Minggu, 19 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Mengenal Bekantan, Kera Belanda Khas Kalimantan yang Jago Berenang

Admin WGM - Saturday, 18 April 2026 | 10:30 AM

Background
Mengenal Bekantan, Kera Belanda Khas Kalimantan yang Jago Berenang
(pinterest/nathalie_marbles)

Bekantan, atau yang sering disebut sebagai "kera Belanda", merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Pulau Kalimantan. Hewan ini dikenal luas karena ciri fisiknya yang unik, terutama hidung panjang pada jantan dewasa yang menjadi daya tarik sekaligus identitas khasnya.

Secara ilmiah, bekantan memiliki nama Nasalis larvatus dan termasuk dalam kelompok primata. Dalam bahasa Inggris, hewan ini dikenal sebagai proboscis monkey atau long-nosed monkey, merujuk pada bentuk hidungnya yang mencolok.

Bekantan hidup di habitat yang sangat spesifik, seperti hutan mangrove, rawa gambut, dan kawasan di sepanjang sungai. Lingkungan ini menjadi tempat ideal karena menyediakan sumber makanan sekaligus perlindungan dari predator.

Salah satu hal paling menarik dari bekantan adalah kemampuannya berenang. Tidak seperti kebanyakan primata yang cenderung menghindari air, bekantan justru sangat akrab dengan lingkungan perairan. Mereka bahkan mampu menyelam dan berenang hingga puluhan meter, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki oleh primata lain.

Kemampuan ini menjadi bagian penting dari adaptasi hidup mereka. Bekantan kerap melompat dari pohon langsung ke sungai untuk berpindah tempat atau menghindari ancaman. Bahkan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa bekantan memiliki selaput di antara jari-jarinya, yang membantu mereka berenang lebih efektif.

Dari segi fisik, bekantan memiliki tubuh berbulu cokelat kemerahan dengan bagian wajah yang cenderung tidak berbulu dan berwarna kemerahan. Perutnya terlihat buncit, bukan karena kelebihan lemak, melainkan akibat sistem pencernaan khusus yang membantu mencerna daun dan tumbuhan berserat tinggi.

Hidung panjang pada jantan bukan sekadar ciri unik, tetapi juga berfungsi sebagai alat komunikasi dan penarik perhatian betina. Semakin besar hidungnya, semakin tinggi pula daya tariknya dalam kelompok sosial.

Bekantan hidup dalam kelompok sosial yang terstruktur, biasanya terdiri dari satu jantan dominan, beberapa betina, dan anak-anak. Struktur ini dikenal sebagai sistem "one-male group", di mana jantan berperan sebagai pemimpin sekaligus pelindung kelompok.

Selain kelompok utama, terdapat juga kelompok jantan yang hidup terpisah. Kelompok ini biasanya terdiri dari jantan muda yang belum memiliki kelompok sendiri.

Dalam hal pola makan, bekantan termasuk herbivora yang mengonsumsi daun, buah, dan biji-bijian. Menariknya, mereka cenderung menghindari buah yang terlalu manis karena dapat mengganggu sistem pencernaan mereka yang kompleks.

Sebagai satwa endemik, bekantan memiliki peran penting dalam ekosistem hutan Kalimantan. Mereka membantu menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dalam penyebaran biji dan pertumbuhan vegetasi.

Namun, di balik keunikannya, bekantan menghadapi ancaman serius. Populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat, perburuan, serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan dan permukiman. Saat ini, bekantan masuk dalam kategori terancam punah menurut daftar konservasi internasional.

Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi lingkungan. Upaya konservasi terus dilakukan untuk melindungi habitat alami bekantan, terutama di kawasan hutan mangrove dan daerah aliran sungai.

Bekantan juga memiliki nilai simbolis bagi masyarakat Kalimantan. Hewan ini menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan dan sering dijadikan ikon budaya serta pariwisata daerah.

Keunikan bentuk, perilaku, dan habitatnya menjadikan bekantan sebagai salah satu satwa paling khas di Indonesia. Tidak hanya menarik dari sisi visual, tetapi juga penting dari sudut pandang ekologi dan konservasi.

Di tengah ancaman yang ada, keberadaan bekantan menjadi pengingat bahwa kekayaan hayati Indonesia sangat berharga dan perlu dijaga bersama. Melestarikan habitatnya bukan hanya soal menjaga satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan alam yang lebih luas.

Bekantan bukan sekadar "kera berhidung panjang", melainkan simbol keunikan alam Indonesia yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.