Bubur Pedas Khas Sambas, Kuliner Legendaris yang Dulu Hanya Disajikan untuk Raja
Admin WGM - Sunday, 28 June 2026 | 04:30 PM


Indonesia memiliki beragam kuliner tradisional yang menyimpan nilai sejarah, salah satunya bubur pedas khas Sambas dari Kalimantan Barat. Hidangan yang dikenal masyarakat Melayu sebagai bubbor paddas ini bukan sekadar makanan pengganjal perut, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Meski menggunakan nama "pedas", bubur ini tidak memiliki rasa pedas seperti yang dibayangkan banyak orang. Sebaliknya, cita rasanya didominasi gurih dari rempah-rempah, beras sangrai, dan aneka sayuran segar yang berpadu menghasilkan aroma khas.
Dahulu Menjadi Hidangan Para Raja
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Sambas, bubur pedas awalnya merupakan hidangan istimewa yang hanya disajikan di lingkungan kerajaan Melayu. Makanan ini biasanya hadir dalam upacara adat atau acara kerajaan yang bersifat sakral sehingga tidak dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat umum.
Seiring berjalannya waktu, bubur pedas mulai dikenal luas. Pada masa penjajahan, ketika bahan pangan sulit diperoleh, masyarakat Sambas memanfaatkan beras dan berbagai sayuran lokal untuk membuat bubur yang mengenyangkan sekaligus bergizi. Karena menggunakan banyak bahan yang mudah ditemukan, hidangan ini menjadi solusi saat persediaan makanan terbatas.
Kaya Sayuran dan Rempah
Keunikan bubur pedas terletak pada komposisinya. Beras terlebih dahulu disangrai hingga kecokelatan, kemudian ditumbuk bersama kelapa sangrai sebelum dimasak dengan kaldu. Setelah itu ditambahkan berbagai sayuran seperti kangkung, pakis, tauge, kacang panjang, wortel, ubi jalar, rebung, hingga daun kesum yang memberikan aroma khas.
Saat disajikan, bubur biasanya dilengkapi taburan kacang tanah goreng, ikan teri, bawang goreng, serta pelengkap seperti sambal, kecap manis, dan jeruk limau sesuai selera. Kombinasi inilah yang membuat cita rasanya semakin kaya.
Tak Pedas Meski Namanya Bubur Pedas
Banyak orang mengira bubur pedas memiliki rasa yang sangat menyengat. Padahal, kata "pedas" dalam budaya Melayu Sambas lebih merujuk pada banyaknya rempah dan bumbu yang digunakan, bukan dominasi cabai. Rasa gurih, harum, dan segar justru menjadi ciri utama hidangan ini.
Hingga kini, bubur pedas masih menjadi sajian favorit masyarakat Sambas, terutama saat bulan Ramadan sebagai menu berbuka puasa. Selain itu, makanan ini juga sering disajikan pada acara keluarga maupun festival budaya sebagai bagian dari identitas kuliner Melayu Kalimantan Barat.
Bubur pedas khas Sambas bukan hanya menawarkan cita rasa yang unik, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan budaya Melayu dan kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Dari hidangan kerajaan hingga menjadi makanan rakyat, bubur ini tetap mempertahankan keaslian rasa serta nilai tradisi yang membuatnya layak dikenal lebih luas sebagai salah satu kuliner legendaris Nusantara.
Next News

Mengenal Tradisi Jumat Berkah: Makna Sosial dan Ide Menu Praktis untuk Berbagi
4 days ago

Menikmati Kehangatan Tradisi Berbagi Makanan Gratis Saat Agustusan di Pekalongan
16 days ago

Penawar Stres Paling Ampuh! Alasan Kelembutan Fluffy Cake Sukses Bikin Suasana Hati Langsung Naik Class
16 days ago

Cegah Lonjakan Gula Darah! Strategi Menukar Nasi Putih dengan Pangan Lokal
16 days ago

Bebas Gluten dan Lezat! Panduan Mengolah Tepung Mocaf dan Sagu Jadi Kue Kekinian
16 days ago

Superfood Lokal! 6 Makanan Pokok Indonesia Pengganti Nasi yang Lebih Rendah Glikemik
16 days ago

Kenyang Tak Harus Nasi! Mengenal Konsep Diversifikasi Pangan untuk Ketahanan Keluarga
16 days ago

Bebas Tekstur Lembek dan Berair, Menguasai Trik Mengolah Jamur Agar Tetap Kenyal dan Kaya Rasa Umami
17 days ago

Pelengkap Sempurna Momen Kebersamaan, Menelusuri Kehangatan Sajian Risol Sebagai Kudapan Favorit Sepanjang Masa
17 days ago

Bebas dari Rasa Pahit, Menguasai Rahasia Pengolahan Saus Kedelai Hitam Jjajangmyeon yang Gurih dan Legit
17 days ago





