Selasa, 26 Mei 2026
Walisongo Global Media
Health

Bukan Dihakimi, Begini Cara Tepat Berbicara dengan Seseorang yang Mengalami Halusinasi

Admin WGM - Sunday, 24 May 2026 | 08:30 AM

Background
Bukan Dihakimi, Begini Cara Tepat Berbicara dengan Seseorang yang Mengalami Halusinasi
Skizofrenia (Kompas Health /)

Kebutuhan akan edukasi mengenai cara berinteraksi dengan individu yang mengalami kendala kesehatan mental harian kini semakin mendesak untuk dipahami oleh masyarakat luas. Salah satu aspek krusial yang memerlukan panduan komunikasi khusus berbasis empati adalah tata cara berbicara dan merespons seseorang yang sedang berada di bawah pengaruh atau mengalami episode halusinasi.

Halusinasi, baik berupa pendengaran, penglihatan, maupun sensorik lainnya, merupakan sebuah pengalaman yang terasa sangat nyata bagi orang yang mengalaminya, meskipun hal tersebut tidak terjadi di realitas objektif. Guna menjembatani kondisi darurat psikologis tersebut, sebuah panduan praktis diluncurkan untuk melatih masyarakat agar mampu memposisikan diri secara tepat, yaitu dengan mengambil peran ganda sebagai "telinga" dan "jangkar".

Menjadi telinga yang baik di sini berarti memberikan ruang bagi orang yang bersangkutan untuk mengekspresikan apa yang sedang mereka dengar atau lihat tanpa adanya interupsi yang bersifat menghakimi. Komunikasi empati ini melarang keras tindakan mendebat, menyanggah, atau menertawakan apa yang mereka alami. Membujuk atau meyakinkan mereka secara agresif bahwa halusinasi itu tidak ada justru akan memicu rasa tidak percaya, kepanikan yang lebih tinggi, serta membuat mereka merasa terisolasi secara emosional.

Sebaliknya, pendengar diharapkan mampu memberikan validasi terhadap perasaan atau emosi yang muncul akibat halusinasi tersebut, bukan memvalidasi isi halusinasinya. Sebagai contoh, jika seseorang merasa ketakutan karena mendengar suara-suara gaib, komunikator disarankan untuk merespons ketakutannya dengan kalimat penenang, seperti mengakui bahwa situasi tersebut pasti terasa sangat menakutkan bagi mereka, tanpa harus membenarkan keberadaan suara itu sendiri.

Peran kedua yang tidak kalah penting dalam garis waktu penanganan ini adalah bertindak sebagai jangkar (anchor). Istilah jangkar digunakan sebagai metafora untuk menambatkan kembali kesadaran orang yang sedang berhalusinasi ke dalam realitas nyata di sekitarnya. Suami, keluarga, atau teman yang berada di lokasi kejadian bertugas memberikan rasa aman fisik dan psikologis agar emosi korban tidak hanyut terlalu jauh.

Sebagai jangkar, komunikator dapat menggunakan suara yang tenang, lembut, namun tetap tegas untuk mengalihkan fokus perhatian mereka secara perlahan. Menghadirkan kontak mata yang bersahabat, menyebutkan nama mereka secara berkala, atau mengajak mereka menyadari keberadaan fisik di ruangan tersebut seperti menyentuh permukaan benda atau mengatur napas bersama—adalah bentuk teknik penambatan realitas yang sangat efektif.

Melalui penyebaran tips praktis komunikasi empati ini, masyarakat diharapkan tidak lagi merasa cemas atau bingung ketika berhadapan dengan situasi serupa. Memahami formula sederhana untuk menjadi pendengar yang penuh perhatian serta pelindung yang menambatkan realitas, dapat menjadi langkah awal yang menyelamatkan untuk mereduksi tingkat stres ekstrem pada individu yang sedang berjuang melawan halusinasinya.