Sabtu, 11 Juli 2026
Walisongo Global Media
Health

Rhabdomyolysis, Risiko Ginjal Kolaps saat Marathon: Ini Fakta Medis yang Perlu Diketahui

Admin WGM - Wednesday, 24 June 2026 | 02:30 PM

Background
Rhabdomyolysis, Risiko Ginjal Kolaps saat Marathon: Ini Fakta Medis yang Perlu Diketahui
(Pixabay/)

Lari marathon dikenal sebagai salah satu olahraga ketahanan paling berat yang menguji kemampuan fisik dan mental. Namun di balik prestise tersebut, terdapat risiko kesehatan serius yang jarang disadari, yaitu rhabdomyolysis, kondisi yang dapat memicu gangguan ginjal akut hingga "ginjal kolaps".

Rhabdomyolysis adalah kondisi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan berat sehingga melepaskan isi sel otot, termasuk protein seperti mioglobin, ke dalam aliran darah. Jika jumlahnya terlalu banyak, zat tersebut dapat menyumbat dan merusak fungsi ginjal.

Bagaimana Marathon Bisa Memicu Rhabdomyolysis?

Dalam aktivitas fisik berat seperti marathon, otot bekerja secara ekstrem dalam durasi panjang. Ketika tubuh tidak siap, dehidrasi, kelelahan panas, dan tekanan berlebihan pada otot dapat memicu kerusakan sel otot (exertional rhabdomyolysis).

Kondisi ini lebih sering terjadi pada pelari yang memaksakan diri melampaui batas kemampuan tubuh, terutama saat latihan tidak cukup atau kondisi tubuh tidak prima.

Dampaknya pada Ginjal

Ketika otot rusak, protein mioglobin masuk ke aliran darah dan kemudian menuju ginjal. Di organ inilah masalah besar bisa terjadi. Mioglobin dapat menyumbat saluran kecil di ginjal dan mengganggu aliran darah, sehingga fungsi ginjal menurun drastis.

Dalam kondisi berat, hal ini dapat berkembang menjadi acute kidney injury (AKI) atau gagal ginjal akut yang membutuhkan penanganan medis segera.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Rhabdomyolysis tidak selalu langsung disadari oleh pelari. Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:

  • Nyeri otot hebat dan tidak biasa
  • Kelemahan ekstrem setelah olahraga
  • Urine berwarna gelap seperti teh atau cola
  • Pembengkakan pada bagian otot tertentu
  • Dehidrasi berat

Jika gejala ini muncul setelah aktivitas berat seperti marathon, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan.

Siapa yang Paling Berisiko?

Meskipun dapat terjadi pada siapa saja, risiko rhabdomyolysis lebih tinggi pada:

  • Pelari marathon atau atlet endurance
  • Orang yang baru memulai latihan intensif
  • Individu yang berolahraga dalam kondisi panas ekstrem
  • Mereka yang mengalami dehidrasi berat

Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Pencegahan menjadi kunci utama untuk menghindari kondisi ini. Beberapa langkah penting antara lain:

  • Melatih tubuh secara bertahap sebelum mengikuti marathon
  • Menjaga hidrasi sebelum, saat, dan setelah olahraga
  • Tidak memaksakan diri saat tubuh sudah sangat lelah
  • Memperhatikan kondisi cuaca saat berlari
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti event besar

Rhabdomyolysis menunjukkan bahwa olahraga ekstrem tidak selalu tanpa risiko. Marathon memang menyehatkan, tetapi tanpa persiapan yang tepat, justru bisa berdampak serius pada kesehatan ginjal. Kesadaran terhadap batas kemampuan tubuh menjadi faktor penting agar olahraga tetap aman dan bermanfaat.