Minggu, 26 Juli 2026
Walisongo Global Media
Health

Jangan Langsung Takut! Ini Fakta Ilmiah di Balik Stigma Buruk Ular

Admin WGM - Thursday, 16 July 2026 | 10:45 AM

Background
Jangan Langsung Takut! Ini Fakta Ilmiah di Balik Stigma Buruk Ular
Edukasi reptil (Harapan Rakyat /)

Ular merupakan salah satu makhluk hidup yang paling sering disalahpahami di dunia. Selama berabad-abad, reptil melata ini kerap diasosiasikan dengan simbol kejahatan, kelicikan, hingga ancaman mematikan yang harus dimusnahkan. Ketakutan yang berlebihan ini sebagian besar lahir dari mitos dan cerita turun-temurun yang belum teruji kebenarannya secara ilmiah. Akibatnya, konflik antara manusia dan ular terus meningkat, yang sering kali berakhir dengan pembunuhan ular secara membabi buta. Untuk menciptakan ruang hidup yang aman bagi manusia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem, sangat penting bagi kita untuk mulai meluruskan berbagai miskonsepsi keliru yang selama ini beredar luas di masyarakat.

Salah satu mitos paling populer yang diyakini oleh masyarakat Indonesia adalah penggunaan garam untuk mengusir ular. Banyak orang menaburkan garam di sekeliling tenda saat berkemah atau di area pekarangan rumah dengan harapan ular tidak akan berani melintas. Secara ilmiah, hal ini adalah mitos belaka. Ular adalah hewan vertebrata yang memiliki kulit bersisik tebal dan kering, bukan hewan berlendir seperti lintah atau bekicot yang sensitif terhadap efek osmotik garam. Fakta lapangan menunjukkan bahwa ular dapat melintasi tumpukan garam tanpa merasakan perih atau hambatan sama sekali. Untuk mencegah ular masuk, langkah efektif yang benar adalah menjaga kebersihan rumah dari tumpukan barang bekas, memotong rumput liar, serta menggunakan wewangian menyengat seperti karbol atau kamper yang tidak disukai oleh penciuman ular.

Miskonsepsi besar berikutnya berkaitan dengan cara ular menyerang manusia. Ada anggapan bahwa ular adalah hewan agresif yang sengaja mengejar manusia untuk menggigit atau menyemburkan bisanya. Faktanya, ular adalah makhluk yang sangat penakut dan cenderung menghindari konflik dengan makhluk yang berukuran jauh lebih besar seperti manusia. Ular hanya akan menggigit atau menyerang sebagai bentuk pertahanan diri terakhir ketika mereka merasa terpojok, terkejut, atau tidak sengaja terinjak. Sebagian besar kasus gigitan ular terjadi karena manusia mencoba menangkap atau membunuh ular tersebut tanpa keahlian khusus. Jika bertemu ular di alam liar atau di dalam rumah, tindakan terbaik adalah tetap tenang, tidak melakukan gerakan tiba-tiba, dan memberikan ruang bagi ular tersebut untuk pergi menyelamatkan diri.

Selain perilaku, masyarakat juga sering keliru dalam membedakan antara ular berbisa dan ular tidak berbisa berdasarkan bentuk fisiknya. Mitos yang beredar menyatakan bahwa semua ular yang memiliki kepala berbentuk segitiga pasti berbisa, sedangkan yang berkepala bulat tidak berbisa. Pola pikir ini sangat menyesatkan karena banyak ular berbisa tinggi, seperti ular kobra dan ular weling, justru memiliki bentuk kepala yang bulat dan cenderung oval saat dalam kondisi tenang. Sebaliknya, beberapa jenis ular sanca yang tidak berbisa memiliki bentuk kepala menyerupai segitiga. Mengidentifikasi jenis ular memerlukan pemahaman mendalam tentang susunan sisik, bentuk mata, dan pola warna, bukan sekadar melihat bentuk kepala secara sekilas.

Meluruskan miskonsepsi seputar ular bukan hanya bertujuan untuk menghilangkan ketakutan personal, melainkan untuk melindungi stabilitas lingkungan. Sebagai predator alami, ular memegang peran krusial dalam mengendalikan populasi hama, terutama tikus di area pertanian dan pemukiman. Tanpa adanya ular, ledakan populasi tikus dapat memicu gagal panen massal dan penyebaran berbagai penyakit berbahaya bagi manusia. Melalui edukasi berbasis fakta, kita dapat mulai mengubah stigma negatif terhadap ular menjadi sikap waspada yang rasional, sehingga manusia dan alam dapat hidup berdampingan secara harmonis.