Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Entertainment

Kenapa Novel "Cantik Itu Luka" Kembali Viral di 2026? Rahasia di Balik Kebangkitan Sastra Ikonik Eka Kurniawan di Mata Gen Z

Admin WGM - Thursday, 12 February 2026 | 08:12 PM

Background
Kenapa Novel "Cantik Itu Luka" Kembali Viral di 2026? Rahasia di Balik Kebangkitan Sastra Ikonik Eka Kurniawan di Mata Gen Z
(sakarisalah.blogspot.com/)

Jika kamu membuka media sosial akhir-akhir ini, kamu mungkin akan sering melihat sampul buku ikonik bergambar wanita dengan estetika magis-realis. Ya, "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan sedang mengalami masa "kebangkitan kedua" di tahun 2026. Novel yang pertama kali terbit di awal tahun 2000-an ini mendadak viral di kalangan anak muda, bersaing dengan judul-judul baru di rak best-seller. Bukan hanya karena narasinya yang kuat, namun ada pergeseran selera literasi yang membuat Gen Z merasa buku ini adalah cermin dari kegelisahan zaman sekarang.

1. Estetika "Indo-Gothic" yang Sesuai Tren Visual 2026

Gen Z di tahun 2026 sedang sangat menggandrungi estetika Indo-Gothic atau Nusantara Horror-Chic. Unsur realisme magis dalam novel ini—seperti hantu yang bercakap-cakap, kutukan turun-temurun, hingga sejarah yang kelam—sangat cocok dengan selera visual mereka yang menyukai hal-hal misterius, gelap, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat.

2. Isu Feminisme dan Dekonstruksi Kecantikan

Judulnya saja sudah sangat provokatif: Cantik Itu Luka. Di tengah kejenuhan terhadap standar kecantikan media sosial yang artifisial, kutipan-kutipan tajam Eka Kurniawan tentang bagaimana kecantikan bisa menjadi kutukan sekaligus senjata terasa sangat relevan. Gen Z menemukan narasi perlawanan terhadap objektivifikasi perempuan yang disampaikan secara satir dan berani dalam sosok Dewi Ayu.

3. "Historical Literacy": Keinginan Memahami Akar Bangsa

Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda di tahun 2026 memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap sejarah Indonesia yang tidak ada di buku teks sekolah. Cantik Itu Luka menyajikan sejarah masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan dengan cara yang liar dan tidak membosankan. Membaca novel ini dianggap sebagai cara "keren" untuk memahami trauma kolektif bangsa melalui kacamata sastra.

4. Kekuatan Komunitas BookTok & Bookstragram

Viralnya buku ini tidak lepas dari peran para book-influencer yang membuat konten estetik seputar bedah buku (deep dive). Video singkat yang merangkum plot twist gila di dalam novel ini memicu rasa penasaran jutaan orang yang belum membacanya, menciptakan efek bola salju yang membuat stok buku ini di toko-toko fisik kembali menipis.

Fenomena kembalinya Cantik Itu Luka membuktikan bahwa kualitas karya sastra sejati tidak akan lekang oleh waktu. Ia hanya butuh medium dan generasi baru untuk "ditemukan" kembali. Bagi kamu yang belum sempat membaca kisah epik dari Halimunda ini, tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk mulai membuka lembar pertamanya. Ingat, sastra bukan cuma soal bacaan, tapi soal pengalaman batin. Jadi, siap untuk terluka oleh kecantikan kata-kata Eka Kurniawan?