Minggu, 19 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Batang Pecahkan Rekor! 1.000 Penari Babalu & Aksi 10.000 Liter Jelantah Bikin Kagum

Admin WGM - Friday, 10 April 2026 | 05:41 PM

Background
Batang Pecahkan Rekor! 1.000 Penari Babalu & Aksi 10.000 Liter Jelantah Bikin Kagum
(WGM/Mei)

Kabupaten Batang baru saja mencetak sejarah dalam perayaan hari jadinya yang ke-60. Lewat sebuah perhelatan budaya dan aksi lingkungan yang spektakuler, daerah ini berhasil meraih pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI.

Perayaan ini tidak hanya sekadar seremoni biasa. Pemerintah daerah bersama masyarakat menghadirkan dua aksi besar sekaligus, yakni pertunjukan tari kolosal dan gerakan peduli lingkungan yang melibatkan ribuan orang.

Sorotan utama datang dari penampilan massal Tari Babalu yang dibawakan oleh sekitar 1.000 penari. Tarian tradisional khas Batang ini ditampilkan secara serempak dan penuh semangat, menciptakan visual yang memukau sekaligus mempertegas identitas budaya lokal.

Tari Babalu sendiri merupakan salah satu warisan budaya daerah yang sarat makna. Gerakan tariannya menggambarkan nilai kebersamaan, kekuatan, dan kearifan lokal masyarakat Batang. Dengan melibatkan ribuan penari dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga komunitas seni, pertunjukan ini menjadi simbol persatuan yang kuat.

Tak hanya itu, perayaan ini juga menghadirkan aksi lingkungan yang tak kalah menarik perhatian. Sebanyak 10.000 liter minyak jelantah berhasil dikumpulkan dalam satu kegiatan. Minyak bekas ini nantinya akan diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat, seperti biofuel atau produk daur ulang lainnya.

Langkah ini menjadi bukti bahwa perayaan budaya bisa berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah meningkatnya isu pencemaran, pengelolaan minyak jelantah menjadi salah satu solusi yang mulai banyak digalakkan di berbagai daerah.

Pencapaian ini pun mendapat apresiasi dari MURI, yang secara resmi mencatat dua rekor sekaligus: pertunjukan Tari Babalu dengan jumlah penari terbanyak dan pengumpulan minyak jelantah dalam jumlah besar dalam satu acara.

Bagi masyarakat Batang, momen ini bukan hanya soal rekor, tetapi juga kebanggaan. Perayaan ulang tahun daerah menjadi ajang untuk menunjukkan potensi lokal, baik dari sisi budaya maupun kesadaran lingkungan.

Kegiatan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ribuan orang yang hadir tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga merasakan langsung semangat kebersamaan yang dibangun dalam acara tersebut.

Pemerintah daerah berharap, kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan. Selain melestarikan budaya, acara semacam ini juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu penting seperti lingkungan.

Di sisi lain, keterlibatan generasi muda dalam Tari Babalu menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan budaya lokal. Dengan ikut serta dalam pertunjukan besar seperti ini, mereka tidak hanya belajar menari, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, bahkan di tengah gempuran modernisasi. Dengan kemasan yang menarik dan kolaboratif, budaya lokal bisa tetap relevan dan diminati.

Sementara itu, aksi pengumpulan minyak jelantah juga menjadi langkah konkret dalam mendukung gaya hidup ramah lingkungan. Jika dikelola dengan baik, limbah rumah tangga seperti minyak bekas bisa menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.

Perayaan HUT ke-60 Batang ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan usia. Ia menjelma menjadi simbol kolaborasi antara budaya dan keberlanjutan, antara tradisi dan inovasi.

Dengan pencapaian ini, Batang berhasil menunjukkan bahwa daerah bukan hanya mampu menjaga warisan budaya, tetapi juga bisa menjadi pelopor dalam gerakan lingkungan.

Ke depan, diharapkan semakin banyak daerah lain yang terinspirasi untuk menggabungkan unsur budaya dan aksi nyata dalam setiap perayaan. Karena pada akhirnya, kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari bagaimana masyarakat menjaga identitas dan lingkungannya.