Selasa, 21 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Jepang Soroti Ancaman Nuklir, Korea Utara Balas dengan Peringatan Keras

Admin WGM - Thursday, 16 April 2026 | 10:00 AM

Background
Jepang Soroti Ancaman Nuklir, Korea Utara Balas dengan Peringatan Keras
Kritik Nuklir dalam Dokumen Jepang Dianggap Provokasi Terbuka (BBC/)

Pemerintah Korea Utara (Korut) melontarkan kecaman keras terhadap Jepang menyusul perilisan dokumen diplomatik terbaru oleh Tokyo yang mengkritik tajam program pengembangan nuklir dan rudal Pyongyang. Otoritas Korea Utara menilai langkah Jepang tersebut sebagai bentuk provokasi serius yang dapat mengganggu stabilitas kawasan Asia Timur. Ketegangan ini menandai babak baru kebuntuan diplomatik antara kedua negara yang selama ini memang memiliki sejarah hubungan yang kompleks.

Kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi kementerian luar negeri Korea Utara sebagai respons atas Buku Biru Diplomatik (Diplomatic Bluebook) Jepang tahun 2026 yang menempatkan ancaman militer Pyongyang sebagai fokus utama keamanan nasional Tokyo.

Dalam dokumen yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Jepang, Tokyo secara eksplisit menyatakan bahwa pengembangan senjata nuklir dan uji coba rudal balistik Korea Utara merupakan ancaman yang tidak dapat diterima dan melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB. Jepang juga menekankan pentingnya kerja sama trilateral bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan untuk melakukan denuklirisasi total di Semenanjung Korea.

Pyongyang bereaksi keras terhadap narasi tersebut. Mereka menuduh Jepang tengah mencoba membangun opini publik global guna membenarkan peningkatan anggaran militer Tokyo sendiri. Korea Utara menegaskan bahwa program nuklirnya adalah hak kedaulatan untuk membela diri dari apa yang mereka sebut sebagai "ancaman permusuhan" dari pihak Barat dan sekutunya di kawasan tersebut.

Melalui siaran media pemerintah, juru bicara Korea Utara memperingatkan bahwa Jepang seharusnya tidak mencampuri urusan pertahanan nasional mereka. Pyongyang menyebut kritik Jepang sebagai tindakan yang "bodoh" dan penuh dengan niat jahat untuk mengisolasi Korea Utara di panggung internasional.

"Jepang tidak memiliki hak moral maupun hukum untuk mengomentari langkah-langkah penguatan pertahanan kami. Provokasi melalui dokumen diplomatik ini hanya akan memperkuat tekad kami untuk terus mengembangkan sistem pertahanan yang lebih canggih," ujar pernyataan tersebut yang dikutip melalui kanal video Kompas.

Korea Utara juga mengingatkan Jepang mengenai sejarah masa lalu kolonialisme di semenanjung tersebut, dan meminta Tokyo untuk lebih fokus pada tanggung jawab historisnya daripada "ikut campur" dalam urusan keamanan yang diklaim bersifat internal.

Pernyataan Pyongyang yang menyebut langkah Tokyo sebagai "provokasi serius" dinilai oleh para pengamat internasional sebagai indikasi bahwa Korea Utara mungkin akan merespons dengan tindakan militer nyata, seperti uji coba rudal balistik dalam waktu dekat. Hal ini kian memperumit upaya diplomasi di Asia Timur yang saat ini juga tengah dipengaruhi oleh persaingan kekuatan besar lainnya.

Analis militer menyebutkan bahwa Jepang saat ini memang sedang memperkuat kemampuan serangan balik (counterstrike) mereka, sebuah perubahan kebijakan pertahanan yang signifikan. Perseteruan dokumen diplomatik ini menjadi pemantik yang mempertegas bahwa ruang dialog antara kedua negara tersebut saat ini hampir tertutup rapat.

Amerika Serikat dan Korea Selatan dilaporkan terus memantau situasi ini dengan saksama. Sementara itu, Jepang tetap pada pendiriannya bahwa transparansi mengenai ancaman keamanan perlu disampaikan kepada publik dan dunia internasional. Tokyo menegaskan tidak akan mundur dari komitmennya untuk menekan Korea Utara agar kembali ke meja perundingan denuklirisasi.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di perbatasan laut antara Jepang dan Korea Utara berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi. Dunia internasional berharap ketegangan retorika ini tidak berujung pada konfrontasi fisik yang dapat memicu konflik lebih luas di kawasan Pasifik Utara.