Senin, 15 Juni 2026
Walisongo Global Media
Culture

Bukan Cuma Mistis, Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Tradisi Mencuci Keris di Bulan Suro

Admin WGM - Monday, 15 June 2026 | 03:00 PM

Background
Bukan Cuma Mistis, Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Tradisi Mencuci Keris di Bulan Suro
Seni Merawat Logam Kuno Warisan Leluhur Agar Tak Korosi (Kompas /)

Memasuki fase pergantian tahun baru Islam yang bertepatan dengan momentum bulan Suro dalam penanggalan Jawa, geliat pelestarian benda cagar budaya meningkat tajam di berbagai daerah. Salah satu aktivitas adat yang paling konsisten dilaksanakan oleh para kolektor, museum, dan komunitas pelestari budaya adalah prosesi Jamasan Pusaka, sebuah ritual mencuci dan merawat senjata tradisional seperti keris, tombak, dan pedang kuno. Melalui pendekatan multidimensi, para ahli teknik kimia dan budayawan menjelaskan bahwa tradisi tahunan ini memiliki korelasi ilmiah yang sangat erat antara ilmu metalurgi modern (perawatan logam kuno) dengan manifestasi nilai spiritualitas transendental masyarakat Nusantara.

Dari sudut pandang sains dan ilmu metalurgi, prosesi jamasan pusaka pada dasarnya merupakan sebuah metode konservasi tingkat tinggi untuk menyelamatkan bilah logam berumur ratusan tahun dari ancaman korosi atau karat. Keris dan senjata tradisional Nusantara sebagian besar dibuat dari perpaduan beberapa jenis logam, seperti besi, baja, dan batu meteorit yang kaya akan kandungan nikel. Struktur berlapis yang membentuk motif pamor tersebut sangat rentan mengalami kerusakan struktural jika terpapar kelembapan udara secara terus-menerus, sehingga membutuhkan perawatan periodik untuk menghilangkan zat-zat oksidasi yang merusak pori-pori logam.

Prosedur jamasan secara teknis metalurgi dimulai dengan tahap pembersihan awal menggunakan air kelapa tua atau air perasan mengkudu yang memiliki kandungan asam alami berkadar rendah. Cairan asam organik ini berfungsi secara efektif untuk melunakkan dan mengikis lapisan karat tanpa merusak base metal atau lapisan logam dasar dari pusaka tersebut. Setelah bilah keris bersih dari karat, proses dilanjutkan dengan teknik pewarangan, yaitu merendam atau mengoleskan cairan campuran antara arsenik murni (warangan) dan air jeruk nipis. Reaksi kimia antara arsenik dengan zat besi akan memunculkan gradasi warna hitam pekat pada bagian besi, sementara bagian nikel meteorit tetap berwarna putih keperakan, sehingga keindahan estetika motif pamor asli keris dapat kembali terlihat dengan kontras yang tajam.

Sementara itu, dari dimensi sosiokultural dan tradisi spiritual, jamasan pusaka di bulan Suro dimaknai sebagai simbol pembersihan diri manusia dari segala kotoran batin dan kesalahan di masa lalu. Air yang digunakan dalam prosesi ini sering kali dicampur dengan minyak wangi alami seperti melati, mawar, dan cendana, yang secara filosofis melambangkan keharuman akhlak dan niat suci manusia saat memasuki lembaran tahun yang baru. Bagi masyarakat Jawa, pusaka tidak dipandang sebagai objek mistis untuk disembah, melainkan sebagai karya seni adiluhung sekaligus simbol tuntunan hidup (sanepa) yang diwariskan oleh para leluhur mengenai nilai ksatria, kedisiplinan, dan keteguhan iman.

Sinergi antara teknik perawatan fisik dan pemaknaan spiritual ini menjadikan tradisi jamasan sebagai media edukasi sejarah yang sangat efektif bagi generasi muda. Melalui keterlibatan aktif para empu modern dan kurator museum dalam forum-forum penjamasan publik, masyarakat dapat melihat langsung betapa tingginya penguasaan teknologi metalurgi nenek moyang bangsa Indonesia pada masa lampau. Aktivitas ini juga secara langsung mengikis stigma negatif atau kesan mistis yang keliru di tengah masyarakat, serta mengembalikan fungsi keris pada porsinya yang benar sebagai benda seni, warisan sejarah, dan identitas budaya bangsa yang telah diakui secara internasional.

Melalui rilis ulasan ilmiah kebudayaan yang disebarluaskan secara masif menjelang pertengahan tahun dua ribu dua puluh enam ini, pemerintah daerah terus mendorong standardisasi perawatan benda cagar budaya agar tidak merusak fisik pusaka akibat penggunaan bahan kimia sintetis yang keliru. Jamasan pusaka bukan sekadar ritual musiman, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab peradaban untuk merawat bukti otentik sejarah Nusantara agar tetap lestari. Dengan tetap terjaganya tradisi ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu merawat keindahan fisik benda-benda peninggalan sejarah, tetapi juga mampu memetik filosofi mendalam untuk terus membersihkan hati, menata perilaku, dan memperkokoh karakter bangsa dalam menyongsong masa depan.