Sistem Desil DTKS Keluhkan Warga: Terlihat Mampu di Data, Bantuan Sosial Terhenti
Azizatul Khifdiyah - Saturday, 26 September 2026 | 11:15 AM


Dilansir dari kompas.com, penetapan desil dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) memicu keluhan dari sejumlah warga penerima bantuan sosial. Kebijakan pemutakhiran data yang bertujuan agar bantuan lebih tepat sasaran ini justru dinilai merugikan warga miskin yang statusnya mendadak dinilai mampu. Akibat pembaruan indikator tersebut, sejumlah program bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus terhenti secara sepihak.
Salah satu warga yang terdampak adalah Siti, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah Jakarta Timur. Ia terkejut saat mengetahui nama keluarganya tidak lagi terdaftar sebagai penerima KJP Plus untuk anaknya pada periode terbaru. Padahal, kondisi ekonomi keluarganya tidak mengalami peningkatan dan suaminya masih bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu.
Pemerintah Daerah DKI Jakarta menyatakan bahwa penyesuaian data ini mengacu pada pemeringkatan desil terbaru yang dikelola oleh Kementerian Sosial. Berdasarkan variabel penilaian seperti kepemilikan aset, jenis dinding rumah, hingga daya listrik, status keluarga Siti naik dari Desil 3 menjadi Desil 6. Perubahan indikator statistik inilah yang secara otomatis menghentikan kucuran bantuan dana pendidikan bagi anaknya.
"Kami sangat bingung karena di kertas dibilang mampu, padahal makan sehari-hari saja masih susah," kata Siti saat ditemui di kediamannya pada Selasa.
Siti menceritakan bahwa petugas pendataan sempat mencatat kepemilikan sepeda motor tua di rumahnya sebagai salah satu indikator penilaian ekonomi. Keberadaan barang tersebut rupanya menjadi faktor utama yang mendongkrak peringkat desil keluarganya dalam sistem basis data. Ia berharap pemerintah daerah dapat melakukan verifikasi faktual secara langsung ke lapangan agar bantuan sosial yang sangat dibutuhkan bisa kembali disalurkan.
"Harapan saya pemerintah tolong cek langsung kondisi kami yang sebenarnya di lapangan," lanjutnya.
Ketidaksesuaian antara data administrasi dan realitas ekonomi ini memicu keprihatinan dari berbagai pihak serta pengamat sosial. Proses verifikasi lapangan secara berkala dinilai sangat krusial agar klasifikasi desil tidak hanya mengandalkan variabel formal yang sering kali kurang mencerminkan kondisi riil masyarakat bawah. Tanpa evaluasi menyeluruh, warga kurang mampu berisiko terus kehilangan hak atas jaminan sosial yang seharusnya mereka terima.
Next News

Buntut Pembatalan Bebas Bersyarat Indra Kenz & Bechi, Kemenkumham Periksa Seluruh Petugas Lapas!
15 hours ago

Harga Minyak Dunia Meroket, Indonesia Bersiap Hadapi Imbas Inflasi dan Beban Subsidi.
15 hours ago

Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Level III Siaga, Warga Dimbau Tak Panik
8 hours ago

Rumah Dinas Perwira TNI Diduga Jadi Markas Judol, 11 Orang Warga Sipil Diamankan
8 hours ago

Rombongan Pemuda Bawa Celurit Nabrak Gerobak Sate di Kedungwuni, Satu Meninggal Dunia
11 hours ago

Geger Belatung di Menu Makan Bergizi Gratis Banyuwangi, SPPG Beri Klarifikasi
a day ago

Kasus Pengeroyokan Usai SKNC 2026 Memanjang, Polisi Tetapkan 9 Tersangka
a day ago

MK Tolak Gugatan Ijazah Gibran, Tim Hukum Dorong Pemakzulan ke DPR
a day ago

Sembunyikan Sabu di Ayam Goreng Krispi, Nenek di Surabaya Gagalkan Penyelundupan Narkoba ke Lapas Porong
2 days ago

Gibran Tanggapi Putusan MK Soal Gugatan Ijazah, Tegaskan Lulus SMA dan Tetap Fokus Bekerja
2 days ago





