Selasa, 21 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Kartini Si Jaran Kore

Admin WGM - Tuesday, 21 April 2026 | 09:00 AM

Background
Kartini Si Jaran Kore
Raden Ajeng Kartini (Pribadi /Mei )

Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini adalah seorang pahlawan perempuan nasional Republik Indonesia, yang ditetapkan pada 2 Mei 1964, dan didasari hukum "Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964" yang mana penetapan ini dilakukan oleh Presiden Soekarno sekaligus penetapan Hari Kartini di tanggal 21 Aprilnya. Dalam keputusan ini menegaskan dan membangkitkan kesadaran pentingnya akan kesetaraan gender di Indonesia.

"Si Jaran Kore" atau "Kuda Liar" dalam bahasa Jawa merupakan sebutan untuk Kartini yang diberikan oleh saudara-saudaranya di lingkungan keluarga, karena dianggap berbeda dari putri bangsawan biasanya. Berbeda yang dimaksud itu ia adalah anak yang aktif, gesit, dan suka melompat-lompat saat masih kecil, bukan seperti putri bangsawan yang seharusnya, yang anggun dan santun. Hal tersebut yang kemudian ia juluki sebagai "Si Jaran Kore" atau "Trinil". Kalau "Trinil", julukan yang diberikan oleh ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, karena tingkahnya yang lincah dan aktif.

Sosok R.A. Kartini sangat berpengaruh terutama kepada wanita yang ada di Indonesia di era zaman dulu. Di mana sosok Kartini ini dikenal cerdas, haus ilmu, peduli, dan berjiwa sosial. Dari rasa kepedulian, Kartini mampu membangun "Sekolah Kartini". Sekolah Kartini dikenal sebagai institusi pendidikan yang dikhususkan untuk perempuan pribumi, didirikan oleh Yayasan Kartini (Kartini Vereeniging) di tahun 1912–1913 yang digerakkan oleh tokoh politik etis seperti Van Deventer dan J.H. Abendanon.

Emansipasi wanita atau proses pembebasan diri dari perbudakan/keterbatasan ini sangat berkembang sekarang. Di mana sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin, menjadi dokter, menjadi wanita karier, memiliki peran dalam dunia pendidikan, dan suara perempuan lebih terdengar.

Jika pada masanya perempuan berjuang untuk mendapatkan akses pendidikan, kini emansipasi hadir dalam bentuk yang lebih luas: kebebasan untuk memilih, berkembang, dan menentukan jalan hidup. Emansipasi wanita hari ini bukan lagi tentang melawan, melainkan tentang menciptakan ruang yang adil dan setara. Sebuah ruang di mana perempuan dapat berdiri sejajar, dihargai, dan bebas menjadi dirinya sendiri.

Semangat yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini tetap hidup, namun dengan wajah yang lebih modern: perempuan yang berani bermimpi, bersuara, dan melangkah tanpa batas. Selamat Hari Kartini, dan mari terus melangkah dengan semangat Kartini, karena setiap perempuan berhak bersinar dengan caranya sendiri.