Dari Batuan ke Samudra: Perjalanan Panjang Mineral yang Membuat Laut Menjadi Asin
Admin WGM - Monday, 27 April 2026 | 03:30 PM


Lautan mencakup lebih dari 70 persen permukaan Bumi, dan jika seluruh garam di dalamnya dikeringkan, ia mampu melapisi seluruh daratan di planet ini dengan ketebalan lebih dari 150 meter. Namun, dari mana asal beban garam yang masif ini? Jawaban utamanya justru dimulai dari tempat yang paling tidak terduga: langit dan daratan.
Proses ini dimulai dari siklus hidrologi. Saat hujan turun, air di atmosfer bereaksi dengan karbon dioksida di udara, menciptakan asam karbonat yang sangat lemah. Meski tidak berbahaya bagi manusia, air hujan yang bersifat sedikit asam ini memiliki kekuatan untuk mengikis batuan di daratan. Proses erosi ini melepaskan ion-ion mineral yang terkunci di dalam batu, terutama natrium dan magnesium.
Ion-ion mineral ini kemudian terbawa oleh aliran air menuju sungai, dan akhirnya bermuara di lautan luas. Anda mungkin bertanya, jika sungai membawa mineral tersebut, mengapa air sungai tidak terasa asin? Jawabannya terletak pada konsentrasi. Jumlah mineral dalam air sungai sangatlah kecil sehingga lidah manusia mengategorikannya sebagai air tawar. Namun, selama miliaran tahun, lautan bertindak sebagai wadah penampungan raksasa yang mengumpulkan mineral-mineral ini tanpa memiliki saluran keluar, kecuali melalui penguapan.
Mekanisme Penguapan dan Pemurnian Rasa
Saat matahari memanaskan permukaan laut, air murni menguap ke atmosfer untuk kembali menjadi awan dan hujan. Namun, mineral dan garam yang terbawa ke laut tidak ikut menguap. Mereka tertinggal di bawah, menjadi semakin terkonsentrasi seiring berjalannya waktu. Inilah alasan mengapa laut tetap asin meskipun ribuan sungai air tawar terus mengalir ke dalamnya setiap detik. Laut adalah titik akhir dari perjalanan mineral daratan, sebuah "panci" raksasa yang terus mendidih perlahan di bawah sinar matahari, menyisakan residu rasa yang kita kenal sebagai garam.
Dapur di Dasar Samudra: Ventilasi Hidrotermal
Daratan bukan satu-satunya pemasok. Lautan memiliki "dapur" internalnya sendiri di dasar samudra. Ventilasi hidrotermal—celah di dasar laut di mana air merembes masuk ke dalam kerak bumi yang panas—memainkan peran vital. Air laut yang masuk ke celah ini menjadi sangat panas, melarutkan mineral dari batuan di dalam kerak bumi, dan kemudian menyemburkannya kembali ke laut dalam bentuk cairan yang kaya akan mineral.
Selain itu, aktivitas vulkanik bawah laut menyumbangkan ion-ion lain, terutama klorida. Ketika ion natrium dari daratan bertemu dengan ion klorida dari aktivitas bawah laut, mereka membentuk Natrium Klorida (NaCl), senyawa kimia yang kita kenal sebagai garam dapur. Sekitar 85 hingga 90 persen dari seluruh mineral terlarut di laut adalah natrium klorida, yang memberikan rasa asin yang dominan.
Menariknya, meskipun mineral terus mengalir masuk, tingkat keasinan laut rata-rata tetap stabil di angka sekitar 3,5 persen selama jutaan tahun. Ini terjadi karena lautan memiliki sistem "pembersihan" alaminya sendiri. Mineral-mineral baru yang masuk digunakan oleh organisme laut untuk membentuk cangkang dan tulang, atau mengendap menjadi batuan sedimen baru di dasar laut.
Memahami mengapa air laut asin adalah memahami bagaimana planet kita mendaur ulang dirinya sendiri. Lautan bukan hanya sekadar genangan air besar, melainkan sebuah laboratorium kimia raksasa yang merekam sejarah geologis Bumi. Setiap butir garam di lidah kita saat kita berenang di laut adalah saksi bisu dari perjalanan batu yang hancur oleh hujan dan api yang menyembur dari perut bumi.
Next News

Bukan Cuma Olahraga, Hari Selancar Internasional Jadi Momen Penting Jaga Kelestarian Laut
in 3 hours

Bukan Cuma Karena Perang, Ini 4 Faktor Utama yang Memaksa Manusia Mengungsi dari Negaranya
4 hours ago

Sering Tertukar, Ini Perbedaan Nyata Antara Pengungsi, Pencari Suaka, dan Migran
5 hours ago

Biar Gak Kena 'Post-Holiday Blues', Lakukan 4 Persiapan Ini Sebelum Masuk Semester Baru
a day ago

Mengenal Agenda 'Women, Peace, and Security' sebagai Benteng Pencegahan Kekerasan Seksual
a day ago

Bukan Sekadar Dampak Buruk Perang, Ini Sejarah Mengapa Kekerasan Seksual dalam Konflik Masuk Kejahatan Perang
a day ago

Cara Mendeteksi Alat Pelacak Tersembunyi dengan Android dan iPhone, Simak Langkahnya
2 days ago

BMKG Prediksi El Nino Berlangsung Juni 2026 hingga Mei 2027, Waspadai Dampak Kekeringan
2 days ago

Berada di Lingkaran Cincin Api, Mengapa Wilayah Indonesia Begitu Sering Diguncang Gempa?
3 days ago

Bukan Mistis! Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Air Laut Dekat Dermaga Berwarna Hijau
3 days ago





