Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Sains di Balik Fermentasi Peuyeum: Mengapa Singkong Bandung Memiliki Rasa yang Khas?

Admin WGM - Thursday, 12 March 2026 | 03:00 PM

Background
Sains di Balik Fermentasi Peuyeum: Mengapa Singkong Bandung Memiliki Rasa yang Khas?
Peuyeum Jawa Barat (Sukabumi Update /)

Peuyeum merupakan salah satu ikon kuliner paling melekat dengan identitas Bandung dan Jawa Barat. Gantungannya yang khas di kios-kios pinggir jalan bukan sekadar pajangan, melainkan bagian dari proses pematangan yang unik. Namun, di balik rasa manis yang legit dan sensasi hangat saat menyantapnya, terdapat rangkaian reaksi biokimia yang sangat kompleks. Sains modern membuktikan bahwa pembuatan peuyeum adalah praktik bioteknologi tradisional yang melibatkan mikroorganisme spesifik untuk mengubah karakteristik bahan pangan secara total.

Rahasia kelezatan peuyeum dimulai dari pemilihan bahan baku utama, yaitu singkong putih. Singkong yang digunakan biasanya memiliki kadar pati yang tinggi dan tekstur yang cenderung kering (mempur). Dalam prosesnya, singkong yang telah dikupas dan dikukus hingga matang tidak langsung dikonsumsi, melainkan diberi perlakuan khusus menggunakan ragi. Di sinilah "keajaiban" kimiawi dimulai. Ragi yang digunakan merupakan starter yang mengandung konsorsium mikroorganisme, terutama kapang Amylomyces rouxii, serta khamir seperti Saccharomyces cerevisiae dan Endomycopsis burtonii.

Tahap pertama dalam proses fermentasi ini adalah sakarifikasi. Mikroorganisme dalam ragi mengeluarkan enzim amilase yang bertugas memecah molekul pati (karbohidrat kompleks) yang ada pada singkong menjadi molekul gula yang lebih sederhana, seperti glukosa dan maltosa. Inilah alasan mengapa singkong yang awalnya terasa hambar dan tawar berubah menjadi sangat manis tanpa perlu penambahan gula pasir sedikit pun. Rasa manis ini adalah hasil murni dari transformasi karbohidrat secara alami melalui bantuan enzim.

Selanjutnya, khamir atau yeast yang ada dalam ragi akan memproses sebagian gula tersebut menjadi alkohol dan karbon dioksida. Proses ini dikenal dengan fermentasi alkohol. Keberadaan etanol atau alkohol dalam kadar rendah inilah yang memberikan aroma khas yang tajam serta memberikan sensasi hangat di tenggorokan saat peuyeum dimakan. Selain alkohol, fermentasi juga menghasilkan berbagai senyawa aromatik atau ester yang memberikan profil rasa kompleks, mulai dari sedikit asam hingga aroma buah-buahan yang menyegarkan.

Tekstur peuyeum yang lembut namun tetap utuh juga memiliki penjelasan saintifik. Selama proses fermentasi, terjadi pemecahan sebagian dinding sel singkong oleh enzim pektinase. Hal ini membuat struktur jaringan singkong melunak namun tidak sampai hancur menjadi bubur. Inilah yang membedakan peuyeum dengan tape singkong biasa. Peuyeum Bandung memiliki kadar air yang lebih rendah karena proses fermentasinya dilakukan dengan cara digantung atau diletakkan dalam wadah yang memungkinkan sirkulasi udara lebih baik, sehingga hasilnya lebih kering dan tahan lama.

Selain aspek kimiawi, kondisi lingkungan di Bandung dan sekitarnya juga memegang peranan penting. Suhu udara yang relatif sejuk dan tingkat kelembapan tertentu sangat mendukung pertumbuhan mikroorganisme ragi secara optimal. Jika suhu terlalu panas, fermentasi akan berjalan terlalu cepat dan cenderung menghasilkan rasa asam yang berlebihan karena aktivitas bakteri asam laktat yang terlalu dominan. Sebaliknya, suhu Bandung yang stabil memungkinkan enzim bekerja perlahan namun pasti, menghasilkan keseimbangan rasa manis dan alkohol yang pas.

Dari sisi kesehatan, peuyeum merupakan makanan fungsional yang kaya akan nutrisi hasil transformasi ragi. Proses fermentasi meningkatkan ketersediaan vitamin B1 (tiamin) hingga tiga kali lipat dibandingkan singkong rebus biasa. Selain itu, mikroorganisme yang terlibat dalam fermentasi juga membantu mendegradasi senyawa antigizi seperti asam sianida yang secara alami terdapat dalam singkong, sehingga membuatnya lebih aman dan lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan manusia.

Secara budaya, peuyeum bukan sekadar komoditas, melainkan simbol adaptasi masyarakat Sunda dalam mengawetkan hasil bumi. Sebelum adanya teknologi pendingin, fermentasi adalah cara paling cerdas untuk memperpanjang masa simpan singkong sekaligus meningkatkan nilai ekonomisnya. Teknik menggantung peuyeum di kios juga merupakan strategi pemasaran sekaligus cara menjaga agar gas karbon dioksida hasil fermentasi tidak terperangkap, yang dapat merusak kualitas tekstur singkong tersebut.

Memahami sains di balik sepotong peuyeum memberikan perspektif baru bagi Winners bahwa kuliner tradisional adalah produk pemikiran yang sangat logis. Leluhur kita mungkin tidak menggunakan istilah laboratorium, namun mereka telah berhasil menguasai prinsip-prinsip mikrobiologi terapan untuk menciptakan pangan yang bergizi dan lezat. Menikmati peuyeum kini bukan hanya tentang mencecap rasa manisnya, melainkan juga merayakan sebuah mahakarya bioteknologi yang diwariskan lintas generasi.

Keunikan peuyeum Bandung akan terus bertahan selama prinsip-prinsip sains tradisional ini dijaga dengan konsisten. Dengan mengombinasikan pemilihan bahan baku yang tepat dan proses fermentasi yang sabar, peuyeum akan tetap menjadi bukti bahwa keselarasan antara alam, manusia, dan mikroorganisme dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.