Jumat, 10 Juli 2026
Walisongo Global Media
Economy

Rupiah Keok Lagi! Nyaris Tembus Level Psikologis Rp18.000 per Dolar AS Pagi Ini

Admin WGM - Monday, 06 July 2026 | 11:30 AM

Background
Rupiah Keok Lagi! Nyaris Tembus Level Psikologis Rp18.000 per Dolar AS Pagi Ini
Penyebab rupiah melemah terhadap dolar senin pagi (Waspada.id /)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi, 6 Juli 2026. Mata uang Garuda merosot hingga menyentuh kisaran Rp17.992 hingga Rp17.997 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat bertengger di level Rp17.993 pada akhir pekan.

Pelemahan ini membuat posisi dolar AS semakin kuat dan berada dalam jarak yang sangat dekat dengan level psikologis baru sebesar Rp18.000. Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global serta penguatan indeks dolar di pasar internasional.

Meski kondisi nilai tukar rupiah terpantau kian keok, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan arah sebaliknya. Pasar modal dalam negeri berhasil mengawali pekan dengan bergerak ke zona hijau, berbanding terbalik dengan performa nilai tukar yang tertekan.

Di sisi lain, sejumlah analis pasar uang sempat memprediksi bahwa kurs rupiah berpotensi bergerak menguat terbatas pada perdagangan awal pekan ini. Perkiraan tersebut didasari oleh harapan adanya intervensi dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar di pasar domestik.

Langkah intervensi melalui pasar spot maupun domestik non-deliverable forward (DNDF) dinilai sangat krusial guna menahan depresiasi yang terlalu dalam. Jika tidak diantisipasi, pelemahan yang menembus angka Rp18.000 dikhawatirkan dapat memicu sentimen negatif yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Hingga pertengahan hari, para pelaku pasar masih terus mencermati rilis data ekonomi terbaru serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Volatilitas yang tinggi ini memaksa para investor untuk cenderung bersikap waspada dalam menempatkan portofolio aset mereka.

Pemerintah bersama otoritas moneter menegaskan akan terus bersinergi dalam mengawal momentum pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak eksternal. Pemantauan secara ketat terhadap pasokan valuta asing di dalam negeri tetap diprioritaskan demi menjaga kepercayaan pasar secara berkelanjutan.