Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Entertainment

Merayakan Suara Perempuan: Ini 5 Rekomendasi Buku Menelisik Emansipasi Perempuan dari Zaman ke Zaman

Admin WGM - Sunday, 25 January 2026 | 03:21 PM

Background
Merayakan Suara Perempuan: Ini 5 Rekomendasi Buku Menelisik Emansipasi Perempuan dari Zaman ke Zaman
Foto Perpustakan Jakarta, TIM. (Jaklitera/)

Perkembangan literasi di Indonesia dalam dekade terakhir menunjukkan tren penguatan pada narasi-narasi perempuan. Sastra bukan lagi sekadar hiburan, melainkan medium kritik sosial yang tajam dalam memotret perjuangan, trauma, dan daya lenting perempuan di tengah struktur patriarki yang kental. Melalui karya-karya kanonik, para penulis Indonesia berhasil menyuarakan sisi emansipasi yang sering kali luput dari catatan sejarah formal.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai lima karya sastra yang menjadi pilar penting dalam diskursus perempuan dan emansipasi:

1. Entrok (Okky Madasari)

Novel ini menyoroti kehidupan Marni di era Orde Baru. Melalui simbol entrok (bra), Okky menggambarkan perjuangan perempuan desa untuk berdaya secara ekonomi dan memiliki otoritas penuh atas tubuhnya di tengah himpitan kekuasaan militer dan stigma sosial.

2. Perempuan di Titik Nol (Nawal El Saadawi)

Karya terjemahan yang telah menjadi rujukan global ini mengisahkan Firdaus, seorang perempuan yang menghadapi ketidakadilan sistemik. Buku ini menyuarakan keberanian luar biasa dalam menolak penindasan, menjadikannya cermin refleksi bagi pembaca perempuan di berbagai belahan dunia.

3. Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan)

Melalui tokoh Dewi Ayu, Eka menggunakan gaya realisme magis untuk mengkritik bagaimana kecantikan sering kali menjadi beban dan komoditas dalam sejarah kelam kolonialisme. Ini adalah narasi tentang daya tahan (resiliensi) perempuan yang luar biasa di tengah tragedi yang bertubi-tubi.

4. Sihir Perempuan (Laksmi Pamuntjak)

Kumpulan cerpen ini membedah mitos-mitos kuno dan psikologi perempuan modern. Laksmi dengan piawai menunjukkan bahwa "sihir" sesungguhnya adalah kekuatan pikiran dan suara perempuan yang sering kali dianggap tabu atau menakutkan oleh tatanan patriarki.

5. Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari)

Melalui sosok Srintil, pembaca disuguhi realitas pahit seorang perempuan yang tubuhnya dianggap sebagai milik publik. Namun, di balik itu, terdapat pergulatan batin Srintil untuk menemukan identitas dan kemerdekaan pribadi di tengah badai politik dan tradisi yang membelenggu.

Buku-buku di atas sangat cocok dinikmati di waktu senggang sebagai sarana refleksi diri. Buat kamu yang ingin mengoleksi atau membaca buku-buku ini, seluruh judul tersebut tersedia secara resmi di Jaringan Gramedia atau toko buku independen seperti Post Santa dan Ak.sa.ra. Atau, Aplikasi iPusnas (layanan pinjam buku digital gratis milik Perpustakaan Nasional RI) atau melalui Google Play Books.

Sastra perempuan bukan hanya tentang keluhan, melainkan tentang keberanian untuk menuliskan ulang sejarah dari sudut pandang yang berbeda. Membaca karya-karya ini merupakan langkah awal dalam mendukung literasi yang inklusif dan progresif.