Minggu, 19 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Dulu Simbol Bangsawan, Kini Jadi Ajang Adu Gengsi Fashion: Simak Sejarah Red Carpet di Award Show

Admin WGM - Sunday, 19 April 2026 | 08:00 PM

Background
Dulu Simbol Bangsawan, Kini Jadi Ajang Adu Gengsi Fashion: Simak Sejarah Red Carpet di Award Show
Red Carpet (pinterest /)

Di era modern tahun 2026 ini, momen red carpet atau karpet merah sering kali dinantikan lebih antusias daripada pengumuman pemenang penghargaan itu sendiri. Jutaan mata di seluruh dunia terpaku pada layar untuk melihat gaun apa yang dikenakan seorang aktris atau setelan jas unik dari seorang aktor. Namun, di balik kemegahan lampu kilat kamera dan desainer ternama, karpet merah memiliki sejarah panjang yang membentang selama ribuan tahun. Apa yang sekarang kita kenal sebagai panggung mode global sebenarnya berawal dari sebuah simbol penghormatan yang sangat eksklusif dan bahkan bersifat sakral.

Secara historis, penyebutan pertama karpet merah muncul dalam literatur Yunani Kuno, tepatnya dalam lakon Agamemnon karya Aeschylus pada tahun 458 SM. Dalam cerita tersebut, Raja Agamemnon disambut dengan jalur kain berwarna merah tua sekembalinya dari Perang Troya. Namun, pada masa itu, karpet merah dianggap sebagai "jalan bagi para dewa" dan manusia biasa dianggap tidak pantas menginjaknya karena sifatnya yang terlalu agung. Warna merah sendiri secara tradisional melambangkan kekuasaan, kekayaan, dan status sosial yang tinggi karena proses pembuatan pigmen warna merah pada zaman dulu sangat mahal dan sulit didapat.

Kehadiran karpet merah di industri hiburan dimulai secara formal pada awal abad ke-20. Pada tahun 1922, pengusaha teater Sid Grauman menggelar karpet merah untuk pemutaran perdana film Robin Hood di Hollywood, menandai pertama kalinya masyarakat umum melihat bintang film berjalan di atas karpet berwarna mencolok tersebut. Namun, titik balik yang menjadikannya fenomena global terjadi pada tahun 1961, ketika ajang Academy Awards (Oscar) mulai menggunakan karpet merah untuk menyambut para tamu. Kehadiran televisi berwarna beberapa tahun kemudian mempertegas kontras warna merah tersebut dan membuat setiap detail pakaian artis menjadi konsumsi visual yang sangat kuat bagi penonton di rumah.

Evolusi sesungguhnya terjadi pada era 1990-an, di mana red carpet mulai bertransformasi menjadi industri pemasaran yang masif. Sebelum era ini, banyak artis yang membeli baju mereka sendiri atau memilih pakaian tanpa bantuan penata gaya profesional. Munculnya kolaborasi antara rumah mode mewah dan selebriti mengubah segalanya. Karpet merah bukan lagi sekadar jalan masuk menuju ruang acara, melainkan landasan pacu (runway) bagi para desainer untuk memamerkan karya terbaru mereka. Pertanyaan legendaris "Siapa yang Anda kenakan?" menjadi standar wawancara yang menunjukkan bahwa busana tersebut memiliki nilai berita yang sama besarnya dengan prestasi akting sang artis.

Secara psikologis, karpet merah menciptakan narasi tentang "glamoritas Hollywood" yang tak terjangkau namun dapat dikagumi. Di sinilah identitas visual seorang artis dibentuk dan dipasarkan. Seorang desainer yang gaunnya dikenakan oleh pemenang kategori Best Actress bisa mendapatkan nilai eksposur yang setara dengan jutaan dolar iklan. Oleh karena itu, persiapan untuk berjalan di atas karpet merah kini melibatkan tim besar, mulai dari penata gaya, penata rambut, hingga ahli perhiasan. Setiap jengkel kain yang melintasi karpet tersebut telah diperhitungkan secara strategis untuk menciptakan momen yang viral di media sosial.

Di era digital saat ini, karpet merah juga telah menjadi ruang bagi aktivisme dan pernyataan politik. Kita melihat bagaimana pilihan warna atau pin tertentu yang dikenakan artis dapat memicu percakapan global mengenai isu-isu sosial. Karpet merah telah melampaui fungsinya sebagai sekadar alas kaki; ia telah menjadi platform komunikasi visual yang sangat kuat. Melalui evolusi ini, kita belajar bahwa fashion bukan sekadar tentang estetika, melainkan tentang bagaimana kita mempresentasikan identitas, status, dan pesan kepada dunia di bawah sorotan lampu yang paling terang.

Pada akhirnya, sejarah karpet merah mencerminkan peradaban manusia yang selalu membutuhkan panggung untuk merayakan keindahan dan pencapaian. Dari simbol penyambutan raja di Yunani Kuno hingga menjadi kiblat mode internasional, karpet merah tetap mempertahankan esensinya: sebuah ruang di mana setiap orang yang melintas di atasnya menjadi pusat perhatian semesta. Dengan memahami sejarah ini, kita dapat lebih menghargai setiap detail busana yang kita lihat, karena di balik kain-kain indah tersebut terdapat warisan budaya yang telah bertahan selama ribuan tahun.