Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Strategi Membangun Side Hustle yang Masuk Akal dan Berorientasi pada Nilai Hidup ketimbang Status

Admin WGM - Wednesday, 28 January 2026 | 02:34 PM

Background
Strategi Membangun Side Hustle yang Masuk Akal dan Berorientasi pada Nilai Hidup ketimbang Status
Foto Remaja (unsplash.com/@landolakesinc/)

Tren pamer kesuksesan instan di media sosial mulai kehilangan taringnya di mata Gen Z. Alih-alih terobsesi mengejar jabatan tinggi, mereka kini lebih memprioritaskan "pekerjaan bermakna" dan ketenangan hidup daripada sekadar mengikuti ambisi karier yang melelahkan.

Side hustle atau kerja sampingan kini bukan lagi sekadar cara untuk bertahan hidup, melainkan sarana untuk mengeksplorasi identitas tanpa harus kehilangan ketenangan pikiran. Berikut adalah tips memulai side hustle yang masuk akal dan tetap memprioritaskan kesehatan mental.

1. Cari Irisan Antara Skill, Hobi, dan Nilai Diri

Langkah pertama agar kerja sampingan tidak terasa seperti beban tambahan adalah mencari irisan yang tepat. Jangan hanya melihat apa yang sedang tren (seperti crypto atau dropshipping jika Anda tidak menyukainya).

Tanyakan pada diri sendiri tentang pengetahuan atau pengalaman apa yang dikuasai dan tetap memberikan rasa puas secara personal. Kalau Winners lebih menyukai desain dan peduli pada isu lingkungan, menjadi desainer lepas untuk UMKM berkelanjutan akan terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar mengejar proyek dengan bayaran tertinggi namun bertentangan dengan prinsip.

2. Prioritaskan Fleksibilitas, Bukan Otoritas

Banyak konten menyarankan untuk "menjadi bos bagi diri sendiri." Kenyataannya, menjadi bos berarti memikul tanggung jawab administratif dan tekanan yang luar biasa. Bagi Gen Z yang menghargai waktu luang, side hustle yang masuk akal adalah yang menawarkan fleksibilitas.

Pilihlah model kerja berbasis proyek atau jasa yang memungkinkan Winners mengatur jam kerja sendiri. Fokusnya bukan pada kekuasaan untuk memerintah orang lain, tetapi pada kedaulatan atas waktu Anda sendiri.

3. Validasi Realitas: Mulai dari Skala Mikro

Hindari jebakan modal besar di awal. Side hustle yang sehat adalah yang tumbuh secara organik. Gunakan platform yang sudah ada untuk memvalidasi ide dan menawarkan jasa penulisan atau riset, mulailah dengan membangun portofolio di platform profesional. Keberhasilan dalam kerja sampingan tidak diukur dari seberapa besar kantor yang ditempati, melainkan dari seberapa konsisten pendapatan tambahan tersebut tanpa mengganggu pekerjaan utama atau waktu istirahat.

4. Batasi Ekspektasi dan Hindari Burnout

Media sering kali menampilkan side hustle sebagai jalan pintas menuju kekayaan. Secara realistis, side hustle yang bermakna mungkin hanya menambah 10-20% pendapatan bulanan di awal, dan itu sudah sangat bagus. Jangan biarkan "kerja sampingan" berubah menjadi "pekerjaan utama kedua" yang menyedot energi emosional Anda. Berikan batasan waktu yang jelas kapan Anda harus bekerja dan kapan Anda harus benar-benar berhenti dari layar.

Penelitian menunjukkan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling kesepian dan paling rentan terhadap stres kerja. Menurut survey Deloitte Global 2024 terkait Gen Z and Millennial survey, tujuan hidup (sense of purpose) adalah kunci utama kepuasan kerja bagi generasi ini. Mereka lebih memilih dibayar cukup untuk pekerjaan yang berdampak positif bagi komunitas daripada dibayar sangat tinggi untuk pekerjaan yang dianggap toksik atau tidak bermanfaat bagi lingkungan.

Pada akhirnya, side hustle yang masuk akal adalah yang membuat Anda merasa lebih hidup, bukan lebih lelah. Ini bukan tentang membangun imperium bisnis, tapi tentang menciptakan ruang di mana Anda bisa berkarya dengan jujur.