Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Sosiologi "Bukber": Antara Ajang Silaturahmi atau Beban Sosial?

Admin WGM - Sunday, 22 February 2026 | 07:01 PM

Background
Sosiologi "Bukber": Antara Ajang Silaturahmi atau Beban Sosial?
(Arsip Grand Hyaat jakarta/)

Seiring dengan kumandang azan Magrib yang dinanti-nantikan selama bulan Ramadan, muncul sebuah fenomena tahunan yang telah mendarah daging dalam struktur masyarakat Indonesia: Buka Puasa Bersama atau yang akrab disebut "Bukber". Di balik keriuhan tawa dan denting sendok di meja makan, terdapat lapisan sosiologis yang menarik untuk dikupas. Bukber bukan lagi sekadar urusan membatalkan puasa secara kolektif, melainkan sebuah panggung pementasan identitas yang menjebak individu di antara keinginan bersilaturahmi dan tekanan sosial yang nyata.

Panggung Pementasan Identitas di Meja Makan

Dalam perspektif sosiologi, khususnya teori dramaturgi dari Erving Goffman, acara buka bersama dapat dipandang sebagai "panggung depan" (front stage). Di sini, individu tampil dengan versi terbaik dari diri mereka. Reuni sekolah atau pertemuan teman sekantor sering kali berubah menjadi ajang untuk menunjukkan keberhasilan hidup. Pertanyaan-pertanyaan seputar karier, status pernikahan, hingga kepemilikan materi menjadi "bumbu" yang terkadang lebih pedas daripada sambal di atas piring.

Bagi sebagian orang, Bukber adalah momentum emas untuk menyambung kembali tali persaudaraan yang sempat merenggang karena kesibukan. Namun, bagi sebagian lainnya, ajang ini berubah menjadi momen "sidak" kehidupan. Tekanan untuk tampil sukses atau setidaknya "baik-baik saja" di depan kawan lama inilah yang mulai menggeser nilai silaturahmi yang tulus menjadi sebuah beban psikologis.

Beban Finansial di Balik Tradisi

Selain beban mental, Bukber juga menghadirkan realitas beban ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di kota-kota besar, agenda Bukber sering kali diadakan di restoran atau kafe dengan harga paket yang cukup menguras kantong. Dalam satu bulan Ramadan, seorang individu bisa mendapatkan undangan Bukber dari berbagai lingkaran: teman SD, SMP, SMA, kuliah, rekan kerja, hingga komunitas hobi.

Secara sosiologis, penolakan terhadap undangan Bukber sering kali dianggap sebagai bentuk "penarikan diri" dari kelompok yang bisa berujung pada pengucilan sosial secara halus. Akibatnya, banyak orang yang tetap memaksakan diri hadir meskipun kondisi finansial mereka sedang tidak mendukung. Di sinilah Bukber mengalami pergeseran dari ibadah sosial menjadi beban konsumerisme. Anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan Idulfitri atau berbagi kepada mereka yang lebih membutuhkan, justru habis di meja makan demi validasi sosial.

Digitalisasi Bukber: Validasi di Media Sosial

Fenomena Bukber di era kekinian tidak lengkap tanpa keterlibatan media sosial. Unggahan foto bersama dengan takarir (caption) yang menyentuh menjadi ritual wajib. Namun, secara sosiologis, ini menciptakan standar baru tentang "kebahagiaan" dan "solidaritas".

Mereka yang tidak memiliki agenda Bukber atau tidak diundang dalam lingkaran tertentu sering kali merasa mengalami Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal. Foto meja makan yang penuh dengan hidangan mewah dan tawa ceria menjadi konsumsi publik yang terkadang memicu rasa rendah diri bagi mereka yang sedang berjuang secara ekonomi. Silaturahmi yang tadinya bersifat privat dan sakral, kini menjadi tontonan publik yang mengejar angka "suka" (likes).

Melacak Kembali Makna Silaturahmi

Meski memiliki sisi gelap berupa beban sosial dan finansial, Bukber tetap memiliki sisi terang yang tidak bisa diabaikan. Secara fungsionalis, Bukber berperan sebagai alat integrasi sosial. Di tengah kesibukan dunia modern yang individualis, Ramadan menjadi satu-satunya waktu di mana orang-orang mau meluangkan waktu untuk duduk bersama secara fisik.

Kuncinya terletak pada bagaimana masyarakat menegosiasikan makna Bukber tersebut. Pergeseran tren kini mulai terlihat dengan munculnya "Bukber Sederhana" atau "Bukber di Rumah" yang lebih menekankan pada kualitas obrolan daripada kemewahan tempat. Komunitas-komunitas mulai sadar bahwa esensi dari silaturahmi adalah kehadiran dan penerimaan, bukan pamer pencapaian atau adu kemewahan menu.

Sebagai sebuah fenomena sosial, Bukber akan terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Namun, penting bagi kita untuk tetap kritis dalam melihat apakah agenda tersebut memberikan nutrisi bagi jiwa atau justru menjadi racun bagi kesehatan mental dan dompet.

Menjadikan Bukber sebagai ajang silaturahmi yang tulus membutuhkan keberanian untuk tampil apa adanya, tanpa topeng kesuksesan yang dipaksakan. Saat kita mampu melepaskan beban ekspektasi sosial, maka setiap suapan makanan saat berbuka akan terasa lebih berkah. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan Bukber sebagai beban sosial dan mengembalikannya ke khitahnya: sebuah momen hangat untuk berbagi kasih sayang di bulan yang penuh ampunan.