Selasa, 28 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Mengenal Selat Sunda: Letak, Peran Strategis, dan Proses Terbentuknya Secara Geologis

Admin WGM - Saturday, 25 April 2026 | 10:00 AM

Background
Mengenal Selat Sunda: Letak, Peran Strategis, dan Proses Terbentuknya Secara Geologis
(Google Maps/)

Selat Sunda merupakan perairan yang menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia serta menjadi jalur pelayaran penting sejak lama. Letaknya yang strategis menjadikan selat ini sebagai salah satu rute utama distribusi barang dan mobilitas laut di Indonesia.

Namun, di balik perannya tersebut, Selat Sunda memiliki proses terbentuk yang panjang dan dipengaruhi oleh dinamika geologi yang aktif.

Terbentuk karena Aktivitas Lempeng Tektonik

Secara ilmiah, terbentuknya Selat Sunda tidak lepas dari aktivitas pergerakan lempeng bumi. Wilayah ini berada di zona pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Proses subduksi, yakni ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lain—menjadi faktor utama terbentuknya struktur geologi di kawasan ini. Aktivitas ini menciptakan deformasi kerak bumi, patahan, serta cekungan yang kemudian berkembang menjadi selat.

Selat Sunda juga disebut sebagai zona transisi, karena terjadi perubahan arah dan kecepatan subduksi antara wilayah Sumatera dan Jawa. Hal ini menyebabkan kondisi geologinya sangat dinamis dan rawan gempa.

Pergeseran Struktur Bumi

Selain subduksi, pergeseran kerak bumi turut berperan dalam pembentukan Selat Sunda. Para ahli menyebut adanya pergerakan Pulau Jawa yang relatif bergeser ke arah selatan dibandingkan Pulau Sumatera.

Pergeseran ini terjadi akibat aktivitas sesar atau patahan geologi yang memanjang di wilayah barat Indonesia. Proses tersebut secara perlahan membentuk celah yang kemudian terisi air laut, sehingga terbentuklah selat seperti yang dikenal saat ini.

Peran Letusan Gunung Krakatau

Selain faktor tektonik, pembentukan Selat Sunda juga dikaitkan dengan aktivitas vulkanik, khususnya letusan Gunung Krakatau.

Letusan besar Krakatau, terutama pada tahun 1883, menyebabkan sebagian besar tubuh gunung runtuh dan membentuk kaldera atau kawah raksasa. Peristiwa ini mengubah morfologi kawasan secara signifikan dan memperluas wilayah perairan di sekitarnya.

Bahkan, sekitar tiga perempat tubuh gunung hancur akibat letusan tersebut, meninggalkan cekungan besar yang kini menjadi bagian dari Selat Sunda.

Kawasan Geologi yang Masih Aktif

Hingga saat ini, Selat Sunda masih tergolong kawasan geologi aktif. Aktivitas tektonik dan vulkanik di wilayah ini terus berlangsung, sehingga sering terjadi gempa bumi maupun aktivitas gunung api, seperti yang ditunjukkan oleh keberadaan Anak Krakatau.

Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembentukan Selat Sunda sebenarnya belum sepenuhnya berhenti, melainkan terus berkembang seiring dinamika bumi.

Peran Strategis Selat Sunda

Selain aspek geologi, Selat Sunda memiliki peran penting dalam bidang ekonomi dan transportasi. Jalur ini menjadi penghubung utama antara wilayah barat dan tengah Indonesia, serta jalur alternatif selain Selat Malaka untuk pelayaran internasional.

Dengan posisi yang menghubungkan dua pulau besar—Jawa dan Sumatera—Selat Sunda juga menjadi pusat aktivitas perdagangan, industri, hingga pariwisata.

Selat Sunda bukan sekadar perairan pemisah dua pulau, melainkan hasil dari proses geologi panjang yang melibatkan pergerakan lempeng bumi dan aktivitas vulkanik besar. Dari subduksi hingga letusan Krakatau, seluruh proses tersebut membentuk lanskap yang kita kenal saat ini. Keaktifannya hingga kini menjadi pengingat bahwa bumi terus bergerak dan berubah dari waktu ke waktu.