Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Gak Cuma Laper, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Brunch Jam 11 Siang Terasa Lebih Nikmat saat Libur

Admin WGM - Monday, 02 March 2026 | 03:30 PM

Background
Gak Cuma Laper, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Brunch Jam 11 Siang Terasa Lebih Nikmat saat Libur
Brunch saat libur (iStock /)

Bagi banyak orang, ritual hari Minggu tidak lengkap tanpa brunch (breakfast-lunch). Menariknya, makanan yang kita santap di jam 10 atau 11 siang sering kali terasa jauh lebih nikmat dibandingkan sarapan terburu-buru di hari kerja. Fenomena ini bukan sekadar karena kita punya waktu luang, melainkan hasil dari orkestra hormon dan pergeseran biologis yang terjadi saat kita memanjakan diri di hari libur.

1. Lonjakan Hormon Ghrelin yang Tertunda

Di hari kerja, tubuh kita sering dipaksa bangun oleh alarm, yang memicu lonjakan kortisol dan rasa lapar prematur. Namun di hari libur, saat kita bangun lebih siang, tubuh mengikuti ritme alaminya.

Hormon Ghrelin (hormon pemicu rasa lapar) biasanya mencapai puncaknya beberapa jam setelah kita bangun. Jika Anda bangun pukul 08.00 atau 09.00, puncak rasa lapar ini akan jatuh tepat di jam 11.00. Karena tubuh dalam keadaan rileks, sinyal lapar ini terasa lebih kuat dan lebih "menuntut" makanan yang padat nutrisi serta kaya rasa.

2. Efek "Thermogenesis" dan Kesiapan Pencernaan

Pagi hari sekali (pukul 06.00-07.00), suhu inti tubuh kita masih rendah dan sistem pencernaan belum sepenuhnya "panas". Memasuki jam 10.00 pagi, metabolisme tubuh berada pada posisi optimal.

Pada jam ini, lambung memproduksi asam lambung dan enzim pencernaan dengan lebih efisien. Inilah alasan mengapa makanan berat dan kompleks seperti steak and eggs, nasi lemak, atau pasta terasa lebih mudah diterima oleh perut saat brunch dibandingkan saat sarapan pagi buta.

3. Psikologi "Hedonic Eating"

Ada perbedaan antara makan untuk energi (homeostatic eating) dan makan untuk kesenangan (hedonic eating). Hari Senin sampai Jumat biasanya adalah tentang homeostatic eating—kita makan agar bisa bekerja.

Di hari libur, otak beralih ke mode hedonik. Di jam 10-11 siang, otak kita melepaskan lebih banyak dopamin saat melihat makanan yang menarik secara visual. Karena tekanan pekerjaan berkurang, kita menjadi lebih peka terhadap tekstur, aroma, dan rasa. Inilah mengapa sepiring makanan di cafe saat brunch terasa seperti sebuah perayaan kecil.

4. Kompensasi Energi dari "Social Jetlag"

Jika malam sebelumnya Anda begadang atau kurang tidur, tubuh akan mencari kompensasi energi yang cepat. Otak akan mengirimkan sinyal untuk mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat (seperti menu-menu brunch populer: pancake, gorengan, atau roti lapis keju). Jam 11 siang adalah titik di mana tubuh merasa butuh "bahan bakar" besar untuk memulai sisa hari setelah bangun yang terlambat.

5. Interaksi Sosial dan Penyerapan Nutrisi

Brunch jarang dilakukan sendirian. Makan bersama teman atau keluarga meningkatkan pelepasan oksitosin (hormon kasih sayang). Oksitosin diketahui dapat membantu melancarkan pencernaan dan mengurangi peradangan. Jadi, suasana santai saat brunch secara fisik memang membantu tubuh Anda memproses makanan berat dengan lebih baik.

Hingga saat ini, budaya brunch terus berkembang menjadi tren global karena ia merupakan titik temu yang sempurna antara kebutuhan biologis tubuh akan nutrisi dan kebutuhan psikologis manusia akan relaksasi.