Minggu, 21 Juni 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Bukan Cuma Fisik, Ini 5 Bentuk 'Elder Abuse' pada Lansia yang Kerap Gak Kita Sadari

Admin WGM - Monday, 15 June 2026 | 01:30 PM

Background
Bukan Cuma Fisik, Ini 5 Bentuk 'Elder Abuse' pada Lansia yang Kerap Gak Kita Sadari
Waspada elder abuse (National Seniors Australia /)

Isu kesejahteraan kelompok lanjut usia di era masyarakat modern menghadapi tantangan domestik yang kian kompleks menyusul maraknya fenomena penyalahgunaan lansia atau elder abuse yang terjadi di ruang privat. Berdasarkan data kajian sosiologi kesehatan dan kriminologi kontemporer, sebagian besar tindakan kekerasan terhadap populasi menua justru tidak disadari oleh lingkungan sekitar karena minimnya bekas luka fisik. Otoritas perlindungan sosial dan para pakar gerontologi kini gencar menyerukan gerakan pemetaan risiko guna mengedukasi publik mengenai bentuk-bentuk eksploitasi terselubung, seperti kekerasan finansial dan penelantaran emosional, yang secara nyata mengancam angka harapan hidup para lansia di tingkat tapak.

Kekerasan finansial atau eksploitasi ekonomi menempati posisi sebagai salah satu jenis penyalahgunaan yang paling masif terjadi namun paling jarang dilaporkan oleh korban. Praktik lancung ini umumnya melibatkan anggota keluarga terdekat atau pengasuh utama yang memanfaatkan ketergantungan fisik dan penurunan kognitif lansia untuk menguasai aset secara manipulatif. Bentuk tindakan yang sering ditemukan di lapangan meliputi pemaksaan penyerahan uang tunjangan pensiun harian, pencairan sepihak tabungan hari tua, hingga pengalihan hak kepemilikan properti berharga tanpa persetujuan yang sah. Fenomena ini kerap kali luput dari jerat hukum lantaran pelaku menggunakan dalih pengelolaan biaya perawatan, sementara korban memilih bungkam akibat munculnya rasa takut akan dikucilkan atau dibuang oleh keluarga.

Selain tekanan ekonomi, bentuk pelanggaran hak asasi lansia yang tidak kalah destruktif adalah penelantaran emosional dan psikologis di dalam lingkungan tempat tinggal. Tindakan isolasi sosial secara sengaja, seperti mendiamkan korban dalam durasi waktu yang lama, tidak melibatkan mereka dalam komunikasi domestik, hingga melayangkan ancaman pemindahan ke panti jompo, menjadi pemicu utama runtuhnya kesehatan mental kelompok geriatri. Para ahli medis menegaskan bahwa akumulasi dari tekanan batin ini sering kali memicu depresi berat dan mempercepat kepikunan, yang sayangnya sering disalahpahami oleh masyarakat awam sebagai konsekuensi alamiah dari proses penuaan belaka.

Aspek krusial lain yang wajib diwaspadai adalah penelantaran fisik secara pasif yang bersumber dari kegagalan pemenuhan kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Pembiaran ini mewujud pada tindakan menunda pemberian obat-obatan kronis, tidak menyajikan asupan makanan bergizi yang sesuai dengan rekam medis penyakit, serta mengabaikan kebersihan personal dasar seperti penggantian popok dewasa secara berkala. Meskipun sebagian kasus dipicu oleh faktor kemiskinan atau kejenuhan akut dari pihak pengasuh, pembiaran yang berdampak pada penurunan drastis derajat kesehatan lansia ini secara yuridis dapat dikategorikan sebagai tindakan kelalaian berat yang melanggar hukum perlindungan anak dan orang tua.

Dampak jangka panjang dari pembiaran berbagai bentuk elder abuse ini dinilai para sosiolog memiliki korelasi langsung terhadap peningkatan angka mortalitas dini pada populasi lanjut usia di perkotaan maupun perdesaan. Lansia yang terus-menerus terpapar lingkungan domestik yang toksik dan eksploitatif memiliki kerentanan fisik yang jauh lebih tinggi terhadap serangan penyakit kardiovaskular serta penurunan sistem imun tubuh. Oleh karena itu, kementerian terkait bersama lembaga swadaya masyarakat terus mendorong penguatan regulasi, pembentukan pusat pengaduan krisis, serta optimalisasi peran kader posyandu lansia di tingkat rukun tetangga sebagai garda terdepan untuk mendeteksi dini indikasi kekerasan.

Melalui ulasan komprehensif mengenai bahaya laten penelantaran orang tua ini, seluruh lapisan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kepekaan sosial dan tidak lagi menganggap isu domestik ini sebagai urusan internal keluarga yang tabu untuk dicampuri. Keberhasilan sebuah bangsa dalam membangun tatanan sosial yang inklusif diukur dari sejauh mana sistem hukum dan moralitas warganya mampu memberikan ruang perlindungan yang aman bagi kelompok rentan. Dengan memangkas rantai eksploitasi finansial dan menghadirkan kembali kasih sayang yang tulus di hari tua, martabat kemanusiaan para leluhur dapat senantiasa terjaga demi terwujudnya ketahanan sosial bangsa yang berkeadilan di masa depan.