Dianggap Bulan Sial, Bagaimana Pandangan Islam Mengenai Mitos Larangan Menikah di Bulan Muharam?
Admin WGM - Monday, 15 June 2026 | 10:00 AM


Memasuki fase pergantian tahun baru Islam yang bertepatan dengan momentum bulan Suro dalam kalender Jawa, jajaran kementerian agama bersama para pakar antropologi budaya dan sosiologi Islam gencar melakukan edukasi publik secara masif. Langkah ini diambil guna meluruskan sejumlah mitos budaya lokal yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat, seperti larangan menggelar pernikahan, larangan membangun rumah, hingga anggapan bahwa bulan Muharam merupakan bulan pembawa sial atau yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai tathaywur. Melalui pendekatan ilmiah dan teologis, para ahli menegaskan bahwa segala bentuk pantangan tersebut murni merupakan produk miskonsepsi historis yang tidak memiliki landasan valid dalam koridor syariat maupun nalar logika modern.
Para pakar antropologi menjelaskan bahwa akar sejarah munculnya mitos larangan menikah atau membangun rumah di bulan Suro bermula dari strategi politik dan kebudayaan pada masa pemerintahan Kesultanan Mataram Islam. Pada era tersebut, pihak istana atau kraton sengaja mengosongkan agenda-agenda hiburan dan hajatan publik di bulan Suro agar seluruh perhatian dan energi masyarakat terpusat pada upacara sakral spiritual, refleksi batin, serta penghormatan terhadap situs-situs pusaka negara. Seiring berjalannya waktu, tradisi pengosongan kegiatan duniawi demi menghormati ritus keraton ini mengalami pergeseran makna di tingkat akar rumput, hingga secara keliru dianggap sebagai bulan keramat yang dapat mendatangkan petaka jika dilanggar untuk urusan domestik.
Dari perspektif teologis Islam, para ulama ahli fikih menyatakan bahwa menganggap suatu waktu, hari, atau bulan tertentu sebagai pembawa nasib buruk merupakan tindakan tathaywur yang secara tegas dilarang karena dapat merusak kemurnian akidah. Dalam konsep teologi universal, Muharam justru dikategorikan sebagai salah satu dari empat bulan suci yang dinilai penuh dengan kemuliaan dan keberkahan tempat dilipatgandakannya pahala kebaikan. Penolakan terhadap pemikiran mistis ini diperkuat oleh fakta sejarah bahwa tidak ada satu pun dalil sahih yang membatasi aktivitas positif manusia seperti membangun hunian atau mengikat tali pernikahan pada bulan-bulan tertentu dalam setahun.
Dampak sosial dari masih dipercayainya mitos-mitos lokal tersebut dinilai cukup menghambat roda perekonomian masyarakat di sektor industri kreatif, jasa penata acara, hingga sektor konstruksi bangunan yang kerap mengalami penurunan omzet secara drastis setiap memasuki bulan Suro. Pola pikir kolektif yang terjebak dalam rasa takut akan bayang-bayang kesialan membuat banyak kepala keluarga menunda keputusan finansial strategis mereka tanpa alasan operasional yang logis. Oleh karena itu, edukasi yang bersifat mencerahkan sangat diperlukan untuk memulihkan rasionalitas publik agar masyarakat dapat mengambil peluang ekonomi dan sosial kapan saja tanpa terikat oleh ketakutan magis.
Lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan di berbagai daerah kini terus digandeng oleh pemerintah untuk mengintegrasikan literasi sejarah yang lurus ke dalam forum-forum kajian warga dan khotbah Jumat. Pendekatan ini dilakukan bukan untuk membenturkan agama dengan kebudayaan lokal, melainkan untuk mendudukkan tradisi pada porsi yang semestinya sebagai warisan sejarah, tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip kemandirian berpikir dan kebebasan bertindak manusia. Masyarakat diimbau untuk tetap melestarikan esensi bulan Suro sebagai momentum untuk mawas diri, melakukan evaluasi moral, dan meningkatkan kepedulian sosial, alih-alih menjadikannya sebagai sumber ketakutan yang membelenggu kreativitas hidup.
Melalui rilis ulasan pemetaan budaya yang komprehensif ini, pemerintah berharap masyarakat di era modern dapat bersikap lebih bijaksana, kritis, dan dewasa dalam menyaring setiap informasi adat yang berkembang di lingkungannya. Pembersihan unsur-unsur mistis dari perayaan tahun baru Hijriah ini dipandang sangat vital untuk membangun generasi muda yang berwawasan luas, bermental tangguh, dan berbasis pada data ilmiah. Dengan runtuhnya tembok mitos pembawa sial tersebut, dinamika kehidupan sosial dan pembangunan infrastruktur di tengah masyarakat diharapkan dapat terus berjalan secara produktif dan membawa kemaslahatan bersama sepanjang tahun.
Next News

Menelusuri Silsilah Sejarah dan Deretan Mitos Malam 1 Suro: Kaitannya dengan Perjanjian Nyi Roro Kidul
in 3 hours

Sering Didengar Pas Bulan Suro, Ini Makna Mendalam Falsafah 'Suro Diro Joyoningrat'
in 2 hours

Bukan Cuma Mistis, Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Tradisi Mencuci Keris di Bulan Suro
in 43 minutes

Berjalan dalam Keheningan, Mengenal Makna Ritual 'Tapa Bisu Mubeng Beteng' di Yogyakarta
17 minutes ago

Bukan Kerbau Biasa, Mengapa Kebo Bule Begitu Dikeramatkan dalam Kirab Pusaka Keraton?
an hour ago

Human Library di Denmark, Perpustakaan Unik yang Meminjamkan Manusia sebagai "Buku"
3 days ago

Bukan Sekadar Tumpukan Batu, Ini Fakta Astronomi di Balik Desain Megah El Castillo Meksiko
4 days ago

Pintu Gerbang Dunia Bawah Tanah, Intip Pesona 'Cenote' Sumur Alami Suci Suku Maya di Meksiko
4 days ago

Bukan Horor tapi Penuh Warna, Mengungkap Makna Indah di Balik Tradisi 'Día de los Muertos' di Meksiko
4 days ago

Alasan Juni Disebut Sebagai 'Bulan Bung Karno', Saksi Tiga Tanggal Bersejarah Bangsa
12 days ago





