Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Membedah "Pamali": Ketika Mitos Nenek Moyang Ternyata Masuk Akal Secara Logis

Admin WGM - Monday, 09 February 2026 | 12:01 AM

Background
Membedah "Pamali": Ketika Mitos Nenek Moyang Ternyata Masuk Akal Secara Logis
(Stock.adobe.com/)

Pernahkah kamu dilarang orang tua makan di depan pintu karena katanya bisa "sulit dapat jodoh"? Atau mungkin dilarang memotong kuku di malam hari karena konon bisa membawa sial?

Di Indonesia, kita mengenalnya dengan istilah Pamali. Bagi sebagian orang, pamali sering dianggap sebagai takhayul kuno yang membatasi ruang gerak. Namun, jika kita telaah lebih dalam dengan kacamata modern, ternyata banyak pamali yang memiliki landasan logika yang sangat kuat, baik dari sisi keselamatan maupun kesehatan.

Mari kita bedah beberapa di antaranya, Winners!

1. "Jangan Makan di Depan Pintu, Nanti Jodohnya Jauh"

Mitosnya: Menghalangi jodoh datang. Logikanya: Pintu adalah akses utama keluar-masuk orang dan aliran udara. Makan di depan pintu tentu sangat mengganggu lalu lintas orang di rumah. Selain itu, dari sisi kebersihan, area pintu biasanya lebih berdebu dibandingkan meja makan. Jadi, ini sebenarnya soal etika dan kesantunan agar tidak menghalangi jalan orang lain.

2. "Jangan Memotong Kuku di Malam Hari"

Mitosnya: Bisa mengundang mahluk halus atau umur jadi pendek. Logikanya: Mari kita ingat, Winners, dulu belum ada lampu LED seterang sekarang. Memotong kuku di malam hari dengan pencahayaan minim (hanya pelita atau lilin) menggunakan alat potong yang tajam sangat berisiko melukai jari. Pamali ini diciptakan untuk mencegah cedera fisik akibat kurangnya cahaya.

3. "Jangan Duduk di Atas Bantal, Nanti Bisulan"

Mitosnya: Menyebabkan penyakit kulit (bisul) di bokong. Logikanya: Bantal adalah alas untuk kepala, sementara bokong adalah bagian tubuh yang sering kotor karena dipakai duduk di mana saja. Secara estetika dan kebersihan, menaruh bagian tubuh yang kotor di tempat yang seharusnya untuk wajah/kepala sangat tidak higienis. Ini adalah cara orang tua mengajarkan kita untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya.

4. "Jangan Menyapu Tidak Bersih, Nanti Suaminya Brewokan"

Mitosnya: Mendapatkan pasangan yang (dulu dianggap) kurang rapi. Logikanya: Ini adalah teknik psikologi orang tua zaman dulu agar anaknya disiplin. Jika menyapu tidak bersih, debu dan kotoran akan tertinggal di rumah, yang tentu tidak sehat bagi penghuninya. "Ancaman" tentang suami brewokan hanyalah cara agar si anak bekerja secara tuntas dan teliti.

5. "Jangan Keluar Saat Maghrib (Sandekala)"

Mitosnya: Diculik hantu atau mahluk halus. Logikanya: Maghrib adalah masa transisi dari terang ke gelap (rembang petang). Pada waktu ini, mata manusia butuh adaptasi terhadap perubahan cahaya, sehingga jarak pandang menjadi terbatas dan rawan terjadi kecelakaan. Selain itu, secara biologis, ini adalah waktu bagi tubuh untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas.

Ternyata, nenek moyang kita adalah pemikir yang sangat praktis ya, Winners? Mereka membungkus pesan keselamatan dan kesehatan dalam bentuk mitos atau pamali agar lebih mudah diingat dan dipatuhi oleh anak cucunya.

Jadi, sebelum kamu meremehkan sebuah larangan adat, coba pikirkan kembali: adakah pesan tersembunyi di baliknya yang sebenarnya bertujuan untuk kebaikan kita?