Harmoni di Bumi Sriwijaya serta Ulasan Akulturasi Budaya pada Masjid Cheng Ho dan Pulau Kemaro sebagai Simbol Toleransi
Admin WGM - Saturday, 14 March 2026 | 04:00 PM


Palembang tidak hanya dikenal sebagai kota tertua di Indonesia dengan kekayaan kulinernya, tetapi juga sebagai laboratorium sosial bagi keberhasilan akulturasi budaya. Sebagai bekas pusat Kerajaan Sriwijaya yang menjadi titik temu pedagang mancanegara, Palembang mewarisi semangat toleransi yang sangat kuat. Manifestasi nyata dari perpaduan budaya ini tercermin jelas pada dua destinasi wisata religi ikoniknya, yaitu Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho dan Pulau Kemaro. Keduanya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol hidup yang menceritakan bagaimana budaya lokal Palembang, Islam, dan tradisi Tionghoa dapat tumbuh berdampingan secara harmonis.
Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho yang terletak di kawasan Jakabaring menjadi saksi bisu penghormatan masyarakat Palembang terhadap Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut Muslim asal Tiongkok yang pernah singgah di Nusantara. Keunikan utama masjid ini terletak pada gaya arsitekturnya yang berani menggabungkan elemen visual dari tiga budaya sekaligus. Menara masjid yang berbentuk pagoda merupakan pengaruh kuat arsitektur Tiongkok, sementara kubah dan penggunaan kaligrafi pada interiornya menegaskan identitas Islam. Di sisi lain, penggunaan warna merah dominan yang dipadukan dengan ukiran khas Palembang di bagian ornamen kayu memberikan sentuhan lokal yang kental.
Secara filosofis, Masjid Cheng Ho berfungsi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia merupakan pusat edukasi mengenai sejarah masuknya Islam melalui jalur maritim yang dibawa oleh etnis Tionghoa. Keberadaan masjid ini mengirimkan pesan kuat bahwa keyakinan agama tidak harus menghapus identitas budaya asal, melainkan dapat saling memperkaya. Masyarakat sekitar yang heterogen menerima kehadiran masjid ini dengan tangan terbuka, menjadikannya salah satu titik kumpul sosial yang mempererat kerukunan antarumat beragama di Palembang.
Bergerak ke tengah aliran Sungai Musi, terdapat Pulau Kemaro yang menawarkan dimensi akulturasi melalui pendekatan legenda dan spiritualitas Buddha-Tionghoa. Pulau ini identik dengan Pagoda sembilan lantai yang menjulang tinggi serta Kelenteng Soei Goeat Kiat yang menjadi pusat peribadatan saat perayaan Cap Go Meh. Namun, inti dari daya tarik Pulau Kemaro adalah legenda cinta antara Tan Bun An, seorang pangeran dari Tiongkok, dan Siti Fatimah, putri bangsawan Palembang. Kisah ini sering kali dianggap sebagai metafora dari penyatuan dua budaya besar yang pernah mendominasi wilayah Sumatera Selatan.
Pulau Kemaro menjadi bukti unik bagaimana situs religi dapat menjadi ruang publik yang inklusif. Meskipun merupakan tempat ibadah umat Buddha dan pemujaan leluhur masyarakat Tionghoa, wisatawan dari berbagai latar belakang agama datang berkunjung untuk menikmati keindahan arsitekturnya dan meresapi nilai sejarahnya. Toleransi di sini bukan sekadar jargon, melainkan praktik harian di mana pedagang lokal dan peziarah dari luar negeri berinteraksi tanpa batasan sekat etnis. Keberadaan makam yang dikeramatkan di pulau tersebut juga dihormati oleh masyarakat lintas keyakinan, menunjukkan kedalaman akar pluralisme di Bumi Sriwijaya.
Secara keseluruhan, Masjid Cheng Ho dan Pulau Kemaro adalah representasi fisik dari jati diri Palembang yang terbuka. Keduanya membuktikan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan benang-benang warna-warni yang menyusun permadani sejarah yang indah. Keberlanjutan kedua situs ini sebagai objek wisata religi unggulan menunjukkan bahwa masyarakat Palembang sangat menghargai warisan akulturasi sebagai modal sosial yang berharga dalam menjaga kedamaian dan keharmonisan di masa depan.
Next News

Sejarah dan Keutamaan Membaca Kitab Simtuddurar dalam Perayaan Maulid Nabi
in 3 hours

Kaya Kebudayaan! 6 Tradisi Unik Peringatan Maulid Nabi di Berbagai Daerah Indonesia
17 hours ago

Mengapa Maulid Nabi Diperingati? Ini Sejarah dan Makna di Balik Peringatan Hari Lahir Rasulullah
19 hours ago

Bukan Cuma Sengketa Pemilu! Ini Peran Penting MK dalam Mengawal Konstitusi Negara
7 days ago

Mengenal Perbedaan UUD 1945, Konstitusi RIS, UUDS 1950, dan UUD Hasil Amandemen
7 days ago

Kronologi Lengkap Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
8 days ago

Peran Laksamana Maeda dan Pergerakan Tokoh-Tokoh Kunci Sebelum Rengasdengklok
10 days ago

Apa Itu Vacuum of Power? Mengapa Momen Ini Sangat Krusial Bagi Kemerdekaan RI?
10 days ago

Malam Mencekam 15 Agustus 1945: Perdebatan Sengit Golongan Muda dan Soekarno-Hatta
10 days ago

Radio Gelombang Pendek dan Keberanian Sutan Sjahrir: Awal Mula Berita Kekalahan Jepang Bocor
10 days ago





