Kamis, 17 September 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Sering Belanja Pas Lagi Stres? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiah di Balik 'Retail Therapy'!

Admin WGM - Tuesday, 05 May 2026 | 10:30 AM

Background
Sering Belanja Pas Lagi Stres? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiah di Balik 'Retail Therapy'!
Checkout Keranjang Bikin Hati Senang Sesaat (Kumparan/)

Fenomena retail therapy berakar pada kebutuhan manusia untuk merasa lebih baik saat menghadapi tekanan atau ketidakpastian. Menariknya, kebahagiaan yang muncul saat berbelanja sering kali sudah dimulai jauh sebelum transaksi terjadi. Semuanya bermula dari zat kimia di otak yang bernama Dopamin.

1. Kekuatan Antisipasi: Peran Si "Molekul Motivasi"

Banyak orang keliru menganggap dopamin sebagai hormon yang dilepaskan setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Faktanya, dopamin adalah hormon antisipasi. Saat Anda sedang melihat-lihat etalase atau memasukkan barang ke dalam keranjang belanja digital, otak Anda sudah mulai melepaskan dopamin.

Sensasi mendebarkan saat membayangkan memiliki barang baru atau menunggu paket tiba di depan pintu rumah memberikan lonjakan energi yang menyenangkan. Inilah alasan mengapa "cuci mata" (window shopping) terkadang sudah cukup untuk memberikan kepuasan; otak Anda menikmati kemungkinan mendapatkan sesuatu, terlepas dari apakah transaksi itu benar-benar terjadi.

2. Mengembalikan Kendali dalam Kekacauan

Selain faktor kimiawi, berbelanja memberikan dampak psikologis berupa penguatan rasa kendali (sense of control). Saat seseorang merasa stres atau sedih, biasanya hal itu dipicu oleh situasi hidup yang terasa di luar kendali mereka.

Aktivitas memilih antara baju warna merah atau biru, membandingkan spesifikasi gadget, atau memutuskan untuk membeli sebuah barang memberikan otonomi penuh kepada individu tersebut. Tindakan membuat keputusan pembelian yang sadar membantu mengembalikan perasaan bahwa mereka memegang kendali atas lingkungan mereka, setidaknya dalam skala kecil di dalam pusat perbelanjaan.

3. Kelegaan Visual dan Distraksi Mental

Lingkungan tempat berbelanja juga dirancang untuk menstimulasi panca indra. Lampu yang terang, aroma parfum yang khas, dan tata letak barang yang estetik menciptakan bentuk pelarian atau distraksi dari kenyataan hidup yang menjenuhkan. Berbelanja memaksa otak untuk beralih dari pikiran-pikiran negatif ke tugas-tugas visual dan penilaian estetika, yang secara efektif berfungsi sebagai mekanisme koping jangka pendek untuk meredakan kecemasan.

Analisis Singkat: Mengapa Kebahagiaan Ini Bersifat Sesaat?

Sayangnya, kebahagiaan yang berasal dari retail therapy sering kali bersifat efemer atau sementara. Setelah barang tersebut berpindah ke tangan Anda dan sensasi baru tersebut memudar, otak akan mengalami proses yang disebut Adaptasi Hedonik. Ini adalah kondisi di mana manusia dengan cepat kembali ke tingkat kebahagiaan stabil setelah mengalami lonjakan emosional.

Ketika barang baru tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas harian, dopamin berhenti mengalir, dan rasa hampa atau stres yang sebelumnya dihindari bisa muncul kembali. Inilah yang terkadang memicu siklus belanja berulang untuk mengejar kembali "lonjakan" berikutnya.

Retail therapy memang terbukti secara ilmiah dapat memberikan dorongan suasana hati yang instan melalui pelepasan dopamin dan pengembalian rasa kendali. Namun, kunci utama agar aktivitas ini tetap menyehatkan adalah moderasi. Menggunakan belanja sebagai alat bantu relaksasi sesekali tentu diperbolehkan, namun menjadikannya satu-satunya cara untuk mengatasi emosi negatif dapat berujung pada penyesalan finansial yang justru meningkatkan stres di kemudian hari.