Dolar AS Kian Perkasa, Rupiah Terhempas ke Level Rp17.400 Akibat Isu Iran
Admin WGM - Tuesday, 12 May 2026 | 06:00 PM


Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang stabilitas pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat menyusul kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran. Kondisi ini memaksa sejumlah perbankan nasional mulai menyesuaikan kurs jual dolar AS hingga menembus level psikologis baru di atas Rp17.700. Meski demikian, otoritas moneter mencatat bahwa performa mata uang Garuda masih relatif lebih terjaga dibandingkan dengan mayoritas mata uang utama di kawasan Asia lainnya.
Ancaman perang yang kian nyata di Selat Hormuz menjadi motor utama penguatan greenback sebagai aset aman (safe haven), yang berimbas pada pelarian modal dari pasar negara berkembang (emerging markets).
Dampak Penolakan Proposal Damai Iran
Pemicu utama pelemahan rupiah pada pekan kedua Mei 2026 ini adalah memanasnya suhu politik internasional. Melansir laporan Antara, rupiah melemah seiring penolakan Iran terhadap proposal damai AS. Sikap keras Teheran yang menolak syarat-syarat dalam draf gencatan senjata tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar akan gangguan pasokan energi global.
Ketidakpastian ini membuat investor cenderung melepas aset-aset berisiko dan beralih ke mata uang dolar AS. Tekanan eksternal yang masif ini membuat upaya intervensi pasar yang dilakukan Bank Indonesia menghadapi tantangan berat, mengingat sentimen global didominasi oleh kekhawatiran pecahnya perang terbuka yang dapat mengganggu jalur logistik perdagangan dunia.
Kurs Perbankan Tembus Rp17.700
Melemahnya nilai tukar di pasar spot segera merambat ke level ritel di perbankan komersial. Melansir ulasan IDN Financials, pergerakan nilai tukar menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi sektor riil dan importir, di mana bank-bank mulai menjual dolar di atas Rp17.700/US$. Kondisi ini menjadi beban tambahan bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor serta sektor otomotif dan elektronik.
Para analis memperingatkan bahwa jika level ini bertahan dalam waktu lama, tekanan inflasi dari barang impor (imported inflation) tidak dapat dihindari. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai kenaikan harga produk-produk konsumsi yang memiliki komponen impor tinggi. Pihak perbankan sendiri menyebut langkah penyesuaian kurs ini merupakan respons terhadap kelangkaan likuiditas dolar di pasar domestik seiring meningkatnya permintaan korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan bahan bakar.
Performa Rupiah di Tengah "Kebakaran" Mata Uang Asia
Meskipun rupiah berada dalam tren menurun, posisi Indonesia secara relatif masih dianggap lebih resilien dibandingkan negara tetangga. Melansir riset CNBC Indonesia, saat ini mata uang Asia sedang mengalami "kebakaran hebat", namun rupiah bukan yang terburuk dalam hal persentase depresiasi. Mata uang seperti yen Jepang, won Korea Selatan, dan baht Thailand mencatatkan pelemahan yang jauh lebih dalam akibat ketergantungan mereka yang tinggi terhadap impor energi dan volatilitas pasar ekspor.
Fundamental ekonomi Indonesia yang didorong oleh surplus neraca perdagangan dari sektor komoditas dinilai masih menjadi bantalan yang cukup kuat. Bank Indonesia diprediksi akan terus melakukan "intervensi ganda" di pasar spot maupun pasar obligasi (DNDF) guna memastikan volatilitas rupiah tetap berada dalam rentang yang dapat ditoleransi oleh sistem keuangan nasional.
Proyeksi dan Langkah Strategis
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi di Timur Tengah. Jika eskalasi militer dapat diredam melalui jalur diplomasi baru, rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat ke level di bawah Rp17.000. Namun, jika blokade Selat Hormuz benar-benar terjadi, pelaku pasar memproyeksikan tekanan terhadap rupiah akan semakin ekstrem.
Pemerintah dan otoritas moneter kini terus berkoordinasi untuk memantau dampak pelemahan ini terhadap APBN, terutama terkait subsidi energi. Kepastian hukum dan stabilitas politik domestik diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor asing agar tidak terjadi capital outflow yang lebih masif di sisa kuartal kedua tahun 2026 ini.
Next News

Polisi Usut Praktik Eksploitasi Anak di Blok M Libatkan Warga Negara Jepang
2 minutes ago

Diplomasi Maung: Prabowo Subianto Curi Perhatian di Tengah Kemelut Myanmar dan ASEAN
in 5 hours

Rupiah Berdarah! Tembus Rp17.500, Siap-siap Harga Barang Impor Meroket
5 hours ago

Deadline 6 Bulan! Pemerintah Desak WNI Segera Pindahkan Aset ke Dalam Negeri
in 3 hours

Gagal Kelabui Petugas, Emas Rp700 Juta dalam Popok Bayi Disita Bea Cukai Soetta
in 2 hours

Kabar Baik Guru Honorer! Payung Hukum Gaji Diperkuat dan Aturan Penataan ASN Terbit"
6 hours ago

Panas! Adu Mulut Jaksa dan Pengacara Warnai Sidang 'Narasi Jahat' Nadiem Makarim
7 hours ago

Tunda Pungutan Nikel, Pemerintah Indonesia Cari Formula Keseimbangan Fiskal Baru
2 hours ago

Dukungan Mengalir untuk Kamaruddin Simanjuntak, Sosok Pembela Keadilan yang Sedang Berobat
3 hours ago

Mencekam! Rentetan Ledakan Kimia Warnai Kebakaran Besar di Kalideres
4 hours ago





