Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Bau Keringat Gak Hilang-hilang? Ternyata Ini Alasan Baju Poliester Lebih Cepat Bau dibanding Katun

Admin WGM - Sunday, 01 March 2026 | 01:03 PM

Background
Bau Keringat Gak Hilang-hilang? Ternyata Ini Alasan Baju Poliester Lebih Cepat Bau dibanding Katun
Baju yang nyaman digunakan (Sinocomfort /)

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa kaos olahraga berbahan poliester cenderung memiliki bau asam yang lebih tajam dan sulit hilang setelah dipakai, sementara kaos katun biasa terasa lebih segar meski sama-sama berkeringat? Fenomena ini bukan karena Anda kurang bersih saat mandi, melainkan akibat peperangan mikroskopis yang terjadi di permukaan serat baju Anda. Secara ilmiah, perbedaan antara Serat Alami (Katun) dan Serat Sintetis (Poliester) menentukan seberapa nyaman bakteri penyebab bau "tinggal" di pakaian Anda.

Penyebab utamanya adalah sifat Hidrofobik (takut air) dari poliester. Serat poliester pada dasarnya adalah plastik. Ia dirancang untuk menolak air agar cepat kering saat dipakai berolahraga. Namun, poliester bersifat Oleofilik (suka minyak). Keringat manusia sebenarnya tidak berbau, tetapi minyak tubuh (sebum) yang keluar bersama keringat adalah makanan utama bagi bakteri. Poliester akan menyerap minyak kulit ini ke dalam pori-pori seratnya dengan sangat kuat. Karena minyak tidak bisa larut dalam air dengan mudah, sisa-sisa lemak ini tetap menempel meski baju sudah dicuci dengan deterjen biasa, menciptakan "prasmanan" abadi bagi bakteri untuk berkembang biak.

Sebaliknya, Katun adalah serat alami yang bersifat Hidrofilik (suka air). Serat katun menyerap keringat ke dalam struktur selulosenya. Karena katun menyerap air, bakteri penyebab bau justru lebih sulit menempel pada permukaan seratnya. Penelitian menunjukkan bahwa jenis bakteri bernama Micrococcus—biang keradi bau ketiak yang menyengat—tumbuh sangat subur di atas serat poliester, namun hampir tidak bisa berkembang di atas serat katun. Bakteri ini memecah asam lemak dari keringat menjadi molekul kecil yang menguap dan menghasilkan bau apek yang khas.

[Image showing a microscopic comparison between cotton fibers (hollow and absorbent) and polyester fibers (smooth and oily)]

Selain faktor bakteri, poliester memiliki struktur serat yang sangat rapat dan halus. Hal ini menciptakan lingkungan yang hangat dan lembap di antara kulit dan kain—inkubator sempurna bagi kuman. Sementara katun memiliki sirkulasi udara yang lebih baik (breathable), yang membantu penguapan keringat sebelum bakteri sempat memprosesnya menjadi bau busuk.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya jika Anda tetap harus memakai baju olahraga poliester?

Gunakan Cuka Putih: Rendam baju poliester dalam campuran air dan sedikit cuka putih sebelum dicuci untuk membantu meluruhkan tumpukan minyak tubuh.

Deterjen Khusus Sport: Gunakan deterjen yang mengandung enzim pemecah lemak (lipase) yang dirancang khusus untuk pakaian sintetis.

Jangan Ditumpuk: Jangan pernah membiarkan baju olahraga yang basah tertumpuk di keranjang cucian; segera cuci atau jemur agar bakteri tidak berpesta pora di sana.

Memahami karakter serat pakaian membantu kita lebih bijak dalam memilih bahan sesuai aktivitas. Katun adalah pemenang untuk kenyamanan harian, sementara poliester tetap menjadi juara untuk performa olahraga—asalkan kita tahu cara menangani "tamu tak diundang" di serat plastiknya.

Hingga saat ini, inovasi tekstil terus berkembang dengan menciptakan serat sintetis yang diberi lapisan antibakteri, membuktikan bahwa sains selalu mencari cara agar kita bisa tetap aktif tanpa harus terganggu oleh bau yang mengganggu.