Tanaman Hias atau Pemurni Udara Alami serta Penjelasan Ilmiah Mengenai Kemampuan Flora dalam Menyerap Racun di Ruang Tertutup
Admin WGM - Monday, 09 March 2026 | 10:30 AM


Tren memelihara tanaman di dalam ruangan atau indoor plants telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban modern. Banyak orang meyakini bahwa kehadiran tanaman hijau di sudut ruangan bukan hanya sekadar elemen estetika dekoratif, melainkan juga berfungsi sebagai paru-paru alami yang mampu menyaring polusi udara. Keyakinan ini berakar pada sebuah penelitian legendaris yang dilakukan oleh badan antariksa Amerika Serikat atau NASA pada tahun sembilan belas delapan puluh sembilan yang bertajuk Interior Landscape Plants for Indoor Air Pollution Abatement.
Penelitian tersebut awalnya bertujuan untuk menemukan cara alami guna membersihkan udara di stasiun luar angkasa yang kedap udara. NASA menemukan bahwa tanaman tertentu memiliki kemampuan untuk menyerap senyawa organik yang mudah menguap atau Volatile Organic Compounds (VOC). Senyawa berbahaya seperti benzena, formaldehida, dan trikloroetilen sering ditemukan pada bahan bangunan, furnitur, hingga cairan pembersih rumah tangga. Keberadaan senyawa ini dalam jangka panjang dapat memicu gangguan kesehatan yang dikenal dengan istilah Sick Building Syndrome.
Berdasarkan studi tersebut, beberapa tanaman terbukti memiliki performa luar biasa dalam menetralisir polutan. Lidah Mertua atau Sansevieria dan Peace Lily adalah dua di antaranya yang menempati peringkat atas. Lidah Mertua dikenal karena kemampuannya yang unik dalam memproses karbon dioksida menjadi oksigen pada malam hari, menjadikannya ideal untuk ditempatkan di kamar tidur. Sementara itu, Peace Lily terbukti efektif menyerap spora jamur di udara serta menetralisir uap aseton yang sering ditemukan pada produk kecantikan atau cat kuku.
Namun masyarakat perlu memahami konteks laboratorium yang digunakan dalam studi tersebut agar tidak salah kaprah. NASA melakukan pengujian di dalam ruang ruang tertutup yang sangat sempit dan kedap udara untuk melihat reaksi maksimal tanaman terhadap konsentrasi polutan tertentu. Dalam lingkungan rumah atau kantor yang nyata, udara terus bersirkulasi melalui pintu, jendela, dan sistem ventilasi. Hal ini berarti kapasitas pembersihan satu atau dua pot tanaman kecil di ruangan besar mungkin tidak akan memberikan dampak signifikan secara instan terhadap kualitas udara secara keseluruhan.
[Image demonstrating the transpiration process of plants absorbing airborne chemicals]
Fakta ilmiah menarik lainnya yang diungkap oleh ilmuwan NASA adalah bahwa kekuatan utama penyaringan polusi sebenarnya tidak hanya terletak pada daun, melainkan pada sistem perakaran dan mikroorganisme yang hidup di dalam tanah atau media tanam. Mikroba di sekitar akar tanaman mampu memecah molekul kimia kompleks dari polutan menjadi sumber energi bagi mereka sendiri. Oleh karena itu, tanaman yang memiliki kesehatan akar yang baik akan bekerja lebih efektif sebagai penyaring udara dibandingkan tanaman yang hanya terlihat subur di bagian daun namun memiliki media tanam yang jenuh atau tidak sehat.
Di sisi lain, terdapat kategori tanaman yang murni berfungsi sebagai elemen hiasan dengan kemampuan pembersihan udara yang sangat minim. Tanaman seperti kaktus hias atau sukulen kecil memang sangat cantik untuk memperindah meja kerja, namun luas permukaan daun mereka yang kecil membatasi proses fotosintesis dan pertukaran gas secara masif. Tanaman artifisial atau tanaman plastik tentu saja tidak memiliki fungsi biologis sama sekali dalam menyaring polusi dan murni hanya sebagai pemanis ruangan.
[Table showing top NASA air purifying plants and the specific pollutants they target]
Penerapan tanaman indoor yang efektif sebaiknya dilakukan secara berkelompok. Untuk mendapatkan manfaat pembersihan udara yang optimal di dalam rumah, para ahli menyarankan penempatan satu tanaman berukuran sedang untuk setiap sepuluh meter persegi ruangan. Dengan memilih jenis yang tepat seperti Spider Plant, English Ivy, atau Dracaena, pemilik hunian dapat memaksimalkan fungsi ganda tanaman sebagai dekorasi sekaligus alat pemurni udara alami. Memahami sains di balik tanaman dalam ruangan membantu kita untuk lebih bijak dalam memilih flora yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan lingkungan di dalam rumah.
Next News

Bukan Cuma ke Salon! Ini Arti Self-Care yang Sesungguhnya dan Cara Memulainya
in 3 hours

Fenomena Krisis Populasi: Dampak Ngeri Menurunnya Angka Kelahiran di Dunia
in an hour

Jangan Terlambat! 5 Gejala Sakit pada Hewan Peliharaan yang Wajib Dibawa ke Dokter
17 hours ago

Jangan Asal Kenyang! Panduan Memilih Pet Food Terbaik untuk Kucing dan Anjing
2 days ago

Jangan Salah Pilih! Panduan Lengkap Memilih Hewan Peliharaan untuk Pemula
21 hours ago

Bebas Fosil! Kisah Inspiratif Negara-Negara Pelopor Energi Terbarukan
a day ago

Menjemput Ketenangan Hati: Panduan Mengatasi Anxious dan Stres Lewat Jalur Langit
2 days ago

Mengenal Banana Pancake Trail: Jalur Suci Wisatawan Dunia di Asia Tenggara
3 days ago

Belajar dari Si Kecil: 5 Sifat Anak-Anak yang Wajib Dimiliki Kembali oleh Orang Dewasa
3 days ago

Memburu Rasa Masa Lalu: Mengapa Jajanan SD Selalu Sukses Bikin Orang Dewasa Ketagihan?
3 days ago





