Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Kenapa Sulit Berhenti dari Hal yang Merugikan? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiah Sunk Cost Fallacy

Admin WGM - Tuesday, 17 February 2026 | 02:57 PM

Background
Kenapa Sulit Berhenti dari Hal yang Merugikan? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiah Sunk Cost Fallacy
Tips belanja efektif (pexels.com/ Gustavo Fring/)

Secara harfiah, sunk cost berarti "biaya yang sudah tenggelam" atau biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat ditarik kembali. Dalam logika ekonomi dan psikologi, biaya ini seharusnya tidak lagi menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan di masa depan. Namun, pada kenyataannya, manusia sering kali melakukan hal sebaliknya.

Fenomena ini terjadi karena adanya bias kognitif di mana kita cenderung terus berinvestasi pada sesuatu (waktu, uang, atau emosi) hanya karena kita sudah mengeluarkan banyak hal untuk hal tersebut, terlepas dari apakah hasil ke depannya akan tetap buruk atau merugikan.

Mengapa Otak Kita Terjebak?

Ada beberapa alasan psikologis kuat di balik munculnya Sunk Cost Fallacy:

  • Keengganan Merugi (Loss Aversion): Manusia secara alami lebih takut kehilangan sesuatu daripada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Berhenti dari sebuah proyek yang gagal terasa seperti "mengakui kekalahan" dan kehilangan investasi yang sudah ditanamkan.
  • Disonansi Kognitif: Kita ingin merasa bahwa keputusan yang kita ambil di masa lalu adalah benar. Jika kita berhenti sekarang, otak kita dipaksa mengakui bahwa keputusan awal kita salah. Untuk menghindarinya, kita terus bertahan agar terlihat konsisten.
  • Tekanan Sosial: Ada stigma di masyarakat bahwa "orang yang berhenti adalah pecundang". Ketakutan akan pandangan orang lain membuat kita terjebak dalam situasi yang merugikan demi menjaga citra diri.

Contoh Nyata dalam Keseharian

Jebakan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari hal sepele hingga keputusan besar dalam hidup:

  1. Makanan: Kamu memaksakan diri menghabiskan makanan yang rasanya tidak enak hanya karena harganya mahal. Padahal, uangnya sudah hilang, dan memaksakan makan hanya akan membuat perutmu sakit.
  2. Pekerjaan: Bertahan di karier yang tidak membuatmu berkembang karena merasa sudah kuliah bertahun-tahun di bidang tersebut.
  3. Proyek Bisnis: Terus menyuntikkan modal ke bisnis yang terus merugi hanya karena merasa sudah telanjur membangunnya dari nol.

Cara Keluar dari Jebakan Sunk Cost Fallacy

Menyadari adanya bias ini adalah langkah pertama untuk membuat keputusan yang lebih rasional. Berikut tipsnya:

  • Fokus pada Masa Depan, Bukan Masa Lalu: Berhenti bertanya, "Berapa banyak yang sudah saya keluarkan?" dan mulailah bertanya, "Jika saya mulai dari nol hari ini, apakah saya akan tetap memilih jalan ini?"
  • Bayangkan Biaya Peluang (Opportunity Cost): Sadarilah bahwa setiap menit dan rupiah yang kamu buang untuk hal yang merugikan sebenarnya bisa kamu gunakan untuk hal lain yang lebih menguntungkan.
  • Terima Bahwa "Tenggelam adalah Tenggelam": Terimalah bahwa uang atau waktu yang hilang tidak akan pernah kembali. Melepaskannya sekarang justru akan menyelamatkanmu dari kerugian yang lebih besar di masa depan.

Sunk Cost Fallacy mengajarkan kita bahwa keberanian untuk berhenti terkadang jauh lebih berharga daripada kegigihan untuk bertahan dalam kesia-siaan. Melepaskan sesuatu yang merugikan bukan berarti kamu gagal, melainkan bukti bahwa kamu cukup bijak untuk menghargai masa depanmu di atas ego masa lalumu.