Dulu Tandus Kini Subur, Menguak Sejarah Pohon Soekarno yang Hijaukan Padang Arafah
Admin WGM - Tuesday, 26 May 2026 | 09:30 AM


Karakteristik geografi Padang Arafah di Arab Saudi kini menyajikan pemandangan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. Kawasan yang menjadi sirkuit utama pelaksanaan ibadah wukuf bagi jemaah haji dari seluruh penjuru dunia ini, kini bertransformasi dari sebuah hamparan pasir yang tandus dan gersang menjadi sebuah kawasan lembah yang hijau dan teduh.
Secara silsilah geografi, Padang Arafah merupakan dataran luas yang dikelilingi oleh jajaran perbukitan batu. Pada masa lalu, garis waktu pelaksanaan wukuf di tempat ini selalu diidentifikasi dengan tantangan suhu udara yang sangat ekstrem dan sengatan terik matahari yang menyengat, lantaran tidak adanya vegetasi pelindung harian yang mampu tumbuh di atas tanah makro yang gersang tersebut.
Namun, penelusuran sejarah lingkungan mencatat sebuah draf perubahan besar yang melibatkan peran diplomasi internasional. Transformasi hijau di sirkuit geografi Arafah ini bermula dari gagasan visioner Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, saat melangsungkan ibadah haji. Melihat kondisi harian para jemaah yang harus bertahan di bawah cuaca panas ekstrem tanpa peneduh, Bung Karno menginisiasi sebuah draf proyek penghijauan berskala besar.
Melalui jalur diplomasi lingkungan yang kuat dengan pembuat kebijakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, Indonesia secara resmi mengirimkan ribuan bibit tanaman yang dinilai memiliki daya tahan tinggi terhadap iklim kering dan struktur tanah gurun yang ekstrem. Jenis tanaman yang dikirimkan tersebut adalah pohon mimba (Azadirachta indica), yang di kemudian hari secara lokal di sirkuit tanah suci lebih populer dikenal dengan sebutan Pohon Soekarno.
Pemerintah Arab Saudi menyambut baik langkah diplomasi hijau tersebut dengan membangun sirkuit jaringan irigasi bawah tanah secara intensif untuk menyiram tanaman setiap harinya. Garis waktu perawatan harian yang konsisten selama puluhan tahun akhirnya membuahkan hasil nyata, di mana pohon-pohon tersebut berhasil tumbuh subur, berakar kuat, dan membentuk kanopi hijau yang masif di sepanjang dataran Arafah.
Kehadiran Pohon Soekarno ini secara signifikan mengubah mikroklimat harian di Padang Arafah. Hamparan yang dahulu hanya berupa pasir dan batu yang memantulkan panas, kini menjelma menjadi lembah hijau yang mampu menurunkan suhu udara di sekitar lokasi wukuf, sehingga memberikan kenyamanan serta perlindungan fisik yang esensial bagi jutaan jemaah haji dari ancaman sengatan panas harian (heat stroke).
Hingga saat ini, lanskap geografi Padang Arafah yang semakin menghijau menjadi bukti sejarah yang konkret mengenai keberhasilan draf diplomasi lingkungan antarnegara. Warisan penghijauan dari Bung Karno ini tidak hanya sukses mengubah rupa geografis tanah suci secara berkelanjutan, melainkan juga terus mengalirkan manfaat fungsional harian bagi kelancaran dan kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan rukun utama ibadah haji.
Next News

Bukan Hari Senin! Mengapa Hari Selasa Adalah Waktu Terbaik untuk Kerja Fokus?
a month ago

Ternyata Senin Dimulai dari Minggu Malam, Ini 7 Hal yang Bisa Disiapkan
a month ago

5 Ritual Kecil di Hari Senin yang Bisa Mengubah Mood Seharian
a month ago

Senin Bikin Otak "Lemot"? Ternyata Ini yang Terjadi Setelah Weekend
a month ago

Gaya Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang Diakui Dunia dan Relevan di Era Modern
2 months ago

Dahsyatnya Sholawat: Keutamaan Membaca Sholawat Nabi dan Manfaatnya Bagi Kehidupan
2 months ago

Meneladani 4 Sifat Utama Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan dan Pekerjaan Modern
2 months ago

Trik Mengatasi 'Reading Slump': Cara Kembali Kerap Membaca Saat Malas Menghampiri
2 months ago

5 Tips Menyambut Weekend Tanpa Beban Kerja, Bebas Gangguan Otak!
2 months ago

Jangan Digaruk! Ini Trik Hilangkan Gatal Gigitan Nyamuk Tanpa Bikin Kulit Irritasi
2 months ago





