Sabtu, 2 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Tenggat 60 Hari Donald Trump Bikin Harga Minyak Dunia Tembus Rekor Baru

Admin WGM - Saturday, 02 May 2026 | 07:00 PM

Background
Tenggat 60 Hari Donald Trump Bikin Harga Minyak Dunia Tembus Rekor Baru
Dampak Kebijakan Trump Terhadap Ekspor Minyak Iran (Seputar Papua /)

Pasar energi dunia mengalami volatilitas ekstrem pada awal Mei 2026 menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah dunia dilaporkan sempat menyentuh level tertinggi di angka US$114 per barel setelah mantan Presiden Donald Trump memberikan tekanan politik terkait kebijakan energi dan nuklir Iran. Dinamika ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya krisis pasokan yang lebih dalam, meski secercah harapan muncul lewat inisiatif diplomatik baru yang diajukan oleh Teheran guna meredakan tensi.

Ketidakpastian di Timur Tengah kembali menjadi motor utama penggerak harga komoditas energi, yang berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat di berbagai belahan dunia.

Tekanan Politik dan Tenggat 60 Hari

Dinamika pasar minyak kali ini sangat dipengaruhi oleh manuver politik domestik di Amerika Serikat yang berimbas pada kebijakan luar negeri. Melansir laporan CNBC Indonesia, Donald Trump memberikan tenggat waktu 60 hari terkait peninjauan kembali kesepakatan dengan Iran. Tekanan ini mencakup ancaman sanksi yang lebih berat terhadap ekspor minyak Iran jika persyaratan tertentu tidak dipenuhi.

Sinyal keras dari Washington tersebut segera direspons oleh pelaku pasar dengan aksi beli, yang mendorong harga minyak mentah melesat hingga menembus ambang batas psikologis US$114 per barel. Para analis energi berpendapat bahwa ancaman hilangnya pasokan dari salah satu produsen minyak besar dunia ini menciptakan premi risiko yang signifikan pada harga komoditas tersebut per awal Mei 2026.

Inflasi Bahan Bakar di Amerika Serikat

Kenaikan harga minyak mentah global telah merembet pada harga eceran bahan bakar di tingkat konsumen. Melansir data dari Republika, harga rata-rata bensin di Amerika Serikat kini telah mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Lonjakan ini memberikan tekanan inflasi yang besar bagi rumah tangga dan sektor transportasi di AS, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Kenaikan harga bensin ini menjadi isu sensitif, mengingat dampaknya yang langsung dirasakan oleh pemilih. Pemerintah Amerika Serikat kini berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan antara kebijakan luar negeri yang tegas terhadap Iran dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas harga energi domestik agar tidak memicu gejolak ekonomi lebih lanjut.

Proposal Damai Iran: Sinyal Penurunan Harga

Di tengah memanasnya situasi, muncul perkembangan diplomatik yang memberikan sedikit napas lega bagi pasar global. Melansir laporan BeritaSatu, harga minyak dilaporkan mulai mengalami koreksi tipis atau penurunan moderat setelah pemerintah Iran secara resmi mengajukan proposal damai kepada Amerika Serikat. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah taktis Teheran untuk menghindari konfrontasi langsung dan potensi sanksi ekonomi yang lebih melumpuhkan.

Proposal tersebut mencakup sejumlah poin negosiasi terkait aktivitas energi dan keamanan regional. Meskipun hasil dari tawaran damai ini masih menunggu respons resmi dari Gedung Putih, sentimen pasar sedikit melunak. Pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan solusi diplomatik yang dapat menjamin kelancaran arus pasokan minyak dari Teluk Persia ke pasar internasional.

Proyeksi Pasar dan Dampak Global

Hingga Sabtu (2/5/2026), para pialang minyak internasional masih terus memantau setiap perkembangan dari Washington dan Teheran. Jika proposal damai tersebut ditolak atau menemui jalan buntu, para ahli memprediksi harga minyak dapat kembali melonjak melampaui angka US$120 per barel. Sebaliknya, kesepakatan apa pun yang tercapai dalam kurun waktu 60 hari ke depan dapat menstabilkan harga di level yang lebih rendah.

Negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, kini mulai waspada terhadap dampak kenaikan harga energi ini terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama terkait beban subsidi bahan bakar. Koordinasi tingkat global melalui organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) juga diharapkan dapat memberikan intervensi pasar guna menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran di tengah situasi politik yang tidak menentu.