Senin, 20 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Sering Jadi Pertanyaan, Mengapa Indonesia Pakai Lajur Kiri Sedangkan Amerika Lajur Kanan?

Admin WGM - Thursday, 26 February 2026 | 12:31 PM

Background
 Sering Jadi Pertanyaan, Mengapa Indonesia Pakai Lajur Kiri Sedangkan Amerika Lajur Kanan?
Perbedaan setir kiri dan kanan (Mobil123/)

Pernahkah Anda merasa bingung saat menonton film Hollywood dan melihat pengemudinya duduk di sebelah kiri jalan? Indonesia merupakan salah satu dari sekitar 35 persen negara di dunia yang menganut aturan Left-Hand Traffic (LHT), di mana kendaraan berjalan di lajur kiri dan posisi kemudi berada di sebelah kanan. Banyak yang mengira ini adalah warisan murni dari Belanda, namun sejarahnya jauh lebih kompleks dari itu. Perdebatan antara pengaruh Inggris dan pergeseran politik di Eropa pada masa lalu ternyata menjadi faktor penentu mengapa tangan kanan Anda kini memegang tuas transmisi di tengah mobil. Memahami sejarah ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menjelaskan identitas transportasi kita yang unik di tengah dominasi setir kiri secara global.

Awal Mula: Budaya Berkuda dan Pedang

Sebelum mobil diciptakan, aturan jalan sudah terbentuk sejak zaman ksatria berkuda. Secara historis, sebagian besar orang adalah pengguna tangan kanan. Para penunggang kuda lebih suka berjalan di sisi kiri jalan agar tangan kanan mereka bebas untuk menghunus pedang jika bertemu musuh dari arah berlawanan.

Inggris mempertahankan tradisi ini hingga era kendaraan bermotor. Ketika Inggris mulai menjajah berbagai wilayah, termasuk Indonesia (saat masa Thomas Stamford Raffles), mereka membawa aturan lajur kiri ini ke Nusantara.

Peran Belanda: Dari Kanan ke Kiri

Menariknya, Belanda sendiri sebenarnya sempat menggunakan lajur kiri. Ketika mereka pertama kali datang ke Indonesia melalui VOC, mereka membawa kebiasaan lajur kiri tersebut. Namun, perubahan besar terjadi di Eropa saat Napoleon Bonaparte dari Prancis mulai menaklukkan berbagai negara, termasuk Belanda.

Napoleon, yang dikabarkan kidal, mengubah aturan jalan di Eropa menjadi lajur kanan (setir kiri) sebagai bentuk perlawanan terhadap tradisi Inggris. Belanda di Eropa akhirnya mengikuti aturan Napoleon dan berpindah ke lajur kanan. Lantas, kenapa Indonesia tidak ikut berubah?

  • Jarak yang Jauh: Saat Belanda di Eropa berubah ke lajur kanan, komunikasi dan kontrol atas koloni di Hindia Belanda tidak secepat sekarang.
  • Pengaruh Inggris yang Kuat: Masa pendudukan Inggris (Raffles) di Indonesia memperkuat tradisi lajur kiri yang sudah ada sebelumnya.
  • Keengganan Mengubah Infrastruktur: Mengubah arah lalu lintas membutuhkan biaya besar dan penyesuaian total pada kendaraan yang sudah ada.

Daftar Alasan Teknis Kenapa Indonesia Tetap Setir Kanan

Selain faktor sejarah, ada beberapa alasan mengapa sistem ini tetap bertahan hingga era modern:

  1. Standarisasi Regional (ASEAN) Sebagian besar tetangga terdekat Indonesia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei juga menggunakan setir kanan. Hal ini memudahkan konektivitas dan perdagangan otomotif antarnegara tetangga.
  2. Dominasi Industri Otomotif Jepang Jepang adalah salah satu produsen mobil terbesar di dunia yang juga menggunakan sistem setir kanan. Karena sejarah dan kedekatan ekonomi, Indonesia menjadi pasar utama bagi mobil-mobil rakitan Jepang, yang secara alami mendukung keberlanjutan sistem setir kanan.
  3. Biaya Konversi Infrastruktur Mengubah lajur kiri ke kanan berarti harus merombak seluruh desain pintu tol, rambu lalu lintas, jembatan layang, hingga sistem transportasi umum (seperti pintu busway). Risiko kecelakaan selama masa transisi juga sangat tinggi.

Alasan setir mobil di Indonesia berada di sebelah kanan adalah hasil dari kombinasi tradisi berkuda Inggris yang dibawa oleh Raffles dan fakta bahwa Belanda belum sempat mengubah aturan di koloninya saat mereka sendiri dipaksa berubah oleh Napoleon di Eropa. Ditambah dengan kuatnya pengaruh industri otomotif Jepang setelah kemerdekaan, sistem setir kanan pun menjadi permanen. Sejarah ini membuktikan bahwa aturan yang kita jalani setiap hari di jalan raya adalah warisan ratusan tahun yang melibatkan geopolitik dunia. Jadi, setiap kali Anda memegang kemudi, Anda sebenarnya sedang memegang sepotong sejarah panjang yang masih bertahan hingga hari ini.