Jumat, 10 Juli 2026
Walisongo Global Media
Health

Sejarah Hari Zoonosis Sedunia: Bagaimana Satu Suntikan Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia

Admin WGM - Monday, 06 July 2026 | 01:00 PM

Background
Sejarah Hari Zoonosis Sedunia: Bagaimana Satu Suntikan Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia
Sejarah hari zoonosis sedunia (RRI/)

Dalam catatan sejarah ilmu kedokteran modern, rabies pernah menjadi salah satu momok penyakit yang paling ditakuti oleh masyarakat dunia karena sifatnya yang mematikan. Sebelum abad ke-19, siapa pun yang terkena gigitan hewan gila seperti anjing atau serigala hampir dipastikan akan menghadapi kematian yang tragis tanpa adanya pilihan pengobatan. Kondisi kelam tersebut mulai berubah secara drastis berkat dedikasi luar biasa dari seorang ilmuwan dan ahli kimia asal Prancis yang bernama Louis Pasteur. Melalui serangkaian penelitian laboratorium yang tekun dan revolusioner, Pasteur berhasil menciptakan vaksin rabies pertama di dunia yang kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan imunologi modern.

Berbeda dengan penelitian bakteri yang sebelumnya telah berhasil dia petakan, tantangan terbesar Pasteur dalam menjinakkan rabies adalah karakteristik agen penyebabnya. Pada masa itu, mikroskop cahaya yang tersedia belum mampu mendeteksi keberadaan virus karena ukurannya yang terlalu mikroskopis. Namun, Pasteur secara genius berhasil menyimpulkan bahwa patogen rabies tidak menyerang darah, melainkan menyerang dan melumpuhkan sistem saraf pusat korbannya. Menggunakan dasar asumsi tersebut, dia melakukan eksperimen dengan mengisolasi jaringan sumsum tulang belakang dari kelinci yang telah terinfeksi rabies, lalu mengeringkannya selama beberapa hari untuk melemahkan kekuatan virus secara bertahap.

Titik balik dari sejarah sains populer ini terjadi pada bulan Juli tahun seribu delapan ratus delapan puluh lima di Kota Paris. Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Joseph Meister dibawa ke hadapan Pasteur setelah menderita belasan luka gigitan parah dari seekor anjing gila. Meskipun sempat dilanda keraguan besar karena formulanya belum pernah diujicobakan secara klinis kepada manusia, Pasteur akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan darurat demi menyelamatkan nyawa anak tersebut. Selama belasan hari berturut-turut, Pasteur menyuntikkan suspensi jaringan saraf kelinci dengan dosis virus yang ditingkatkan secara bertahap ke tubuh Joseph Meister.

Eksperimen berani tersebut membuahkan hasil yang sangat spektakuler dan mengguncang dunia kedokteran internasional. Joseph Meister berhasil bertahan hidup, pulih sepenuhnya, dan tidak pernah menunjukkan gejala-gejala klinis penyakit rabies yang mengerikan. Keberhasilan fenomenal ini segera menyebar luas ke berbagai belahan dunia, memicu gelombang dukungan dana global untuk mendirikan Institut Pasteur di Paris. Penemuan vaksin rabies pertama ini tidak hanya membuktikan efektivitas metode imunisasi buatan manusia, melainkan juga mengubah cara pandang peradaban dunia dalam melawan epidemi penyakit infeksi menular.