Pemerintah Ancam Cabut Izin Gojek dan Grab jika Melanggar Batas Komisi Ojol 8 Persen
Admin WGM - Sunday, 12 July 2026 | 02:00 PM


Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan komitmennya untuk membatasi potongan komisi aplikasi ojek online (ojol) maksimal sebesar 8 persen. Kebijakan baru ini dirancang untuk melindungi para mitra pengemudi agar memiliki pendapatan bersih yang lebih layak dan adil.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman memastikan bahwa penerapan skema pemotongan komisi 8 persen ini tidak akan menurunkan pendapatan para pengemudi ojol. Pemerintah optimistis kebijakan ini justru dapat mendongkrak kesejahteraan mitra dengan menekan beban potongan yang selama ini dinilai terlalu tinggi.
Meski begitu, pengamat menilai skema batas komisi 8 persen tersebut masih belum mampu melampaui standar Upah Minimum Regional (UMR) di beberapa daerah. Hal ini dikarenakan pendapatan harian mitra ojol masih sangat bergantung pada fluktuasi jumlah orderan yang masuk setiap harinya.
Guna memastikan aturan ini berjalan efektif, pemerintah juga bersikap tegas terhadap perusahaan penyedia aplikasi seperti Gojek dan Grab. Pemerintah mengancam akan mencabut izin operasional aplikator jika mereka terbukti tidak mematuhi ketentuan batas maksimal komisi tersebut.
Langkah sanksi pencabutan izin ini diambil sebagai bentuk perlindungan nyata negara terhadap jutaan pekerja di sektor informal. Pemerintah tidak ingin aturan batasan komisi yang sudah ditetapkan hanya menjadi regulasi di atas kertas tanpa kepatuhan dari pihak aplikator.
Sejauh ini, pihak Gojek dan Grab terus didorong untuk segera menyesuaikan sistem pemotongan komisi mereka sesuai dengan regulasi baru yang diterbitkan pemerintah. Penyesuaian sistem operasional ini diharapkan dapat rampung dalam waktu dekat demi menjaga stabilitas kemitraan di lapangan.
Pemerintah juga berjanji akan terus mengawasi jalannya masa transisi penerapan tarif potongan komisi baru ini secara ketat. Pengawasan berkala bakal dilakukan untuk mengantisipasi adanya kecurangan atau pemotongan terselubung yang merugikan para pengemudi.
Melalui kebijakan yang komprehensif ini, ekosistem transportasi online di Indonesia diharapkan dapat menjadi lebih sehat dan berkelanjutan bagi semua pihak. Keseimbangan antara keuntungan perusahaan aplikasi dan kesejahteraan pengemudi menjadi target utama dari intervensi regulasi pemerintah saat ini.
Next News

Mantan Calon Bupati Deli Serdang Jadi Otak Pengiriman Uang Palsu Rp 980 Juta untuk Demo di Jakarta
in 7 hours

Kayuh Sepeda Pekalongan-Jakarta Berujung Tersangka, Bareskrim Polri Periksa Keluarga Pedagang Singkong
in 3 hours

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Tegaskan Indonesia Belum Bisa Ekspor Listrik ke Singapura
14 hours ago

Pemerintah Siapkan Pajak Digital untuk Transfer Bank demi Genjot Penerimaan Negara
18 hours ago

Titik Api Masih Muncul, Kebakaran TPA Degayu Pekalongan Landa Area Seluas 1,5 Hektar
21 hours ago

Pembatalan Suket Ijazah Gibran Berpotensi Merembet ke Presiden Prabowo
2 days ago

Polda Metro Jaya Minta Maaf Soal Polemik Deklarasi Mahasiswa di Bundaran HI
2 days ago

Melestarikan Warisan Budaya, Parade Kain Batik 116 Meter Bentang Pewarna Alami di Kota Pekalongan
2 days ago

Gelombang Pengunduran Diri Musisi dan UMKM Warnai Rencana Penyelenggaraan RANS Carnival di Sleman
3 days ago

Putusan Kasasi Mahkamah Agung Batalkan Surat Penyetaraan Ijazah Gibran Rakabuming Raka
3 days ago


