Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Entertainment

Review Drama Bridgerton dengan Dinamika Romansa dan Skandal yang Bikin Greget

Admin WGM - Thursday, 29 January 2026 | 05:23 PM

Background
Review Drama Bridgerton dengan Dinamika Romansa dan Skandal yang Bikin Greget
Foto Series Bridgerton (Netflix/)

Serial Bridgerton yang ditayangkan oleh Netflix telah berhasil mengubah wajah drama periodik dunia dengan mengawinkan estetika era Regensi Inggris yang kaku dengan narasi modern yang progresif. Berdasarkan seri novel populer karya Julia Quinn dan diproduksi oleh tangan dingin Shonda Rhimes melalui Shondaland, serial ini tidak sekadar menceritakan tentang pencarian jodoh di kalangan bangsawan London, melainkan mengeksplorasi tema-tema mendalam mengenai kekuasaan, peran gender, integritas keluarga, serta pengaruh destruktif dari gosip di ruang publik.

Pusat dari narasi ini adalah keluarga Bridgerton, delapan bersaudara yang masing-masing harus menavigasi pasar pernikahan yang kejam di bawah pengawasan tajam Lady Whistledown, seorang penulis selebaran skandal anonim yang memegang reputasi setiap bangsawan di ujung penanya. Dengan keberaniannya melakukan color-blind casting dan menyisipkan aransemen musik pop modern ke dalam pesta dansa abad ke-19, Bridgerton berdiri sebagai mahakarya visual yang meredefinisi bagaimana sejarah dapat diceritakan kembali dengan cara yang inklusif dan relevan bagi penonton global abad ke-21.

Perjalanan emosional serial ini dimulai pada musim pertama yang menyoroti debut Daphne Bridgerton, putri tertua keluarga tersebut, dalam bursa pernikahan London yang kompetitif. Musim ini berfokus pada strategi pertunangan pura-pura antara Daphne dan Simon Basset, sang Duke of Hastings yang memiliki trauma masa lalu dan bersumpah untuk tidak pernah memiliki keturunan.

Namun, apa yang dimulai sebagai siasat taktis untuk meningkatkan daya tarik Daphne di mata para pelamar dan menghindarkan Simon dari kejaran para ibu ambisius, justru berkembang menjadi gairah yang tak terkendali. Sinopsis musim pertama ini secara fundamental membahas tentang penemuan jati diri seksual dan pentingnya komunikasi dalam sebuah komitmen, sekaligus memperkenalkan penonton pada dinamika kompetisi antar-keluarga bangsawan yang dibalut dalam keindahan gaun-gaun sutra dan pesta kebun yang megah.

Memasuki musim kedua, fokus narasi bergeser pada pundak Anthony Bridgerton, sang kepala keluarga yang memiliki pandangan sinis terhadap cinta setelah kematian tragis ayahnya. Anthony memutuskan untuk mencari calon istri berdasarkan logika dan standar sosial yang ketat, yang kemudian membawanya pada pertemuan dengan Edwina Sharma.

Namun, daya tarik sebenarnya justru muncul dari perselisihan intelektual dan ketegangan magnetis antara Anthony dengan kakak perempuan Edwina, yaitu Kate Sharma. Musim ini menawarkan sinopsis yang lebih matang mengenai pengorbanan demi tugas keluarga dan bagaimana cinta sering kali muncul di tempat yang paling tidak terduga melalui rivalitas yang sengit. Ketegangan emosional antara Anthony dan Kate menjadi salah satu busur cerita paling ikonik yang menonjolkan aspek "enemies-to-lovers" dengan sangat kuat, sembari memperdalam misteri mengenai identitas asli Lady Whistledown yang mulai mengancam stabilitas internal keluarga.

Transformasi narasi semakin terasa pada musim ketiga yang menyoroti hubungan antara Colin Bridgerton dan Penelope Featherington. Musim ini secara khusus membahas tentang keindahan persahabatan yang berubah menjadi cinta, atau yang dikenal sebagai kiasan friends to lovers. Penelope, yang selama ini merasa terabaikan di pinggiran pesta dansa, memutuskan untuk mencari suami agar bisa keluar dari dominasi ibunya, sementara Colin kembali dari perjalanannya di Eropa dengan aura baru yang lebih percaya diri.

Konflik utama dalam musim ini tidak hanya terletak pada dinamika asmara mereka, tetapi juga pada beban rahasia besar yang dipikul Penelope sebagai Lady Whistledown. Kehadiran musim ketiga memperlihatkan sisi kerentanan karakter yang lebih manusiawi, di mana integritas diri diuji di tengah desakan untuk jujur kepada orang yang paling dicintai, menjadikan musim ini salah satu yang paling emosional bagi para penggemar setia.

Menuju musim keempat, spektrum cerita diprediksi akan semakin luas dengan menyoroti perjalanan Benedict Bridgerton, saudara kedua yang selama ini digambarkan sebagai jiwa seni yang bebas dan enggan terikat pada aturan pernikahan konvensional. Sinopsis musim keempat diperkirakan akan mengambil inspirasi dari kiasan ala "Cinderella", di mana Benedict terpikat oleh seorang wanita misterius dalam pesta topeng yang diselenggarakan oleh ibunya, Violet Bridgerton.

Fokus pada Benedict memberikan nuansa baru yang lebih bohemian dan mengeksplorasi sisi-sisi kehidupan London yang tidak selalu berada di bawah lampu gantung kristal istana. Musim ini diproyeksikan untuk menggali lebih dalam mengenai pencarian makna hidup di luar ekspektasi sosial bagi seorang pria yang memiliki bakat seni namun terbebani oleh nama besar keluarganya.

Baca Juga: Dari Komika Jadi Aktor Besar, Indra Jegel Sudah Bintangi Lebih dari 30 Film, Ini 7 Rekomendasi Terbaiknya!

Secara keseluruhan, Bridgerton berhasil menjaga relevansinya sebagai konten evergreen karena setiap musimnya menawarkan perspektif cinta yang berbeda-beda mulai dari gairah pertama, pengorbanan tugas, kejujuran dalam persahabatan, hingga pencarian kebebasan individu. Bagi para penggemar dan penonton baru, berikut adalah poin-poin penting untuk menikmati pengalaman menonton Bridgerton secara maksimal:

Pahami Struktur Narasi per Musim

Setiap musim fokus pada satu anggota keluarga Bridgerton yang berbeda, sehingga kamu dapat menikmati setiap babak sebagai cerita mandiri namun tetap berada dalam satu garis waktu yang koheren.

Perhatikan Detail Musik dan Kostum

Gunakan perangkat audio yang mumpuni karena serial ini sering menggunakan versi orkestra dari lagu-lagu hits seperti milik Taylor Swift atau Billie Eilish yang memberikan nuansa modern pada latar klasik.

Ikuti Petunjuk Lady Whistledown

Narasi yang dibacakan oleh Julie Andrews bukan sekadar hiasan, melainkan kunci untuk memahami konflik sosial dan perkembangan karakter tersembunyi yang akan meledak di akhir musim.

Edukasi Diri dengan Konteks Sejarah yang Diubah

Sadarilah bahwa ini adalah versi fiksi sejarah yang direvisi, sehingga keakuratan sejarah bukanlah tujuan utama, melainkan inklusivitas dan hiburan visual yang menjadi prioritas.

Keberhasilan Bridgerton terletak pada kemampuannya untuk tetap menjadi perbincangan abadi setiap kali musim baru dirilis. Serial ini telah membuktikan bahwa drama yang berlatar belakang masa lalu tidak harus terasa usang selama ia mampu menyentuh sisi-sisi universal kemanusiaan yang akan selalu dicari oleh penonton di setiap zaman.