Langit Mei Membara! Ada Hujan Meteor dan Penutupan Indah oleh Blue Moon
Admin WGM - Thursday, 07 May 2026 | 11:00 AM


Para pencinta astronomi dan pengamat langit di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bersiap menyambut rangkaian fenomena antariksa yang luar biasa sepanjang bulan Mei 2026. Bulan ini diprediksi menjadi salah satu periode paling menarik bagi dunia ilmu pengetahuan karena kehadiran dua kali bulan purnama dalam satu bulan kalender—sebuah peristiwa langka yang dikenal sebagai Blue Moon. Selain itu, dinamika langit akan dimeriahkan oleh puncak hujan meteor yang dapat diamati dengan mata telanjang di wilayah dengan polusi cahaya rendah.
Rangkaian peristiwa alam ini menjadi momentum penting bagi edukasi sains masyarakat sekaligus memberikan pemandangan visual yang menakjubkan dari permukaan bumi.
Fenomena Langka: Dua Kali Purnama dalam Sebulan
Bulan Mei 2026 diawali dan diakhiri dengan pemandangan satelit alami bumi yang megah. Melansir laporan CNN Indonesia, fenomena langka ini terjadi karena siklus fase bulan yang hanya membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari, sementara bulan Mei memiliki durasi 31 hari. Purnama pertama telah muncul di awal bulan, dan purnama kedua dijadwalkan akan menghiasi langit malam pada 31 Mei 2026.
Kehadiran dua bulan purnama dalam kurun waktu 31 hari merupakan peristiwa yang tidak terjadi setiap tahun. Secara statistik, fenomena ini hanya muncul rata-rata setiap dua hingga tiga tahun sekali, sehingga kemunculannya di tahun 2026 menjadi daya tarik tersendiri bagi fotografer astrophotography dan masyarakat umum.
Menguak Mitos Warna "Blue Moon"
Meskipun dinamakan Blue Moon atau "Bulan Biru", istilah tersebut tidak merujuk pada perubahan warna fisik satelit bumi menjadi biru. Melansir ulasan dari Kompas Sains, penamaan ini merupakan istilah astronomi tradisional untuk menyebutkan purnama kedua dalam satu bulan masehi. Secara visual, bulan akan tetap tampak dengan warna putih keabuan atau kekuningan seperti purnama pada umumnya.
Para ahli astronomi menekankan bahwa bulan hanya akan terlihat benar-benar biru jika terjadi gangguan atmosfer ekstrem, seperti letusan gunung berapi besar atau kebakaran hutan masif yang melepaskan partikel debu ke udara dalam jumlah banyak. "Masyarakat tidak perlu berekspektasi melihat warna biru di langit pada 31 Mei mendatang. Ini adalah istilah penanggalan, bukan perubahan optik pada bulan," tulis laporan tersebut dalam sesi edukasi publik pada Rabu (6/5/2026).
Puncak Hujan Meteor dan Konjungsi Planet
Selain fenomena bulan, Mei 2026 juga menjadi panggung bagi pertunjukan meteor yang memukau. Melansir informasi dari Kontan Iptek, langit Mei akan diwarnai oleh puncak hujan meteor Eta Aquariid. Fenomena ini berasal dari puing-puing Komet Halley yang terbakar saat memasuki atmosfer bumi. Pengamat di Indonesia berkesempatan melihat belasan hingga puluhan meteor per jam, terutama pada dini hari menjelang subuh di lokasi yang gelap dan jauh dari lampu perkotaan.
Selain hujan meteor, sejumlah planet seperti Mars dan Jupiter juga diprediksi akan berada pada posisi konjungsi yang membuat mereka terlihat lebih terang dan lebih dekat dengan posisi bulan dalam beberapa malam tertentu. Penjajaran planet ini memberikan bantuan navigasi alami bagi para astronom amatir untuk mengenali benda-benda langit tanpa menggunakan teleskop canggih.
Imbauan Pengamatan dan Cuaca
Lembaga antariksa nasional mengimbau masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian fenomena ini untuk memantau prakiraan cuaca setempat. Mengingat sebagian wilayah Indonesia masih berada dalam masa transisi musim, potensi awan mendung atau hujan sering kali menjadi kendala utama dalam pengamatan visual.
Bagi warga yang ingin mengamati Blue Moon pada akhir Mei nanti, puncak purnama diprediksi terjadi pada tengah malam waktu Indonesia bagian barat. Pengamatan akan lebih optimal jika dilakukan di area terbuka tanpa penghalang bangunan tinggi atau pohon. Peristiwa langit ini diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap eksplorasi ruang angkasa dan memperkuat literasi astronomi di tanah air di tengah perkembangan teknologi kedirgantaraan yang kian pesat.
Next News

Keanekaragaman Hayati Miangas Flora dan Fauna yang Hanya Ditemukan di Wilayah Perbatasan
5 hours ago

Ikan Purba yang Masih Hidup Mengenal Coelacanth dan Sejarah Penemuannya di Indonesia
a day ago

Misteri Lubang Hitam Supermasif di Balik Indahnya Lengan Spiral NGC 3137
a day ago

Ingin Lawan Sel Kanker? Coba Terapi Berkemah dan Konsumsi Herbal Nusantara
a day ago

Mengapa Ikan Cupang Tidak Boleh Disatukan? Mengenal Sifat Teritorial dan Solusinya
a day ago

Huawei Watch Fit 5 Series Resmi Meluncur Global, Hadirkan Fitur Deteksi Risiko Diabetes
2 days ago

Fenomena Langka Dua Kali Bulan Purnama Hiasi Langit Mei 2026
3 days ago

Bibit 93W Menguat Jadi Siklon Tropis, Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Diguyur Hujan Lebat
3 days ago

Jangan Sampai Tertukar Inilah Alasan Ilmiah Mengapa Pisang Masuk Klasifikasi Beri dan Stroberi Tidak
5 days ago

Cuaca Antariksa Jadi Alarm Gempa? Badai Matahari Diduga Kuat Percepat Pergerakan Lempeng
5 days ago





