Kamis, 11 Juni 2026
Walisongo Global Media
Sport

Beralih Fungsi, Begini Cara Negara Tuan Rumah Memanfaatkan Stadion World Cup Pasca-Turnamen

Admin WGM - Thursday, 11 June 2026 | 11:30 AM

Background
Beralih Fungsi, Begini Cara Negara Tuan Rumah Memanfaatkan Stadion World Cup Pasca-Turnamen
Stadion piala dunia terbengkalai (Bola.com /)

Kemegahan perhelatan Piala Dunia FIFA selalu meninggalkan jejak arsitektur monumental berupa stadion-stadion berkapasitas raksasa di berbagai negara tuan rumah. Namun, setelah peluit panjang tanda berakhirnya turnamen ditiup dan jutaan suporter mancanegara kembali ke negara asal, babak baru yang penuh tantangan dimulai bagi pemerintah setempat. Nasib keberlanjutan infrastruktur olahraga tersebut pasca-turnamen kini memunculkan dilema besar, di mana beberapa stadion berhasil bertransformasi menjadi ikon kota yang produktif, sementara sebagian lainnya terbengkalai dan menjelma menjadi proyek "gajah putih" yang membebani keuangan daerah.

Fenomena keberhasilan pengelolaan stadion pasca-Piala Dunia umumnya terjadi di kota-kota yang memiliki basis industri olahraga dan pariwisata yang mapan. Di beberapa negara, stadion-stadion megah tersebut langsung dialihfungsikan menjadi markas utama bagi klub-klub sepak bola lokal yang berkompetisi di kasta tertinggi nasional. Integrasi ini memastikan adanya pasokan pendapatan rutin dari penjualan tiket pertandingan mingguan, hak siar, serta kontrak komersial dengan pihak sponsor.

Selain menjadi arena olahraga, manajemen yang adaptif juga berhasil menyulap bangunan masif tersebut menjadi pusat kegiatan hiburan multikultural, seperti lokasi konser musisi internasional, festival budaya, hingga area eksibisi bisnis berskala besar. Di sekeliling kompleks stadion, pertumbuhan kawasan komersial baru seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan ruang terbuka hijau turut memicu perputaran roda ekonomi lokal. Keberhasilan integrasi tata ruang ini pada akhirnya mengukuhkan posisi stadion sebagai ikon modernitas kota yang membanggakan sekaligus menjadi magnet pariwisata baru.

Sebaliknya, awan mendung pengelolaan infrastruktur justru membayangi stadion-stadion yang dibangun di wilayah-wilayah yang tidak memiliki kultur sepak bola yang kuat atau minim populasi. Pembangunan stadion berstandar internasional di kota-kota terpencil sering kali didasari oleh motif politis sesaat demi pemerataan lokasi pertandingan selama turnamen berlangsung, tanpa adanya perencanaan matang mengenai pemanfaatan jangka panjang.

Setelah turnamen akbar tersebut usai, stadion-stadion sepi peminat ini langsung berubah menjadi beban finansial yang sangat berat. Biaya perawatan rutin untuk menjaga kualitas rumput lapangan, sistem pencahayaan, kebersihan tribun, serta operasional keamanan menelan dana hingga miliaran rupiah setiap bulannya. Minimnya agenda kegiatan yang digelar di dalam stadion membuat pendapatan yang masuk tidak mampu menutupi tingginya biaya operasional tersebut.

Akibat dari ketimpangan neraca keuangan ini, banyak stadion megah yang perlahan mulai menampakkan tanda-tanda kerusakan fisik yang parah. Atap-atap tribun mulai berkarat, fasilitas interior mengalami vandalisme, dan rumput lapangan tumbuh liar tak terawat akibat pemutusan aliran listrik dan air demi menghemat anggaran. Narasi tragis mengenai stadion-stadion yang terlantar dan menjadi "gajah putih" ini menjadi alarm keras bagi setiap negara yang mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia di masa depan, bahwa kemegahan arsitektur wajib diimbangi dengan cetak biru tata kelola pasca-turnamen yang berkelanjutan demi menghindari pemborosan anggaran negara secara sia-sia.