Sabtu, 11 Juli 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Data Wajah Dinilai Lebih Sensitif daripada Password, Perlindungan Biometrik Jadi Sorotan

Admin WGM - Monday, 29 June 2026 | 12:45 PM

Background
Data Wajah Dinilai Lebih Sensitif daripada Password, Perlindungan Biometrik Jadi Sorotan
(download.id/)

Penerapan kewajiban registrasi kartu SIM prabayar menggunakan verifikasi biometrik wajah yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 kembali memunculkan perhatian terhadap pentingnya perlindungan data pribadi. Di antara berbagai jenis data yang dikumpulkan dalam proses digital, informasi biometrik dinilai sebagai salah satu yang paling sensitif karena berkaitan langsung dengan identitas unik seseorang.

Chairman Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, menjelaskan bahwa data biometrik memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan data pribadi lainnya. Perbedaan utamanya terletak pada sifat data tersebut yang permanen dan tidak dapat diubah apabila mengalami kebocoran.

Menurutnya, kata sandi, nomor telepon, maupun alamat surat elektronik masih dapat diganti ketika terjadi penyalahgunaan. Namun, hal yang sama tidak berlaku untuk data biometrik seperti wajah, sidik jari, maupun iris mata karena seluruh informasi tersebut akan melekat pada seseorang sepanjang hidupnya.

"Password bisa diganti. Nomor telepon bisa diganti. Alamat email juga bisa dibuat baru. Tetapi wajah, sidik jari, dan iris mata tidak bisa diganti sepanjang hidup seseorang," ujar Pratama.

Kebijakan registrasi SIM menggunakan biometrik wajah merupakan pengembangan dari mekanisme registrasi nomor seluler yang sebelumnya mengandalkan validasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (KK). Dengan sistem baru ini, proses verifikasi identitas diharapkan menjadi lebih akurat sekaligus mampu menekan penyalahgunaan identitas dalam pendaftaran kartu SIM.

Meski demikian, Pratama mengingatkan bahwa penggunaan data biometrik juga membawa tantangan baru dalam aspek keamanan siber. Ia menilai kebocoran data wajah dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang jauh lebih serius dibandingkan kebocoran kata sandi atau identitas digital lainnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya penerapan standar keamanan yang ketat oleh operator seluler dalam mengelola data pelanggan.

Menurut Pratama, operator sebaiknya tidak menyimpan foto wajah pelanggan dalam bentuk gambar asli. Sebagai alternatif yang lebih aman, hasil pemindaian wajah dapat diubah menjadi template biometrik, yakni representasi matematis yang hanya digunakan untuk proses pencocokan identitas.

Dengan metode tersebut, apabila terjadi kebocoran basis data, pihak yang tidak bertanggung jawab tidak serta-merta memperoleh foto asli pengguna sehingga risiko penyalahgunaan dapat ditekan.

"Apabila basis data mengalami kebocoran, pelaku tidak langsung memperoleh foto wajah asli pengguna," jelasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya penerapan prinsip data minimization, yaitu hanya mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkan untuk proses verifikasi. Setelah autentikasi selesai, data yang sudah tidak diperlukan sebaiknya segera dihapus agar tidak tersimpan lebih lama dari yang dibutuhkan.

Pratama juga menilai seluruh proses pengiriman data biometrik harus dilindungi menggunakan teknologi enkripsi modern. Langkah tersebut diperlukan agar data wajah tidak mudah disadap atau diakses oleh pihak lain ketika sedang ditransmisikan melalui jaringan.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar pemerintah dan operator telekomunikasi menerapkan sistem penyimpanan yang terpisah antara data kependudukan, data pelanggan, dan data biometrik. Dengan pemisahan tersebut, apabila terjadi insiden keamanan pada salah satu sistem, dampaknya tidak langsung meluas ke seluruh informasi pengguna.

Menurutnya, registrasi SIM berbasis biometrik memang memiliki potensi besar untuk meningkatkan akurasi verifikasi identitas sekaligus mengurangi praktik penyalahgunaan identitas dan penipuan digital. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut harus dibarengi dengan perlindungan data pribadi yang kuat.

Pratama menegaskan bahwa data biometrik merupakan aset digital yang bersifat permanen. Oleh sebab itu, keamanan data wajah harus menjadi prioritas utama agar manfaat teknologi dapat dirasakan tanpa mengorbankan privasi masyarakat.