bukan Mistis, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Hewan Kerap Bertingkah Aneh Sebelum Gempa Bumi
3 days ago

Riuh Rendah Dermaga: Dari Kesakralan Ritual Petik Laut hingga Keceriaan Bocah Pantai
3 days ago

Terpaksa Ditinggalkan, Kisah Tragis 4 Kota yang Berubah Menjadi 'Kota Hantu' Akibat Kekeringan Ekstrem
3 days ago

Lebih Tua dari Piramida Mesir, Menguak Misteri 'Mustatil' Struktur Batu Purba di Arab Saudi
4 days ago

Gak Cuma Gurun Pasir, Mengagumi Al-Ula: Surga Sejarah dan Oase Tersembunyi di Arab Saudi
4 days ago

Secara Bahasa Berarti 'Yang Dilarang', Ini Asal-usul Istilah Kata Muharam dalam Kosakata
4 days ago

Sudah Sakral Sejak Dulu, Begini Kehidupan Masyarakat Arab di Bulan Muharam Sebelum Datangnya Islam
4 days ago





