Selasa, 11 Agustus 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Bahasa Bunga (Floriografi): Panduan Memilih Bunga Sesuai Pesan yang Ingin Disampaikan

Admin WGM - Thursday, 16 July 2026 | 04:00 PM

Background
Bahasa Bunga (Floriografi): Panduan Memilih Bunga Sesuai Pesan yang Ingin Disampaikan
Makna bunga mawar (Kompas.com /)

Di era modern, bertukar pesan dapat dilakukan secara instan melalui aplikasi obrolan di ponsel pintar. Namun, jauh sebelum teknologi digital lahir, masyarakat dunia memiliki cara yang jauh lebih puitis, anggun, dan misterius untuk menyampaikan isi hati mereka. Cara tersebut adalah floriografi, atau yang lebih dikenal sebagai bahasa bunga. Tren berkirim pesan menggunakan media bunga ini mencapai puncak popularitasnya pada era Victoria di abad ke-19. Pada masa itu, norma sosial yang sangat ketat melarang seseorang mengungkapkan perasaan cinta, cemburu, rindu, atau bahkan penolakan secara terang-terangan. Alhasil, sebuah buket bunga yang dirangkai secara khusus menjadi surat rahasia yang sarat akan kode-kode emosional yang mendalam.

Kunci utama dalam membaca pesan floriografi tidak hanya terletak pada jenis bunganya, melainkan pada warna kelopaknya yang spesifik. Setiap variasi warna memuat makna yang bisa bertolak belakang satu sama lain. Bunga mawar, misalnya, adalah simbol universal untuk cinta. Namun, pesan yang disampaikan akan berubah drastis tergantung pada warnanya. Mawar merah melambangkan cinta yang membara dan gairah yang mendalam. Sementara itu, mawar merah muda (pink) menyampaikan rasa kagum dan terima kasih yang lebih lembut. Jangan sesekali memberikan mawar kuning kepada pasangan pada era tersebut jika tidak ingin memicu kesalahpahaman, sebab mawar kuning justru menjadi simbol perselingkuhan, kecemburuan, atau berkurangnya rasa cinta.

Selain mawar, jenis bunga lain juga memegang peranan yang tidak kalah penting dalam menyusun kalimat rahasia. Bunga anyelir (Carnation) memiliki dinamika makna yang sangat unik. Anyelir putih melambangkan cinta yang murni dan keberuntungan. Namun, anyelir bergaris-garis (striped) membawa pesan penolakan yang halus namun tegas, yang berarti "maaf, aku tidak bisa bersamamu." Sementara itu, anyelir kuning menjadi simbol penghinaan atau kekecewaan mendalam. Ketepatan dalam memilih jenis dan warna ini menjadi sangat krusial, karena kesalahan kecil dalam merangkai buket bunga bisa berakibat fatal pada hubungan sosial maupun asmara sang pengirim.

Eksplorasi makna floriografi juga menyentuh bunga-bunga yang melambangkan emosi melankolis dan spiritualitas. Bunga lavender yang berwarna keunguan sering digunakan untuk menyampaikan pesan kesetiaan, tetapi di sisi lain juga bisa berarti kewaspadaan. Sementara itu, bunga marigold yang berwarna jingga terang, meskipun penampilannya tampak ceria, dalam tradisi floriografi klasik justru dikaitkan dengan rasa duka, kesedihan mendalam, atau kekejaman. Makna-makna kontras ini menunjukkan bahwa bahasa bunga adalah sebuah sistem komunikasi yang kompleks, di mana keindahan visual digunakan untuk membungkus emosi manusia yang paling rapuh sekalipun.

Mempelajari floriografi di masa kini memberikan kita perspektif baru mengenai bagaimana manusia menghargai sebuah proses komunikasi. Bahasa bunga mengajarkan bahwa menyampaikan perasaan membutuhkan waktu, ketelitian, dan kepekaan rasa yang tinggi. Meskipun saat ini kita tidak lagi menggunakan floriografi untuk merencanakan pertemuan rahasia atau menolak lamaran, memahami makna di balik setiap kelopak bunga dapat menambah nilai sentimental yang mendalam ketika kita memberikan hadiah kepada orang-orang terkasih. Sebuah buket bunga bukan lagi sekadar dekorasi ruangan yang cantik, melainkan sebuah warisan tradisi romantis yang merayakan keindahan emosi manusia melalui perantara alam.