Sabtu, 23 Mei 2026
Walisongo Global Media
Culture

Menelusuri Makna Arsitektur Candi Penataran sebagai Pusat Religi dan Politik Majapahit

Admin WGM - Saturday, 11 April 2026 | 07:00 PM

Background
Menelusuri Makna Arsitektur Candi Penataran sebagai Pusat Religi dan Politik Majapahit
Candi Penataran Tulungagung (Epos.id /)

Dalam catatan sejarah Nusantara, wilayah selatan Jawa Timur, khususnya area yang kini mencakup Tulungagung dan Blitar, memegang peranan yang sangat vital bagi keberlangsungan Kerajaan Majapahit. Bukti paling otentik dari kepentingan strategis ini terpahat jelas pada kemegahan Candi Penataran. Dikenal juga sebagai Candi Palah, kompleks suci ini bukan hanya tempat pemujaan, melainkan simbol kedaulatan pusat pemerintahan Majapahit atas wilayah-wilayah penyangga di pesisir selatan.

Keberadaan Candi Penataran yang terus dibangun dan dipercantik secara lintas generasi mulai dari masa Kerajaan Kadiri hingga puncak keemasan Majapahit menunjukkan bahwa wilayah ini adalah jantung spiritual yang tidak pernah ditinggalkan oleh para raja.

Candi Penataran memiliki tata letak yang unik dan berbeda dari candi-candi di Jawa Tengah. Bangunannya tidak simetris di tengah, melainkan berundak dan semakin meninggi ke arah belakang, menyerupai pola gunung yang suci. Secara visual, arsitektur ini mencerminkan filosofi Gunung Meru, tempat persemayaman para dewa.

Relief-relief yang menghiasi dinding candi, seperti kisah Ramayana dan Krishnayana, dipahat dengan gaya pewayangan yang sangat detail. Gaya pahatan ini menandai transisi penting dalam seni rupa Nusantara, di mana pengaruh lokal Jawa menjadi sangat dominan dibandingkan pengaruh India. Penempatan "Candi Angka Tahun" di dalam kompleks ini juga menjadi penanda waktu yang sangat akurat, sekaligus menunjukkan tingkat penguasaan sains astronomi dan kronologi yang tinggi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Mengapa Majapahit begitu memprioritaskan wilayah selatan seperti Tulungagung? Jawaban utamanya terletak pada faktor geografis dan ekonomi. Tulungagung merupakan wilayah yang dilalui oleh aliran Sungai Brantas yang pada masa itu berfungsi sebagai "jalan tol" transportasi air.

Wilayah ini menjadi lumbung pangan yang sangat subur berkat endapan vulkanik. Bagi Majapahit, menguasai Tulungagung berarti mengamankan pasokan beras bagi seluruh kerajaan. Selain itu, pesisir selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia memiliki potensi strategis dalam hal pengawasan keamanan wilayah laut. Dengan membangun pusat religi besar seperti Penataran di dekat wilayah ini, Majapahit secara simbolis menancapkan pengaruh politiknya agar loyalitas para penguasa lokal di selatan tetap terjaga.

Dalam kitab Negarakertagama, dicatat bahwa Raja Hayam Wuruk sangat sering melakukan perjalanan suci (tirtayatra) ke wilayah selatan, termasuk mengunjungi Candi Penataran dan wilayah Tulungagung. Perjalanan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan strategi "blusukan" untuk memantau langsung kondisi rakyat dan infrastruktur di daerah.

Kehadiran raja secara rutin di wilayah ini memastikan bahwa birokrasi kerajaan berjalan dengan baik hingga ke tingkat desa. Kedekatan emosional dan spiritual antara raja dan wilayah selatan inilah yang membuat Majapahit mampu bertahan dari gejolak internal. Wilayah Tulungagung dan sekitarnya bertindak sebagai penyeimbang kekuatan ekonomi selain perdagangan maritim di pantai utara Jawa.

Arsitektur Candi Penataran adalah buku terbuka yang menceritakan betapa cerdasnya para leluhur dalam memilih wilayah strategis. Tulungagung bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan pilar penting yang menopang kemegahan Majapahit selama berabad-abad.

Memahami sejarah Candi Penataran memberikan kita perspektif bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya mengelola wilayah-wilayah strategis secara merata. Di tahun 2026, peninggalan ini tetap berdiri kokoh sebagai pengingat akan kejayaan masa lalu, sekaligus menginspirasi kita untuk terus menjaga kekayaan budaya dan geostrategi Nusantara sebagai aset bangsa yang tak ternilai harganya.