Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Strategi Ubah Ancaman Invasif Jadi Peluang Ekonomi Lewat Pemanfaatan Ikan Sapu-Sapu

Admin WGM - Wednesday, 28 January 2026 | 01:53 PM

Background
Strategi Ubah Ancaman Invasif Jadi Peluang Ekonomi Lewat Pemanfaatan Ikan Sapu-Sapu
Foto Peternakan Ayam (unsplash.com/@relentlessjpg/)

Dominasi ikan sapu-sapu (Loricariidae) di perairan tawar Indonesia sering kali dipandang sebagai jalan buntu ekologis. Sifatnya yang mampu menyerap polutan logam berat membuat ikan ini berbahaya jika dikonsumsi manusia. Namun, di tangan para inovator dan peneliti lingkungan, status "hama" yang melekat pada ikan ini mulai bergeser menjadi bahan baku produktif yang bernilai ekonomi tinggi tanpa membahayakan kesehatan publik.

Transformasi Menjadi Tepung Ikan Protein Tinggi

Salah satu solusi paling menjanjikan adalah pengolahan ikan sapu-sapu menjadi tepung ikan sebagai bahan baku pakan ternak. Meskipun tidak layak untuk piring manusia, ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein kasar yang sangat tinggi, yang secara biologis dibutuhkan oleh unggas, lele, hingga ikan hias.

Melalui proses pengolahan yang tepat—termasuk pemanasan suhu tinggi untuk menghilangkan patogen—daging dan tulang ikan sapu-sapu yang digiling dapat menjadi alternatif substitusi tepung ikan impor yang harganya kian melambung. Pemanfaatan ini memberikan dua keuntungan sekaligus: menekan biaya produksi peternak lokal dan secara bertahap mengurangi populasi spesies invasif di sungai-sungai kita.

Pupuk Organik Cair sebagai Solusi Pertanian Berkelanjutan

Selain pakan ternak, kandungan hara dalam tubuh ikan sapu-sapu menyimpan potensi besar bagi sektor pertanian. Penelitian dalam jurnal agronomi menunjukkan bahwa limbah ikan kaya akan unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) yang esensial bagi pertumbuhan tanaman.

Ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) melalui proses fermentasi anaerob. Dalam proses ini, mikroorganisme pengurai memecah protein ikan menjadi nutrisi yang mudah diserap oleh tanaman. Penggunaan POC ikan sapu-sapu tidak hanya membantu petani beralih ke pertanian organik yang lebih murah, tetapi juga menjadi metode pemusnahan massal yang paling aman bagi lingkungan daripada membiarkan bangkai ikan membusuk di pinggir sungai.

Potensi Eksotis di Industri Kerajinan Kulit

Inovasi yang mungkin paling mengejutkan datang dari sektor kriya. Kulit ikan sapu-sapu yang keras, bersisik tajam, dan memiliki tekstur unik kini mulai dilirik sebagai bahan exotic leather. Di beberapa negara seperti Meksiko dan Filipina, kulit ikan dari keluarga Loricariidae ini diolah melalui proses penyamakan menjadi produk fesyen seperti dompet, sabuk, hingga sepatu.

Tekstur sisiknya yang menyerupai kulit reptil memberikan nilai estetika tinggi yang sulit ditiru. Jika industri kerajinan kulit di Indonesia mulai mengadopsi teknologi penyamakan ini, ikan sapu-sapu yang tadinya dianggap sampah visual di sungai dapat berubah menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Mengatasi ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak bisa hanya mengandalkan pelarangan, tetapi harus disertai dengan menciptakan ekosistem ekonomi baru. Dengan mendorong pemanfaatan non-konsumsi, masyarakat memiliki insentif ekonomi untuk menangkap ikan ini secara masif tanpa ada risiko kontaminasi pada rantai pangan manusia.

Langkah ini memerlukan dukungan regulasi dari pemerintah untuk menjamin bahwa jalur distribusi ikan sapu-sapu benar-benar bermuara pada industri non-pangan (pakan dan pupuk), bukan kembali ke pasar konsumsi. Dengan demikian, krisis lingkungan di sungai Indonesia dapat perlahan teratasi melalui jalur inovasi dan kemandirian ekonomi.