Selasa, 21 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Berhenti Sekadar Berkebaya! Mari Bedah Substansi Pemikiran Kartini yang Belum Selesai

Admin WGM - Tuesday, 21 April 2026 | 01:00 PM

Background
Berhenti Sekadar Berkebaya! Mari Bedah Substansi Pemikiran Kartini yang Belum Selesai
Kebaya Kartini (BahanKain.com /)

Setiap tanggal 21 April, ruang-ruang publik di Indonesia dipenuhi oleh warna-warni kebaya dan sanggul yang anggun. Namun, jika kita hanya terpaku pada estetika pakaian, kita berisiko melakukan simplifikasi terhadap sosok yang sebenarnya memiliki pemikiran sangat radikal dan melampaui zamannya. Raden Ajeng Kartini bukanlah pejuang yang ingin dikenal karena cara berpakaiannya; ia adalah seorang intelektual yang menggunakan tinta sebagai senjata untuk meruntuhkan tembok-tembok ketidakadilan. Memahami Kartini berarti harus berani menembus simbolisme kain kebaya dan menyelami kedalaman surat-suratnya yang penuh dengan api kegelisahan mengenai kemanusiaan, keadilan, dan kebebasan berpikir.

Dalam korespondensinya, Kartini secara gamblang menyatakan bahwa emansipasi bukanlah sekadar upaya untuk menyaingi laki-laki, melainkan perjuangan untuk mendapatkan hak atas otonomi diri. Bagi Kartini, perempuan adalah pendidik pertama bagi kemanusiaan. Ia menulis dengan tajam bahwa bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang merdeka jika ia sendiri masih terbelenggu oleh ketidaktahuan dan tradisi yang diskriminatif? Esensi emansipasi menurut Kartini berakar pada pendidikan. Ia memandang ilmu pengetahuan sebagai cahaya (licht) yang akan menuntun bangsa ini keluar dari kegelapan (duisternis) kebodohan dan kemiskinan sistemik.

Lebih jauh lagi, surat-surat Kartini mengungkapkan kritiknya yang pedas terhadap feodalisme Jawa yang kaku. Ia mempertanyakan tradisi yang mengharuskan seseorang menyembah sesama manusia hanya karena perbedaan kasta atau keturunan. Kartini merindukan sebuah tatanan sosial di mana martabat seseorang diukur dari budi pekerti dan kecerdasannya, bukan dari gelar bangsawan yang melekat di depan namanya. Inilah sisi "pemberontak" Kartini yang sering kali terhapus oleh citra perempuan ningrat yang lembut dan penurut. Baginya, kebaya yang ia kenakan adalah identitas budayanya, namun jiwanya adalah milik dunia yang bebas tanpa sekat-sekat kelas.

Kartini juga membahas mengenai kemandirian ekonomi. Ia sadar bahwa tanpa kemandirian finansial, perempuan akan selalu berada dalam posisi yang rentan terhadap penindasan, baik dalam lingkup domestik maupun publik. Ia mendorong agar perempuan pribumi diberikan kesempatan untuk belajar keterampilan dan bekerja, sehingga mereka memiliki suara dalam menentukan arah hidupnya sendiri. Emansipasi, dalam pandangan Kartini, adalah tentang memiliki pilihan—pilihan untuk belajar, pilihan untuk tidak dipaksa menikah di usia muda (poligami), dan pilihan untuk berkontribusi bagi kemajuan masyarakatnya.

Tragisnya, perayaan modern terkadang justru menjebak sosok Kartini dalam seremoni visual yang dangkal. Ketika fokus kita hanya pada lomba busana terbaik, kita secara tidak langsung sedang mengurung kembali pemikiran Kartini ke dalam "pingitan" simbolis. Esensi perjuangannya adalah agar perempuan bisa keluar dari sangkar emas dan menjadi subjek aktif dalam sejarah. Memperingati Kartini seharusnya menjadi momen refleksi: sudah sejauh mana akses pendidikan yang setara bagi perempuan di pelosok negeri? Sudahkah lingkungan kerja kita bebas dari pelecehan dan diskriminasi?

Kartini adalah seorang visioner yang percaya bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak akan pernah tercapai jika setengah dari populasinya (perempuan) dibiarkan tertinggal. Surat-suratnya adalah sebuah manifesto yang menuntut perubahan struktural, bukan sekadar perubahan penampilan. Kebaya memang indah sebagai warisan budaya, namun pemikiran Kartini adalah fondasi bagi kedaulatan berpikir kita sebagai manusia. Mari kita hargai Kartini dengan cara yang ia inginkan: dengan membaca, menulis, berpikir kritis, dan terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bagi setiap warga negara tanpa terkecuali.

Emansipasi yang dicita-citakan Kartini belum sepenuhnya selesai. Tugas kita adalah melanjutkan estafet pemikiran tersebut. Kita butuh lebih banyak perempuan yang memiliki ketajaman analisis seperti Kartini, keberanian untuk menggugat ketidakadilan, dan semangat untuk terus belajar sepanjang hayat. Jangan biarkan semangat "Habis Gelap Terbitlah Terang" hanya menjadi kutipan di media sosial. Jadikan itu sebagai prinsip hidup untuk terus melangkah menuju cahaya pengetahuan, dengan atau tanpa kebaya, namun selalu dengan akal sehat dan hati yang merdeka.

Esensi sejati dari Kartini adalah keberanian untuk memiliki cita-cita di tengah keterbatasan. Kebaya hanyalah kulit luarnya; isi di dalamnya adalah tekad baja untuk memanusiakan manusia. Menghargai Kartini berarti menghargai hak setiap perempuan untuk berpendidikan, mandiri, dan berdaulat atas hidupnya sendiri. Mari kita jadikan peringatan tentang dirinya sebagai momentum untuk memperkuat literasi dan solidaritas, demi mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan tercerahkan, persis seperti yang ia goreskan dalam surat-suratnya seratus tahun yang lalu.