Selasa, 12 Mei 2026
Walisongo Global Media
Economy

Rupiah Mulai 'Napas', Presiden Prabowo Gercep Restui 7 Jurus Maut Bank Indonesia

Admin WGM - Thursday, 07 May 2026 | 10:00 AM

Background
Rupiah Mulai 'Napas', Presiden Prabowo Gercep Restui 7 Jurus Maut Bank Indonesia
Kurs Dolar dengan Rupiah (Tangkapan Layar /)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat terperosok ke level terlemahnya pekan ini. Pada perdagangan Kamis (7/5/2026), mata uang Garuda berhasil mencatatkan penguatan tipis (rebound) menyusul respons cepat otoritas moneter dan dukungan penuh dari pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto secara resmi menyetujui tujuh strategi strategis yang dirumuskan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memitigasi risiko pembengkakan beban pada sektor perbankan nasional.

Langkah sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter ini dipandang krusial untuk menahan laju pelarian modal asing serta memberikan kepastian bagi pelaku industri keuangan.

Rupiah Berhasil Keluar dari Tekanan Ekstrem

Setelah mengalami fluktuasi tajam yang sempat menembus angka Rp17.400, rupiah akhirnya menunjukkan daya tahan. Melansir laporan Metro TV, pada sesi perdagangan hari ini, rupiah berhasil menguat ke posisi Rp17.387 per dolar AS. Penguatan ini dipicu oleh intervensi terukur Bank Indonesia di pasar spot serta pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Meskipun mulai menjauh dari titik terendahnya, para analis mengingatkan bahwa posisi rupiah masih berada di zona rawan. Sentimen global terkait kebijakan suku bunga di Amerika Serikat masih menjadi faktor dominan yang dapat sewaktu-waktu memicu volatilitas kembali. Oleh karena itu, penguatan hari ini dinilai sebagai napas lega sementara bagi pasar keuangan domestik.

Restu Presiden atas Tujuh Strategi BI

Guna memperkuat benteng pertahanan ekonomi, Bank Indonesia telah merumuskan tujuh langkah taktis yang kini telah mendapatkan lampu hijau dari Kepala Negara. Melansir laporan Antara News, Presiden Prabowo Subianto memberikan restu penuh terhadap strategi tersebut guna memastikan kedaulatan moneter tetap terjaga. Tujuh strategi tersebut mencakup optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), penguatan insentif likuiditas makroprudensial, hingga perluasan kerja sama transaksi mata uang lokal (Local Currency Settlement) dengan negara-negara mitra dagang utama.

Presiden menekankan bahwa penguatan rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab BI, tetapi juga memerlukan dukungan sektor riil dan efisiensi belanja negara. "Pemerintah mendukung penuh langkah-langkah luar biasa yang diambil Bank Indonesia untuk memastikan fundamental ekonomi kita tetap kokoh di tengah badai ketidakpastian global," ujar juru bicara otoritas pusat dalam keterangan resminya.

Risiko Perbankan Akibat Rupiah "Loyo"

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah selama sebulan terakhir mulai memberikan dampak pada profil risiko perbankan nasional. Melansir analisis Kontan, pelemahan rupiah yang berkelanjutan berpotensi memicu kenaikan biaya dana (cost of fund) serta menekan rasio kecukupan modal bank. Perbankan yang memiliki porsi utang dalam valuta asing atau ketergantungan pada pembiayaan luar negeri menjadi pihak yang paling rentan terhadap risiko ini.

Selain itu, sektor perbankan juga harus mengantisipasi potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dari debitur yang usahanya bergantung pada bahan baku impor. Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BI terus memantau ketat kesehatan likuiditas bank-bank sistemik guna memastikan gejolak kurs tidak berubah menjadi krisis sistemik pada industri keuangan.

Proyeksi Stabilitas Mendatang

Upaya intervensi dan pemberlakuan tujuh strategi baru ini diharapkan dapat mengembalikan nilai tukar rupiah ke level fundamentalnya dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini menanti realisasi dari strategi tersebut, terutama terkait efektivitas penarikan modal asing melalui instrumen moneter yang ditawarkan BI.

Pemerintah dan otoritas moneter mengimbau para pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap transaksi valuta asing mereka guna mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi kurs. Dengan koordinasi yang solid antara Presiden, Bank Indonesia, dan sektor perbankan, Indonesia optimis dapat melewati periode tekanan nilai tukar ini dengan resiliensi yang lebih kuat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.