Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Entertainment

Era Rebound Film Horor Lokal: Kenapa Penonton Indonesia Nggak Pernah Bosan Ditakut-takuti?

Admin WGM - Sunday, 08 February 2026 | 08:08 PM

Background
Era Rebound Film Horor Lokal: Kenapa Penonton Indonesia Nggak Pernah Bosan Ditakut-takuti?
Pennywise (Warner Bros. Entertainment Inc/)

Coba cek jadwal bioskop minggu ini. Kemungkinan besar, setidaknya ada dua atau tiga judul film horor yang sedang nampang di poster besar. Fenomena ini bukan hal baru, tapi beberapa tahun terakhir, film horor lokal mengalami "rebound" atau kebangkitan luar biasa dari segi kualitas dan jumlah penonton.

Meski keluar bioskop dengan muka pucat dan kaki lemas, anehnya kita tetap saja balik lagi buat nonton judul berikutnya. Kenapa sih orang Indonesia seolah punya "kebutuhan" untuk ditakut-takuti? Yuk, kita bedah rahasianya, Winners!

1. Kedekatan Budaya dan Mitos Lokal

Horor Indonesia punya satu senjata rahasia: Relevansi. Kita nggak takut sama drakula atau zombie, tapi kita langsung merinding kalau dengar suara anak ayam malam-malam atau melihat pohon beringin tua.

  • Alasannya: Film horor kita mengangkat urban legend, mitos daerah, dan ritual yang memang tumbuh di sekitar kita sejak kecil. Hal ini bikin rasa takutnya terasa sangat personal dan nyata, bukan sekadar fiksi.

2. Sensasi 'Adrenaline Rush' yang Nagih

Secara ilmiah, saat kita takut menonton film horor, otak kita melepaskan hormon adrenalin, endorfin, dan dopamin.

  • Efeknya: Setelah rasa takut memuncak (saat jumpscare), muncul perasaan lega dan bahagia begitu adegan tersebut lewat. Sensasi "selamat dari bahaya" ini memberikan kepuasan tersendiri yang bikin penonton ketagihan, Winners.

3. Menonton Horor Adalah Pengalaman Sosial

Sangat jarang orang berani nonton film horor sendirian di bioskop. Biasanya, kita pergi bareng teman, pasangan, atau keluarga.

  • Faktanya: Teriak bareng-bareng di dalam studio menciptakan ikatan emosional yang kuat. Ada rasa seru saat menertawakan teman yang menutup mata sepanjang film. Inilah yang membuat nonton horor jadi "ritual" nongkrong yang asik.

4. Peningkatan Kualitas Produksi (Bukan Cuma Jumpscare)

Dulu, film horor lokal sering identik dengan bumbu komedi dewasa yang kurang berkualitas. Tapi sekarang, zamannya sudah berubah.

  • Transformasi: Sutradara besar mulai turun tangan. Ceritanya makin solid, sinematografinya cantik, dan desain suaranya bikin bulu kuduk berdiri bahkan sebelum setannya muncul. Penonton sekarang menghargai art dan storytelling di balik sebuah teror.

5. Isu Sosial Berbalut Horor

Banyak film horor terbaru yang nggak cuma jualan hantu, tapi juga menyentil isu sosial seperti trauma keluarga, keserakahan manusia, hingga kritik terhadap kemiskinan. Hal ini membuat film tersebut jadi bahan diskusi seru setelah keluar bioskop, Winners.

Selama masyarakat kita masih percaya dengan hal-hal mistis dan rasa penasaran kita terhadap "dunia sebelah" masih tinggi, film horor akan terus jadi raja di negeri sendiri. Kuncinya bagi para sineas adalah terus berinovasi agar penonton tidak cuma kaget, tapi juga terkesan dengan ceritanya.