Selasa, 28 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Rupiah Kembali Tertekan, Pakar Soroti Risiko Defisit Anggaran sebagai Pemicu Utama

Admin WGM - Tuesday, 28 April 2026 | 01:31 PM

Background
Rupiah Kembali Tertekan, Pakar Soroti Risiko Defisit Anggaran sebagai Pemicu Utama
Kurs Rupiah Melonjak Tinggi Sepanjang Sejarah (Radar Madiun /)

Mata uang Garuda kembali menghadapi tekanan hebat di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali terjatuh ke zona merah pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Setelah sempat menunjukkan penguatan tipis selama dua hari sebelumnya, rupiah kini justru terdepresiasi tajam dan diprediksi akan terus melemah. Sentimen negatif dari pasar global dan kekhawatiran domestik terkait ketahanan fiskal menjadi faktor utama yang menekan posisi mata uang nasional.

Kondisi ini memicu kewaspadaan bagi pelaku pasar dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak eksternal yang kian dinamis pada pengujung April 2026.

Prediksi Pelemahan ke Level Rp17.260

Berdasarkan data perdagangan pagi ini, rupiah menunjukkan tren pelemahan yang signifikan. Melansir laporan Digtara, para analis pasar modal memprediksi kurs rupiah hari ini, 28 April 2026, berpotensi merosot hingga ke level Rp17.260 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang tetap solid, sehingga mendorong penguatan indeks dolar (DXY) dan menekan mata uang negara berkembang (emerging markets).

Laporan dari Investor.id mengonfirmasi bahwa pergerakan rupiah pada pembukaan pasar pagi ini langsung tergelincir ke zona merah. Tekanan jual dari investor asing yang melakukan aksi ambil untung (profit taking) di pasar obligasi juga turut memperparah kondisi nilai tukar di pasar spot.

Antara Penguatan Sesaat dan Ancaman Defisit

Meskipun hari ini rupiah terkoreksi tajam, pasar sempat merasakan angin segar pada awal pekan. Melansir Kontan, nilai tukar rupiah sebenarnya sempat mencatatkan penguatan selama dua hari perdagangan sebelumnya (26-27 April). Namun, tren penguatan tersebut dinilai rapuh karena bersifat teknis semata.

Para ahli mengingatkan bahwa ancaman fundamental masih mengintai dari dalam negeri. Defisit fiskal yang diproyeksikan melebar pada tahun anggaran 2026 menjadi hantu bagi investor. "Pasar tetap waspada terhadap risiko defisit anggaran yang melampaui batas aman. Hal ini menurunkan kepercayaan investor terhadap stabilitas nilai tukar jangka panjang," tulis laporan tersebut. Tanpa adanya kebijakan fiskal yang disiplin, penguatan sesaat sulit dipertahankan secara berkelanjutan.

Faktor Eksternal dan Suku Bunga Global

Dinamika nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Melansir Bisnis.com, ketidakpastian mengenai arah suku bunga global masih menjadi beban bagi kurs rupiah. Dolar AS tetap menjadi pilihan aset aman (safe haven) bagi para pengelola dana global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi.

Kesenjangan suku bunga (interest rate differential) antara Bank Indonesia dan The Fed yang kian menyempit membuat imbal hasil aset dalam rupiah kurang menarik bagi investor internasional. Kondisi ini menyebabkan aliran modal keluar (capital outflow) yang secara otomatis melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Langkah Antisipasi dan Dampak Sektoral

Pelemahan rupiah hingga menembus level psikologis baru di atas Rp17.200 diperkirakan akan memberikan dampak langsung pada sejumlah sektor industri, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Sektor manufaktur, farmasi, dan transportasi diprediksi akan mengalami kenaikan biaya operasional yang signifikan.

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan segera melakukan intervensi, baik di pasar valas maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN), guna menjaga agar pelemahan tidak berlanjut ke arah yang lebih dalam. Selain itu, upaya stabilisasi pasokan pangan dan pengendalian harga energi juga menjadi krusial untuk mencegah efek rembesan (spillover) ke tingkat inflasi domestik.

Hingga Selasa siang, fluktuasi nilai tukar terpantau masih sangat tinggi. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati rilis data cadangan devisa serta pernyataan terbaru dari otoritas keuangan guna menentukan strategi investasi di tengah ketidakpastian kurs saat ini.